Minggu, 19 Juni 2016
CONSIDERATIONS FOR YOUR INVESTMENT
Mitos di Bursa Saham
Lho Kheng Hong
Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
Nama Lo Kheng Hong bisa jadi tidak terlalu terkenal. Tetapi di kalangan investor dan kalangan hartawan, ia menjadi, pakar saham, sumber ilmu dan inspirasi tentang bagaimana menjadi kaya secara benar dari saham. Di kalangan investor ia dikenal sebagai Warren Buffet-nya Indonesia, merujuk ke orang terkaya dunia yang juga membangun asetnya dari lembaran saham. Lo Kheng Hong menjadi fenomenal dengan ucapannya bahwa ia ingin menjadi kaya sambal tidur.
Di lain waktu ia mengatakan bahwa jika ingin kaya, masuklah ke investasi pasar modal (saham). Tanpa mendirikan saham atau memiliki usaha, asetnya kini diperkirakan lebih Rp2,5 triliun!
Sebagai investor saham yang sukses, ia menikmati waktu yang lebih lowong untuk melakukan apa yang ia sukai, termasuk bepergian ke mancanegara. Menurutnya ada 5 hal yang tidak perlu dimilikinya yaitu: tidak punya kantor, tidak punya pelanggan, tidak punya karyawan, tidak punya bos, dan tidak punya hutang. Semua properti dibeli tunai tanpa menggunakan KPR.
Lalu siapa sebenarnya Lo Kheng Hong, dan bagaimana tipsnya dalam berinvestasi saham yang baik?
Lo Kheng Hong terlahir sebagi sulung dari tiga bersaudara, dari keluarga yang sederhana. Menyadari keterbatasan keluarganya, ia pun tidak kuliah di kampus mahal. Lo Kheng Hong memilih kampus sesuai kemampuan ekonominya. Tahun 1979 ia mulai kuliah di jurusan Sastra Inggris di Universitas Nasional Jakarta, sambil bekerja sebagai tata usaha di PT Overseas Express Bank (OEB). Ia ingat uang kuliahnya hanya Rp10 ribu.
Diusia 30 tahun, tepatnya tahun 1989 Lo Kheng Hong mulai mengenal dan belajar investasi saham. Ia masih ingat saham yang pertama dibelinya adalah saham PT Gajah Surya Multi Finance saat penawaran perdana (Initial Public Offering – IPO). Untuk mendapatkan saham tersebut, ia ikut antri di Gedung BNI, Jl. Hayam Wuruk, Jakarta. Mengapa membeli saham saat IPO? Rupanya Lo Kheng Hong sudah menganalisa, dan melihat ada saham yang sesaat setelah IPO nilainya bisa melonjak tinggi. Namun apa yang terjadi, saham yang dibelinya malah turun dan ia menjualnya rugi. Namun Lo Kheng Hong tidak surut, ia bertekad belajar tentang saham.
Tahun 1990, ia berpindah kerja ke Bank Ekonomi ditempatkan di bagian pemasaran. Setahun kemudian karirnya melesat menjadi kepala cabang. Selama itu pula ia belajar investasi saham secara otodidak. Buku-buku strategi investasi Warren Buffet dilahap habis. Bagi Lo Kheng Hong, ia memilih belajar dari Warren Buffet karena ia sudah terbukti sebagai orang yang kaya dari berinvestasi saham. Povestrtofolio sahamnya pun meningkat. Akhirnya di tahun 1996, setelah 17 berkarir di Bank Ekonomi, Lo Kheng Hong memutuskan berhenti bekerja agar bisa fokus sebagai investor saham.
Artikel terkait: Belajar Investasi Saham
Lalu apa sih yang mendorongnya memilih saham sebagai sumber penghidupan?
Menurut Lo Kheng Hong, saham sangat berpotensi membuat orang lebih kaya. Potensi keuntungannya jauh lebih besar dibanding investasi riil lainnya. Itulah sebabnya ia tidak tertarik berinvestasi emas atau properti, misalnya. Selain itu, investor saham memiliki waktu luang lebih banyak. Investor saham merupakan pemilik perusahaan, tetapi tidak perlu pusing mengelola perusahaan, mengurus karyawan, pelanggan.
“Saya juga tidak pernah membeli emas, karena emas tidak produktif. Jika kita simpan emas 1 kg, maka 10 tahun lagi tetap 1 kg. Dan saya juga tidak membeli dolar. Orang yang menyimpan dolar umumnya mengharapkan hal yang buruk terjadi, krisis ekonomi, negara tidak stabil, agar rupiah melemah dan dia memperoleh keuntungan,” ungkapnya kepada Majalah SWA.
