Minggu, 19 Juni 2016

Karakter Dasar Trading

Luangkan waktu 10 menit utk membaca dan meresapinya

Saya mau share hasil (tulis ulang) pengalaman dan observasi yg saya pelajari termasuk dr dua temen dekat yg berhasil di saham (dgn portfolio tembus Rp 1 triliun). Semoga apa yg saya rangkum ini dapat membantu di bisnis anda.

Ada 4 karakter dasar yg luar biasa dr temen2 saya yg berhasil.

1. GREAT COURAGE 
Keberanian luar biasa utk memeluk ketidakpastian atau risiko. Nekad tapi tdk gila krn sebelum memulai kita sdh membekali dgn ilmu yg cukup. (Sy sebut ilmu berenang, percuma baca buku teori 100 thn kl tdk berani cemplung ke air). Jd ini langkah kecil dr 1000 mil perjalanan. 

2. GREAT LOVE
Rasa suka yg luar biasa (punya passion atau roh dan jiwa) sampai serasa kita bermain dan bukan bekerja. Ini yg Saya sebut 无为 Wuwei (effortless / tanpa beban) seperti bersilat Taichi. Jd org tsb bs bekerja (serasa bermain/ tanpa usaha) sd malam tanpa merasa capek (exhausted). Berbeda dgn org yg hanya bekerja keras (berusaha) sj, besok pagi dia bs capek mental atau serasa berat bernafas. Ibarat anak kecil yg bermain piano krn suka (ada jiwanya) dan yg satu lg seperti robot (tdk ada jiwanya).
Anda tentu dgn JELAS dapat MEMBEDAKANNYA.

3. FOCUS
Krn yg dikerjakan ya itu2 saja tanpa bosan2, lama2 dia menjadi EXPERT (ahli). Jd utk menjadi kaya cukup 1 jurus....ini saja. Intuisinya makin  tajam. Jd kl ada yg bisnisnya lebih dr dua, kans utk sukses lebih minim.

4. WISDOM
Kebijakan utk bs melihat kesempatan dalam segala kondisi (saham, kurs, peluang bisnis dll) dan perubahan dunia yg tdk pasti dan tdk stabil. Anda hrs mengerti dunia saling bergantungan (Inter-dependence). 
Apa yg terjadi di tetangga jauh (terutama Amerika dan Cina) dapat berimbas ke kita. Dulu masalah sup-prime loan Amerika (padahal yg macet kredit mereka) tapi saham kita tiap hari jatuh amblas kebawah. Jd para fund manager waktu itu membuang saham negara berkembang yg belum jatuh (saling bergantungan). 

Sekarang FED mau menaikkan suku bunga dan Anda bs lihat semua saham berguguran terutama yg hutang US dollar (tapi bs berkah utk yg ekspor).

Disamping itu, Anda jg harus mengerti RELATIVITAS. Saham perusahaan yg P/E ratio kecil, hutang kecil, manajemen yg dapat dipercaya, pemilik majority yg masih kaya secara RELATIF lebih unggul dr yg sebaliknya. 

Jgn sekali2 beli saham yg pemiliknya sdh jatuh miskin!!! Bahaya, mereka yg masih kaya saja mau 'ciak' Anda apalagi yg sudah jatuh miskin.


Krn sdh mengalami stress tdk bs tidur melihat jatuh bangkitnya saham sekian tahun, pengetahuan timbul utk dapat melihat hakikat ketidakpastian / ketidak-stabilan atau kerapuhan dari semua kejadian (Saya pinjam istillah Buddhis 'Anicca' yg artinya rapuh, tidak pasti atau tidak stabil). Pengetahuan ini membawa ketentraman dan kejernihan dalam proses berpikir, menganalisa saham atau melihat peluang. Anda tidak berdebat lg dgn diri sendiri lg "mestinya begini atau seharusnya begitu (capek deh)". Jd damai walaupun masih rugi 😁

Pilihah saham (atau pilihlah bisnis) yg : 

1. PROBABILITY atau kans naik/berhasilnya 80/20 (80%naik n 20%turun). Kl bisnisnya anda SUKA dan NGERTI, kansnya menjadi 80:20. Dan, timing atau kesempatan masuk/ keluar yg tepat (kembali lg kita bicara kans 80:20). Apa yg bagus thn ini dan bs 'cuan', thn depan belum tentu. Tiga empat tahun lalu, batu bara adalah favorit, sekarang justru dijauhi krn siklus ekonomi (hakikat Anicca).

2. IMPACTnya besar (rezeki duren runtuh). Artinya saham yg bs naik dua tiga kali lipat atau bisnis yg membuat kita kaya sekali. 

Kebijakan lain yg SANGAT PENTING (khusus investor Saham) adalah TIDAK BOLEH percaya TAKHYUL (sep. mimpi2, gelas pecah, ramalan nasib dll). Pikiran sendiripun tdk boleh percaya tanpa terlebih dahulu diinvestigasi. Kl timbul kekhawatiran, mulailah investigasi dgn pertanyaan yg simpel "Apa ini bener ? Anda yakin secara absolut ini masuk akal ?". Anda akan tahu jawabannya. Pikiran yg sering takut (tanpa kita sadari) mempengaruhi kejernihan dlm berpikir. Jd perlu 'eling'. Tapi lama2 kita bs punya intuisi (keputusan yg kita ambil dgn spontan tanpa melalui proses berpikir), seperti naik sepeda atau lg nyetir.