Dengan demikian, investor sebagai sleeping partner suatu usaha bisa lebih leluasa menggunakan waktunya untuk melakukan hal-hal lain yang disukainya. Setiap hari ia melakukan apa yang disebutnya RTI: reading, thinking, dan investing. Ia membaca setidaknya 4 koran langganannya setiap hari, membuka website BEI, dan sumber informasi lainnya untuk menambah pengetahuan. Ia juga senang membaca buah pikiran Warren Buffet, sang investor idola.
Istilah sleeping partner inilah yang kemudian berkembang bahwa sebagai investor saham, uang bisa terus berkembang selama investornya tidur. Lo Kheng Hong menjelaskan bahwa yang bekerja keras di dalam perusahaan adalah karyawan, para manajer, dan direktur. Namun mereka hanya mendapatkan gaji dan bonus, tetapi tidak berhak menikmati keuntungan perusahaan.
Dengan prinsip ini, Lo Kheng Hong telah mengoleksi saham pilihan dari lebih 30 perusahaan. Salah satunya adalah saham perusahaan peternakan ayam PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) dimana kepemilikannya mencapai 8,28%. Ia mengaku sahamnya di perusahaan lain tidak lebih dari 5% dari total saham.
Pilihannya terhadap saham MBAI ternyata tepat. Lo Kheng Hong saham MBAI tahun 2005 seharga Rp250 per lembar saham. Ditahun 2011, atau 6 tahun kemudian, nilai saham MBAI sudah menjadi Rp31.500 per lembar, atau meningkat 12.500% hanya dalam tempo 6 tahun. Demikian juga dengan saham perusahaan pelayaran bernama PT Rig Tender Indonesia (RIGS) dibelinya dengan harga Rp800 per lembar saham. Satu setengah tahun kemudian Lo Kheng Hong menjualnya di posisi Rp1.350 per lembar.
Demikian juga dengan 850 juta lembar saham PT Panin Financial yang dibelinya di harga Rp100. Tidak lebih 1,5 tahun kemudian ia menjual saham tersebut di harga Rp260!
Tips Berinvestasi Saham
Lo Kheng Hong bukanlah tipe pedagang saham (trader) yang aktif melakukan jual beli saham setiap hari. Ia adalah tipe investor sejati, yaitu menanam duitnya dalam saham untuk jangka panjang. Baginya, investor jauh lebih menguntungkan dibanding menjadi trader. Hidup juga lebih nyaman, tidak perlu diburu nafsu setiap saat.
Tak urung kesuksesan Lo Kheng Hong di dunia investasi saham selalu menjadi inspirasi. Nasehat-nasehatnya selalu dinanti dan menjadi acuan menarik bagi banyak orang. Berikut adalah beberapa tips suksesnya dalam berinvestasi saham:
- Belajar tidak akan pernah berhenti. Tidak ada orang yang terlalu pintar untuk menjadi investor. Investor berpengalaman juga masih bisa membuat keputusan keliru,
- Saat menilai suatu perusahaan, terlebih dahulu perhatikan manajemen. Apakah perusahaan tersebut dipimpin oleh jajaran manajemen yang baik dan dikelola dengan professional,
- Perhatikan PER (Price Earning Ratio). Ia menyarankan untuk memilih saham perusahaan yang PER-nya minimal lima.
- Fundamental perusahaan merupakan faktor penting. Bagi Lo Kheng Hong, grafik-grafik teknikal diabaikannya karena sering menampilkan data yang tidak sebenarnya,
- Saat tepat untuk masuk investasi saham adalah saat krisis atau saat harga saham lagi pada turun, dan menjualnya saat naik.
Apakah investasi Lo Kheng Hong juga pernah jatuh?
Investasi memang tidak selalu enak. Saham bisa turun naik, menantang jantung. Menurut Lo Kheng Hong, disaat saham tak menentu, disitulah terlihat investor yang sesungguhnya. Ia melihat, kebanyak investor hanya ikut-ikutan. Ramai-ramai masuk pasar, demikian juga kaburnya bareng-bareng. Padahal, keputusan investor yang benar bisa saja sebaliknya.
Prinsip investasinya mengacu pada prinsip Warren Buffet: “Be fearful when the other s are greedy, and be greedy when the others a fearful.” Makanya, berbeda dengan perilaku investor pada umumnya, ia tetap tenang saja dan tidak menjual saham sebuah perusahaan tambang batubara yang justru sedang kolaps.
Kisah lainnya, ia mengenang tahun 2008 saat membeli saham Petrokimia di posisi Rp200. Saham tersebut kemudian anjlok ke harga Rp60. Pada posisi ini kebanyakan orang akan panik dan melepas saham. Namun Lo Kheng Hong berbuat sebaliknya. Disaat saham tersebut jatuh, ia memborong lebih banyak lagi di harga murah. Benar saja, tidak lama kemudian saham Petrokimia naik ke Rp300.
Tentu saja Lo Kheng Hong tidak melupakan investasinya yang jatuh sewaktu krisis finansial tahun 1997-1998. Asetnya habis hingga uang tersisa hanya 15% saja. Namun hal itu tidak membuatnya kapok. Lo Kheng Hong menggunakan sisa uangnya untuk membeli saham, yang akhirnya sudah meningkat berlipat-lipat lebih 150.000%.