Kebijakan utk belajar memperbaiki diri, mengambil pelajaran dari kesalahan org lain dan diri sendiri ini juga penting (Sharpen the saw). 

NOTHING OVERMUCHS. Margin yg berlebihan pada saat siklus ekonomi turun berbahaya. Margin dipakai waktu siklus industri/ekonomi menanjak(atau tidak gunakan margin sama sekali).

Nah yg paling susah adalah mencari atau ketemu (kebetulan atau Jodoh) MESIN PENCETAK UANG kita (utk sy di saham). Saya sendiri jg tdk tahu sebelumnya saya akan pensiun di umur 40 thn krn saham. Tapi saya jelas menggemari bidang ini, terbukti dr gelar kualifikasi CFA (Chartered Financial Analyst) -- Sy lulus tanpa beban ujian 3 level yg sekali ujian 6 jam). 

Semoga temen2 ketemu (Jodoh) dan trus menggali apa kekuatan diri kita yg dapat membuat kita BERSINAR dan mengubahnya menjadi mesin PENCETAK UANG.

We can SHINE together😃

Semoga bermanfaat.
//Jonni A, CFA

God bless you all🙏


Technical Analysis Terbaik

Mencari Indikator TA Terbaik

Jika anda memutuskan untuk mempelajari lebih dalam mengenai trading saham, maka cepat atau lambat anda pasti akan mendengar mengenai ilmu yang dinamakan Technical Analysis. Bagi anda yang pertama kali mempelajari mengenai technical analysis ilmu ini kemungkinan akan membuat anda tercengang, karena anda akan melihat betapa mudah dan sederhananya cara untuk memprediksi pergerakan harga saham.
Namun setelah anda mempraktekannya, anda akan menemukan menggunakan analisa technical dalam trading ternyata jauh lebih sulit daripada teorinya. 

Anda akan menemukan bahwa ada begitu banyak cara untuk menganalisa technical. Dan setelah beberapa lama mempelajari analisa ini umumnya akan muncul satu pertanyaan di benak anda yaitu :
Indikator Technical Analysis apakah yang paling akurat ?!

Kebingungan ini umumnya muncul karena ada sangat banyak buku, training, workshop, indicator, dan system trading yang ditawarkan di berbagai media untuk para trader-trader pemula, masing-masing menjanjikan keuntungan yang sangat besar, seakan-akan hal-hal tersebut akan memberitahukan kepada kita saham apa yang akan naik, dan saham apa yang akan turun, kapan harus beli dan kapan harus jual.
Jadi banyak orang yang mengira ketika dia menemukan “Indikator Terbaik” maka kekayaan dan kesuksesan akan mengalir dengan sendirinya ke portfolio mereka, namun faktanya lebih banyak trader yang bangkrut dalam proses pencarian “indicator terbaik” tersebut. 

Sebagai trader yang masih cukup baru di market (angkatan 2008) pertanyaan yang sama juga pernah muncul di kepala saya beberapa tahun yang lalu. Untuk menemukan jawabannya saya banyak membaca, mengikuti seminar, dll.

Selain itu saya juga banyak bertanya dan mencoba mencari tahu ciri-ciri para pemain saham yang sudah sukses di market, baik di Indonesia atau di dunia. Saya ingin tahu indicator apa yang mereka pakai, atau pola analisa apa yang mereka pakai. Melalui proses “tanya sana-sini” dan “baca sana-sini”, berikut ini adalah jawaban-jawaban yang paling banyak saya dapatkan dari orang-orang hebat tersebut mengenai pemakaian Technical Analysis.

Di peringkat pertama : Simple is The Best

Jawaban yang paling banyak saya dapat adalah, “simple is the best”, artinya cara analisa technical yang paling dasar dan paling sederhana adalah yang paling banyak dipakai oleh para pemain yang sukses di market. Umumnya sebagian dari mereka mengunakan Classical Technical Analysis, hanya menganalisa dengan menarik-narik garis dan membaca pattern technical. Tanpa menggunakan berbagai indicator atau system yang canggih.


Di peringkat kedua: Popular Technical Indicator  

Jawaban yang kedua paling banyak adalah para trader yang menggunakan Indicator-indicator yang paling sederhana dan paling popular yang ada di market. Bollinger Band, MACD, Stochastic dan RSI adalah 4 indicator yang paling banyak dipakai. Saya tidak pernah benar-benar buat voting yang terukur secara jitu, namun seingat saya MACD adalah indicator favorit, biasanya di-combine dengan salah satu dari Stochastic / RSI. Bollinger Band juga cukup popular dan sering dikombinasikan dengan ketiga indicator di atas.

Di peringkat ketiga: Membuat System Trading Sendiri

Jawaban ini mungkin adalah yang paling “merepotkan” karena untuk memiliki system trading sendiri dibutuhkan skill dan pembelajaran yang panjang mengenai pola pergerakan harga, dan kebiasaan-kebiasaan yang sering terulang di market, trader seperti ini umumnya sudah melewati ratusan jam dalam menganalisa  untuk membuat indicator yang paling sesuai dengan gaya tradingnya, dan yang paling dipercaya oleh trader yang bersangkutan.

Menariknya dari ketiga jawaban teratas tersebut jawaban membeli system trading A atau B tidak masuk dalam 3 peringkat teratas. Hal itu disebabkan karena salah satu kunci sukses dari trading adalah memiliki keyakinan akan cara analisa yang kita miliki, sehingga lebih mudah bagi kita untuk disiplin dengan strategi trading yang kita buat daripada yang dibuat orang lain.

Jika kita hanya membeli  system trading yang sudah jadi, sering kali system tersebut terlalu rumit dan tidak dimengerti sepenuhnya oleh pemakai, atau tidak sesuai dengan gaya trading pemakainya. Sementara gaya trading umumnya dibentuk dari pengalaman trading dan karakter si pengguna, jadi kesimpulannya :

“Tidak ada indicator yang terbaik untuk SEMUA TRADER, tapi tentunya ada indicator yang terbaik untuk MASING-MASING TRADER.”

Jadi saya percaya jika kita ingin serius menjadi trader di pasar modal, kita harus mencari gaya analisa atau indicator yang paling sesuai dengan gaya trading kita. Untuk mendapatkan jawaban tersebut kita bisa lalui dengan banyak membaca buku, untuk lebih mengerti dasar-dasar Technical Analysis, dan tentunya melalui pengalaman trading dari hari ke hari.

Jika anda ingin memakai Popular Technical Indicator seperti MACD, Bollinger Band, RSI, Stochastic, saya sangat menyarankan untuk anda membaca buku-buku yang membahas secara mendalam indicator-indicator  tersebut. Saya rasa tidak cukup hanya mengerti cara pakai indicator tersebut melalui workshop basic atau advanced technical analysis, kita harus mendalami sendiri indicator yang kita pakai. Ada beberapa buku yang saya rekomendasikan untuk anda baca :

Technical Analysis for Megaprofit (Edianto Ong), bagi anda yang belum pernah membaca buku TA apapun, buku ini membahas dasar-dasar TA dan ditulis dalam Bahasa Indonesia yang mudah untuk dipahami, buku ini bisa anda beli di hampir setiap toko buku besar di Indonesia.

Untuk belajar lebih dalam terutama untuk mempelajari keempat indikator populer yang dibahas di atas, anda bisa membaca buku :  John J Murphy – Tech Analysis Of The Financial Markets dan John Bollinger – Bollinger On Bollinger Band. Kedua buku ini ditulis dalam Bahasa Inggris, dan dianggap buku wajib baca bagi setiap technical anaylst.  Anda bisa mendapatkan ebook dari kedua buku di atas disini.

Dan jika anda ingin belajar membuat system trading sendiri, anda harus memiliki Software Technical Analysis seperti Metastock atau Amibroker, setelah itu anda bisa belajar dengan mencari tutorial di internet mengenai cara membuat indicator, system trading dll. Jika anda punya uang lebih anda bisa mengikuti workshop yang mengajarkan hal-hal tersebut. Atau tentunya jika uang anda berlebih anda bisa mencoba satu-satu system technical analysis yang dijual dan umumnya memiliki harga yang cukup tinggi, semoga saja ada yang cocok dengan gaya trading dan karakter anda.

Intinya proses pembelajaran dan penerapan Technical Analysis adalah perjalanan panjang yang dibentuk dengan pengalaman menggunakan indicator-indicator yang bersangkutan, masing-masing akan menemukan cara analisa yang paling sesuai untuk dirinya sendiri, yang didapat melalui pengalaman dan karakter masing-masing.

(creative-traderdotcom)


Reccuring Revenue

Pentingnya Recurring Revenue

Ketika melakukan valuasi, kita akan memproyeksikan cash flow di masa mendatang dan mencari nilainya di masa kini. Artinya, tingkat keyakinan bahwa cash flow di masa mendatang sesuai dengan yang kita proyeksikan akan sangat menentukan tingkat akurasi dari valuasi yang kita lakukan.

Sebagai investor, kita tentu menginginkan memiliki perusahaan yang pendapatan dan labanya naik terus menerus secara konsisten. Dengan menggunakan spreadsheet, kita bisa dengan mudah mengetahui apakah secara historis, pendapatan dan laba perusahaan mudah untuk diprediksi. Lakukan regresi eksponensial dan lihat R-Square-nya. Semakin tinggi artinya semakin mudah untuk diprediksi.

Namun jika kita hendak mengetahui apakah pendapatan dan laba perusahaan akan mudah diprediksi atau tidak, kita tidak bisa hanya mengandalkan spreadsheet. Kita harus menggali lebih dalam lagi dengan mencari tahu apa saja sumber pendapatannya. Pada dasarnya terdapat dua jenis pendapatan: recurring (berulang) dan non-recurring (tidak berulang). Orang yang berlangganan surat kabar akan memberikan pendapatan yang berulang bagi surat kabar tersebut. Dalam bentuk lain, recurring revenue bisa berasal dari orang-orang yang secara rutin membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, pasta gigi, minyak goreng, dan lain sebagainya. Kita menyebutkan recurring revenue karena barang-barang yang dibeli umumnya cepat habis masa pakainya harus dibeli terus menerus.

Di sisi lain, penjualan mobil tidak bisa dikatakan sebagai recurring revenue. Jarang sekali orang membeli mobil secara rutin. Jika tahun lalu sebuah produsen mobil bisa menjual 100 unit mobil, untuk meningkatkan penjualan 5%, produsen tersebut harus menjual 105 unit mobil tahun ini. Hal serupa juga terjadi pada pengembang properti. Kemungkinan besar pembeli mereka di tahun depan tidak akan sama dengan pembeli mereka tahun ini. Satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan adalah baik produsen mobil maupun pengembang perumahan harus menerima kenyataan bahwa pesaing dari produk mereka sebagian adalah produk mereka sendiri yang mereka produksi sebelumnya. Rumah atau mobil yang telah dibeli bisa dijual kembali dan bersaing dengan rumah dan mobil yang baru diproduksi. Hal ini menjadi dilema bagi para produsen. Semakin besar ia membanjiri pasar, semakin besar jumlah pesaing mereka di masa mendatang.

Kita akan menemui hal yang berbeda penerbit surat kabar. Jika tahun lalu mereka bisa memiliki 100 pelanggan surat kabar, untuk meningkatkan penjualan 5% ia cukup mencari 5% pelanggan baru.

Secara intuitif, kita bisa menebak bahwa pertumbuhan penjualan perusahaan yang memiliki porsi recurring revenue besar akan cenderung lebih stabil dibandingkan perusahaan yang porsi recurring revenue-nya kecil. Berdasarkan pemikiran tersebut jugalah sekarang mulai banyak pengembang properti yang berusaha memperbesar porsi recurring revenue melalui sistem penyewaan dan bukan jual putus. Sebagai contoh, PWON yang memiliki recurring revenue 43% akan cukup tahan terhadap dampak dari kenaikan suku bunga. Para pengembang prooperti yang hanya mengandalkan penjualan rumah baru akan mengalami masa-masa yang sulit manakala suku bunga naik yang mengakibatkan konsumen menunda pembelian rumah.

(parahitadotwordpressdotcom)

Stop Loss Start Profit

Stop Loss Start Profit

Kami rasa semua yang berinvestasi di bursa saham adalah yang ingin mendapat keuntungan. Tidak ada yang masuk bursa harapannya ingin rugi. Jadi dari awal kita harus menanamkan ke diri kita untuk stop loss dan start profit. 

Untuk berhenti rugi dan mulai mendapat untung bagaimana caranya? Apakah harus kuliah S5 ilmu finansial? Atau punya gelar banyak? Mungkin itu bisa membantu, tapi cara paling sederhana adalah meniru orang pasar. Berhenti menjual saham dalam keadaan rugi dan hanya jual saham kalau sudah untung. 

Kedengarannya sederhana, tapi prakteknya? Untuk berhenti menjual rugi maka kita tidak bisa memasang batas cutloss. Karena dengan melakukan cutloss hanya berdasarkan perubahan harga, ada kemungkinan besar kejadian ini akan muncul dan kita secara otomatis mengakui bahwa kita salah dan bersedia menjual rugi. Lakukan ini 50x maka kita akan bangkrut. 

Alasan lain jangan cutloss adalah biasanya situasi ini akan mempengaruhi mental kita. Setelah cutloss apa yang terjadi? Kita meragukan keputusan kita dan yang berikutnya kita akan masuk dengan jumlah lebih kecil. Setelah benar barulah kita masuk lebih besar. Dan situasi akan kembali seperti di atas. 

Dan jika kita sering cutloss, kita akhirnya melegalkan tindakan itu menjadi bagian dari diri kita. Akhirnya kita menjadi terbiasa cutloss. Bukankah semua kebiasaan kita selalu dimulai dari hal-hal kecil? Seperti kata Warren Buffet, tindakan kita biasanya terlalu kecil untuk diperhatikan sampai akhirnya menjadi rantai kebiasaan yang susah diputus. 

Supaya tidak jual rugi, tentu ada yang harus kita lakukan supaya mencegah itu terjadi. Dari awal persiapan kita haruslah matang. Beberapa persiapannya adalah : 

1. Membeli saham yang bagus
Alasannya jika kita membeli perusahaan yang sudah teruji, maka akan ada orang lain yang akan membelinya, dan ini akan mendorong harga naik. 

2. Membeli saham yang masih punya prospek
Alasannya adalah jika prospek perusahaan menjadi realita, maka valuasi perusahaan menjadi murah dan ini akan mendorong orang lain membeli. 

3. Membeli saham yang dikelola orang jujur
Alasannya adalah supaya tidak akan ada kejutan tidak menyenangkan yang membuat harga saham turun dalam. Percuma sektornya lagi bagus tapi manajemennya bobrok.

4. Membeli saham dalam kondisi terdiskon
Alasan ini yang paling penting, karena dengan ini jika kita salah melakukan analisa terhadap perusahaan yang ada, kita tidak membeli saham di harga paling tinggi, dan jika suatu hari kondisi menjadi lebih baik, pemulihan kita lebih cepat dibanding jika membeli di harga puncak. 

5. Membeli dengan uang nganggur
Alasan terakhir ini yang menggenapkan semuanya. Jika kita membeli dengan uang panas atau yang diperlukan untuk kebutuhan, maka ketika harga bergerak berlawanan dengan harapan, kita akan menjadi panik dan akhirnya menjual dengan harga diskon. Tidak ada yang bisa menjual sesuatu dengan harga pantas jika sudah kondisi Butuh Uang kan? 

Ini kondisi umum yang bisa dilakukan jika ingin membeli tanpa perlu cutloss dan ingin profit. Mengenai detilnya, semua kembali kepada diri kita sendiri, karena pada akhirnya yang menentukan nasib kita di bursa bukan pihak luar, tapi kita sendiri.

Bagaimana kalau setelah membeli dan harga saham masih turun? Bagi kami itu adalah kesempatan kedua. Contoh jika kita ingin membeli saham ABCD di harga 600, kalau turun ke 500, bukankah ini berarti untuk barang yang sama, kita bisa mendapat lebih murah dan lebih banyak. Mengapa harus kuatir? Yang perlu dilakukan adalah mengecek apakah barang itu kualitasnya masih sama atau tidak. 

Bagaimana kalau harga di 500 dan kita sudah tidak punya cash? Kita bisa melakukan tambahan dana dari uang yang sudah disiapkan, ingat tetap uang nganggur, atau menjual saham lain yang sudah naik tinggi. 

Bagaimana kalau harga di 500 dan porsi saham sudah cukup besar? Saat itulah kita harus berhenti dan mengatakan ini sudah cukup. Rasa cukup inilah yang akan menghentikan kita berbuat gila di investasi. Karena dengan rasa cukup, maka kita bisa tenang melewatkan karir investasi kita dengan kedamaian hati. 

Apa gunanya kedamaian hati padahal seharusnya investasi itu berbicara tentang profit? Tanpa kedamaian hati, kemungkinan kita melakukan kesalahan menjadi besar dan hidup kita bukan di bursa saja. Kita punya keluarga, teman, lingkungan, pekerjaan, usaha, hobi, yang semuanya akan kita hadapi. Tanpa kedamaian hati, kita akan bertindak agresif terhadap mereka karena efek rugi di saham. 

Dan pada akhirnya kedamaian hati adalah tujuan jangka panjang semua manusia. Karena itu, invest long, prosper, and be happy. (sahamindonesia)


CONSIDERATIONS FOR YOUR INVESTMENT

CONSIDERATIONS FOR YOUR INVESTMENT


1. ON EARNING:
Never depend on single income. Make investment to create a second chance.

2. ON SPENDING:
If you buy things you do not need, soon you will have to sell things you need.

3. ON SAVINGS:
Do not save what is left after spending, but spend what is left after saving.

4. ON TAKING RISK:
Never test the depth of a river with both feet.

5. ON INVESTMENT:
Do not put all eggs in one basket.

6. ON EXPECTATIONS:
Honesty is a very expensive gift. Do not expect it from cheap people.

7. Past is a waste paper, present is a newspaper, and future is a question paper. Come out of your past, control the present, and secure the future.

8. When bad things happen in your life, you have three choices. You can either let it define you, let it destroy you or you can let it strengthen you.

9. Our eyes are in the front because it is more important to look ahead than to look backwards.

10. We use pencil when we were young, but now we use pens. Do you know why? Because mistakes in childhood can easily be erased, unlike now.

Mitos di Bursa Saham

Mitos Di Bursa Saham

Anda boleh percaya boleh tidak, jika saya katakan masih banyak investor saham yang percaya mitos. Bukan hanya di sini, investor Amerika juga tidak terkecuali, seperti yang diamati Peter Lynch yang pernah dijuluki manajer investasi nomor wahid di dunia oleh majalah Time. Inilah beberapa mitos yang masih dialami sebagian investor kita.

Pertama, harga saham itu sudah turun begitu dalam, sehingga tidak mungkin turun lagi. Investor umumnya yakin, saham yang harganya telah merosot drastis, tidak akan turun lebih rendah lagi. Nyatanya belum tentu.

Contohnya, saham BEST, harganya merosot dari Rp 730 menjadi Rp 294 sepanjang tahun 2015 lalu. Kalau Anda percaya mitos ini dengan membeli saham itu pada harga Rp 294, Anda akan gigit jari karena harga masih saja turun menjadi Rp 197 pada 10 Februari lalu, sebelum berbalik ke Rp 278 akhir pekan lalu.

Kedua, nanti saja beli saham itu kalau harga mencapai titik terendah. Masalahnya, kita tidak pernah tahu harga terbawah sebuah saham. Persis seperti jingle iklan rokok di televisi beberapa tahun lalu, pada saat harga saham anjlok, investor hanya bisa bertanya, "How low can you go?"

Saham BUMI yang pernah dihargai Rp 8.500 pada Juli 2008, sehingga menjadikannya saham berkapitalisasi terbesar di bursa kita, harganya merosot menjadi sekitar Rp 500 hanya dalam enam bulan setelah itu.

Kemudian, harga naik lagi ke kisaran Rp 3.000 di sekitar tahun 2011. Memasuki tahun 2012, harga terus turun, hingga menyentuh harga terendah Rp 50 sejak Agustus 2015.

Menurut Lynch, menebak harga terendah sebuah saham yang sedang turun, mirip seperti menangkap pisau yang sedang jatuh. Pisau tidak didapat, tangan malah terluka.

Ketiga, saya tidak mau menjual rugi (cut loss) saham saya. Nanti saja kalau harganya kembali ke harga beli saya, baru saya jual. Mengetahui harga saham turun -naik, Anda boleh saja berprinsip seperti itu.

Sebagai investor individu, Anda bebas memutuskan apa saja untuk uang dan portofolio Anda. Harga saham mungkin saja kembali naik seperti harapan Anda. Tapi, siapa yang dapat memastikan hal itu terjadi dalam waktu dekat. Bagaimana kalau lima tahun lagi? Kalau fundamental perusahaan dan prospek industrinya jelek, sebaiknya Anda bersikap realistis dan berani cut loss.

Lihat bagaimana harga-harga saham batubara terus turun lima tahun terakhir ini. Saham perusahaan sebagus Indo Tambangraya Megah (ITMG), harus mengalami. Pernah berharga di atas Rp 50.000 lima tahun lalu, saham ini kemudian terjun bebas, hanya Rp 4.800 pada awal Februari lalu dan kini berada di Rp 7.200.

Mengaku salah dan bersedia menerima kerugian adalah sangat manusiawi dalam investasi saham. Harga saham dalam satu tahun bisa turun sampai -91% pada tahun 2015 (saham TAXI), yaitu dari Rp 1.170 menjadi hanya Rp 105.

Sadarlah, tidak ada investor saham yang tidak pernah mengalami kerugian. Semua investor pasti pernah salah pilih. Anda masih dinilai jago bermain saham, jika kesalahan pilih hanya 1 dari 5 saham atau 2 dari 5 saham.

Jangan pernah bermimpi pemilihan saham Anda akan selalu tepat. Karena itu, jangan takut melakukan cut loss. Manajer investasi sering dan harus melakukannya. Menjadi aneh jika perusahaan asuransi badan usaha milik negara (BUMN) dan juga dana pensiun (Dapen) BUMN tidak pernah dibolehkan menjual rugi.

Keempat, harga sahamnya sudah meroket tinggi, sehingga tidak mungkin naik lagi. Investor saham HMSP yang membeli pada harga Rp 70.000 per saham di pertengahan tahun 2015 dan menjual di harga Rp 90.000 sekitar tiga bulan, kemudian banyak yang menyesal ketika menyaksikan harga emiten tersebut mencapai Rp 105.000 per saham di awal tahun 2016.

Kelima, kalau harga saham sudah naik 50%, cepat-cepat merealisasikan keuntungan Anda. Mitos ini berlawanan dengan mitos ketiga. Jika percaya dua mitos ini, Anda masih memerlukan banyak jam terbang untuk menjadi investor piawai. Bukan apa-apa, menerapkan dua mitos ini, akan menyebabkan Anda membatasi keuntungan tetapi tidak membatasi kerugian.

Artinya, Anda siap menerima kerugian berapapun, tapi tidak siap mendapatkan return di atas 50%. Nyatanya, 13 saham di bursa kita pada tahun lalu, harganya naik tidak kurang dari 100% dalam setahun. Sekadar Anda ketahui, return rata-rata 20 saham top gainers di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 12,1%, adalah 145,9% (78,2% hingga 336,2%).

Keenam, belilah saham perusahaan bagus itu atau hindari saham perusahaan jelek itu. Ketika membeli saham di pasar modal, banyak investor gagal membedakan antara saham bagus dan perusahaan bagus.

Saham bagus tidak sama dengan perusahaan bagus. Saham yang bagus (good stocks) adalah saham berharga bagus atau saham yang menjanjikan return yang besar di masa depan. Sedangkan perusahaan bagus (good company) ukuran sederhananya adalah perusahaan yang mempunyai rating bagus, minimal triple B sebagai batas rating layak investasi.

Tip dari saya, dalam berinvestasi saham langsung, jangan ragu bertanya dan belajar kepada yang berpengalaman. Serta jangan malas untuk membaca dan mencari informasi.

Malu bertanya, rugi di kantong.

by : Budi Frensidy

Lho Kheng Hong

Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur

Lo Kheng HongNama Lo Kheng Hong bisa jadi tidak terlalu terkenal. Tetapi di kalangan investor dan kalangan hartawan, ia menjadi, pakar saham, sumber ilmu dan inspirasi tentang bagaimana menjadi kaya secara benar dari saham. Di kalangan investor ia dikenal sebagai Warren Buffet-nya Indonesia, merujuk ke orang terkaya dunia yang juga membangun asetnya dari lembaran saham. Lo Kheng Hong menjadi fenomenal dengan ucapannya bahwa ia ingin menjadi kaya sambal tidur.

Di lain waktu ia mengatakan bahwa jika ingin kaya, masuklah ke investasi pasar modal (saham). Tanpa mendirikan saham atau memiliki usaha, asetnya kini diperkirakan lebih Rp2,5 triliun!

Sebagai investor saham yang sukses, ia menikmati waktu yang lebih lowong untuk melakukan apa yang ia sukai, termasuk bepergian ke mancanegara. Menurutnya ada 5 hal yang tidak perlu dimilikinya yaitu: tidak punya kantor, tidak punya pelanggan, tidak punya karyawan, tidak punya bos, dan tidak punya hutang. Semua properti dibeli tunai tanpa menggunakan KPR.

Lalu siapa sebenarnya Lo Kheng Hong, dan bagaimana tipsnya dalam berinvestasi saham yang baik?

Lo Kheng Hong terlahir sebagi sulung dari tiga bersaudara, dari keluarga yang sederhana. Menyadari keterbatasan keluarganya, ia pun tidak kuliah di kampus mahal. Lo Kheng Hong memilih kampus sesuai kemampuan ekonominya. Tahun 1979 ia mulai kuliah di jurusan Sastra Inggris di Universitas Nasional Jakarta, sambil bekerja sebagai tata usaha di PT Overseas Express Bank (OEB). Ia ingat uang kuliahnya hanya Rp10 ribu.

Diusia 30 tahun, tepatnya tahun 1989 Lo Kheng Hong mulai mengenal dan belajar investasi saham. Ia masih ingat saham yang pertama dibelinya adalah saham PT Gajah Surya Multi Finance saat penawaran perdana (Initial Public Offering – IPO). Untuk mendapatkan saham tersebut, ia ikut antri di Gedung BNI, Jl. Hayam Wuruk, Jakarta. Mengapa membeli saham saat IPO? Rupanya Lo Kheng Hong sudah menganalisa, dan melihat ada saham yang sesaat setelah IPO nilainya bisa melonjak tinggi. Namun apa yang terjadi, saham yang dibelinya malah turun dan ia menjualnya rugi. Namun Lo Kheng Hong tidak surut, ia bertekad belajar tentang saham.

Tahun 1990, ia berpindah kerja ke Bank Ekonomi ditempatkan di bagian pemasaran. Setahun kemudian karirnya melesat menjadi kepala cabang. Selama itu pula ia belajar investasi saham secara otodidak. Buku-buku strategi investasi Warren Buffet dilahap habis. Bagi Lo Kheng Hong, ia memilih belajar dari Warren Buffet karena ia sudah terbukti sebagai orang yang kaya dari berinvestasi saham. Povestrtofolio sahamnya pun meningkat. Akhirnya di tahun 1996, setelah 17 berkarir di Bank Ekonomi, Lo Kheng Hong memutuskan berhenti bekerja agar bisa fokus sebagai investor saham.

Artikel terkait: Belajar Investasi Saham

Lalu apa sih yang mendorongnya memilih saham sebagai sumber penghidupan?

Menurut Lo Kheng Hong, saham sangat berpotensi membuat orang lebih kaya. Potensi keuntungannya jauh lebih besar dibanding investasi riil lainnya. Itulah sebabnya ia tidak tertarik berinvestasi emas atau properti, misalnya. Selain itu, investor saham memiliki waktu luang lebih banyak. Investor saham merupakan pemilik perusahaan, tetapi tidak perlu pusing mengelola perusahaan, mengurus karyawan, pelanggan.

“Saya juga tidak pernah membeli emas, karena emas tidak produktif. Jika kita simpan emas 1 kg, maka 10 tahun lagi tetap 1 kg. Dan saya juga tidak membeli dolar. Orang yang menyimpan dolar umumnya mengharapkan hal yang buruk terjadi, krisis ekonomi, negara tidak stabil, agar rupiah melemah dan dia memperoleh keuntungan,” ungkapnya kepada Majalah SWA.

Dengan demikian, investor sebagai sleeping partner suatu usaha bisa lebih leluasa menggunakan waktunya untuk melakukan hal-hal lain yang disukainya. Setiap hari ia melakukan apa yang disebutnya RTI: reading, thinking, dan investing. Ia membaca setidaknya 4 koran langganannya setiap hari, membuka website BEI, dan sumber informasi lainnya untuk menambah pengetahuan. Ia juga senang membaca buah pikiran Warren Buffet, sang investor idola.

Istilah sleeping partner inilah yang kemudian berkembang bahwa sebagai investor saham, uang bisa terus berkembang selama investornya tidur. Lo Kheng Hong menjelaskan bahwa yang bekerja keras di dalam perusahaan adalah karyawan, para manajer, dan direktur. Namun mereka hanya mendapatkan gaji dan bonus, tetapi tidak berhak menikmati keuntungan perusahaan.

Dengan prinsip ini, Lo Kheng Hong telah mengoleksi saham pilihan dari lebih 30 perusahaan. Salah satunya adalah saham perusahaan peternakan ayam PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) dimana kepemilikannya mencapai 8,28%. Ia mengaku sahamnya di perusahaan lain tidak lebih dari 5% dari total saham.

Pilihannya terhadap saham MBAI ternyata tepat. Lo Kheng Hong saham MBAI tahun 2005 seharga Rp250 per lembar saham. Ditahun 2011, atau 6 tahun kemudian, nilai saham MBAI sudah menjadi Rp31.500 per lembar, atau meningkat 12.500% hanya dalam tempo 6 tahun. Demikian juga dengan saham perusahaan pelayaran bernama PT Rig Tender Indonesia (RIGS) dibelinya dengan harga Rp800 per lembar saham. Satu setengah tahun kemudian Lo Kheng Hong menjualnya di posisi Rp1.350 per lembar.

Demikian juga dengan 850 juta lembar saham PT Panin Financial yang dibelinya di harga Rp100. Tidak lebih 1,5 tahun kemudian ia menjual saham tersebut di harga Rp260!

Tips Berinvestasi Saham

Lo Kheng Hong bukanlah tipe pedagang saham (trader) yang aktif melakukan jual beli saham setiap hari. Ia adalah tipe investor sejati, yaitu menanam duitnya dalam saham untuk jangka panjang. Baginya, investor jauh lebih menguntungkan dibanding menjadi trader. Hidup juga lebih nyaman, tidak perlu diburu nafsu setiap saat.

Tak urung kesuksesan Lo Kheng Hong di dunia investasi saham selalu menjadi inspirasi. Nasehat-nasehatnya selalu dinanti dan menjadi acuan menarik bagi banyak orang. Berikut adalah beberapa tips suksesnya dalam berinvestasi saham:

  • Belajar tidak akan pernah berhenti. Tidak ada orang yang terlalu pintar untuk menjadi investor. Investor berpengalaman juga masih bisa membuat keputusan keliru,
  • Saat menilai suatu perusahaan, terlebih dahulu perhatikan manajemen. Apakah perusahaan tersebut dipimpin oleh jajaran manajemen yang baik dan dikelola dengan professional,
  • Perhatikan PER (Price Earning Ratio). Ia menyarankan untuk memilih saham perusahaan yang PER-nya minimal lima.
  • Fundamental perusahaan merupakan faktor penting. Bagi Lo Kheng Hong, grafik-grafik teknikal diabaikannya karena sering menampilkan data yang tidak sebenarnya,
  • Saat tepat untuk masuk investasi saham adalah saat krisis atau saat harga saham lagi pada turun, dan menjualnya saat naik.

Apakah investasi Lo Kheng Hong juga pernah jatuh?

Investasi memang tidak selalu enak. Saham bisa turun naik, menantang jantung. Menurut Lo Kheng Hong, disaat saham tak menentu, disitulah terlihat investor yang sesungguhnya. Ia melihat, kebanyak investor hanya ikut-ikutan. Ramai-ramai masuk pasar, demikian juga kaburnya bareng-bareng. Padahal, keputusan investor yang benar bisa saja sebaliknya.

Prinsip investasinya mengacu pada prinsip Warren Buffet: “Be fearful when the other s are greedy, and be greedy when the others a fearful.” Makanya, berbeda dengan perilaku investor pada umumnya, ia tetap tenang saja dan tidak menjual saham sebuah perusahaan tambang batubara yang justru sedang kolaps.

Kisah lainnya, ia mengenang tahun 2008 saat membeli saham Petrokimia di posisi Rp200. Saham tersebut kemudian anjlok ke harga Rp60. Pada posisi ini kebanyakan orang akan panik dan melepas saham. Namun Lo Kheng Hong berbuat sebaliknya. Disaat saham tersebut jatuh, ia memborong lebih banyak lagi di harga murah. Benar saja, tidak lama kemudian saham Petrokimia naik ke Rp300.

Tentu saja Lo Kheng Hong tidak melupakan investasinya yang jatuh sewaktu krisis finansial tahun 1997-1998. Asetnya habis hingga uang tersisa hanya 15% saja. Namun hal itu tidak membuatnya kapok. Lo Kheng Hong menggunakan sisa uangnya untuk membeli saham, yang akhirnya sudah meningkat berlipat-lipat lebih 150.000%.

Dalam sebuah diskusi ada yang menanyakan, bila semua asetnya diinvestasikan darimana Lo Kheng Hong membiayai hidupnya. Ia menjawab bahwa deviden yang diterimanya, lebih dari cukup untuk itu.
(Sumber: SWA, Berita Satu, Liputan6, dll).