Dalam sebuah diskusi ada yang menanyakan, bila semua asetnya diinvestasikan darimana Lo Kheng Hong membiayai hidupnya. Ia menjawab bahwa deviden yang diterimanya, lebih dari cukup untuk itu.
(Sumber: SWA, Berita Satu, Liputan6, dll).
Minggu, 21 Desember 2014
Investasi
Investasi sering didefinisikan sebagai menempatkan uang atau modal demi hasil atau bunga dengan cara membeli properti, saham, obligasi dan lain-lain, namun secara umum investasi dapat di pahami sebagai meluangkan/memanfaatkan waktu, uang atau tenaga demi keuntungan/manfaat di masa datang. Jadi pada dasarnya investasi adalah "membeli" sesuatu yang diharapkan bisa "dijual kembali" di masa yang akan datang dengan nilai yang lebih tinggi.
Mengapa kita perlu berinvestasi? Ada banyak alasan untuk ini, salah satunya adalah persiapan masa depan sedini mungkin melalui persiapan perencanaan kebutuhan yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan saat ini. Seperti kita tahu, sejalan dengan waktu nilai mata uang bisa berkurang karena adanya inflasi, yaitu misalnya kenaikan harga barang dan jasa. Inflasi inilah salah satu alasan utama mengapa kita perlu berinvestasi, baik atas dana atau aset yang sudah ada atau yang akan kita miliki agar "nilai"-nya dapat dipertahankan dan tentu saja diharapkan meningkat.
Dari uraian diatas dapat di tarik 4 hal utama alasan berinvestasi yaitu:
- Adanya kebutuhan masa depan atau kebutuhan saat ini yang belum dapat terpenuhi.
- Adanya kebutuhan untuk melindungi nilai aset yang telah dimiliki.
- Adanya keinginan untuk menambah nilai aset yang sudah ada.
- Adanya inflasi.
Resiko merupakan bagian dari investasi, karena keadaan di masa depan yang juga tidak pasti dan tak dapat diprediksi secara akurat. Hasil investasi yang didapat bisa saja tidak sesuai dengan harapan, bahkan bisa berlawanan dan menghasilkan kerugian, karena seseorang tidak dapat sepenuhnya mengelak dari resiko yang ditimbulkan oleh ketidak pastian. Maka dalam konteks inilah investasi menjadi bagian dari kehidupan.
Secara sengaja maupun tidak orang selalu berinvestasi. Belajar, bekerja dan berbisnis bisa dipahami sebagai suatu investasi. Investasi dapat dilihat sebagai suatu proses menentukan pilihan, tidak hanya untuk menambah kekayaan tetapi juga mempertahankan dan melindungi apa yang sudah ada.
Jenis-jenis Investasi
- Tabungan dan depositoMemiliki tabungan di bank adalah cara investasi yang paling sederhana, praktis dan mudah, didukung dengan likuiditas dan kemudahan pengambilan sewaktu-waktu, bank juga relatif sangat aman, karena hingga kini simpanan di bank dijamin oleh pemerintah. Bank juga memberikan bunga, besar dari bunga tergantung pada jenis simpanan dengan prinsip semakin besar dan lama orang menyimpan dana di bank umumnya semakin besar pula bunganya.
Deposito sendiri mirip dengan tabungan namun dengan jangka waktu tertentu, bunga yang di tawarkan di deposito relatif lebih tinggi dari bunga tabungan, namun bila deposito diambil sebelum jangka waktunya maka akan dikenakan penalti. - ObligasiObligasi adalah surat hutang dengan jangka waktu tertentu. Obligasi dapat diterbitkan oleh perusahaan, pemerintah ataupun lembaga lainnya. Imbalan dari obligasi adalah modal pokok investasi plus kupon bunga. Kupon bunga ini besarnya sudah ditentukan sekian persen dan umumnya lebih tinggi dari suku bunga bank ataupun surat berharga lainya yang dianggap aman, mengingat resiko obligasi yang relatif lebih tinggi. Pembayaran kupon bunga dilakukan secara berkala, misalnya 3 bulan atau 6 bulan atau tahunan. Pembayaran pokok investasi sendiri dilakukan saat obligasi jatuh tempo, yaitu tanggal dimana obligasi habis masa berlakunya.
- SahamSaham merupakan bukti kepemilikan (ekuitas), bukan surat utang. Membeli saham berarti memiliki sebagian dari perusahaan, artinya juga anda berbagi resiko dengan emiten (penerbit saham). Bila emiten mendapat laba, sebagian akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.
- Membuka usaha baruMembuka usaha baru juga merupakan bentuk dari investasi. Alasan mengapa orang membuka usaha baru, selain potensi hasil yang tak terhingga juga bisa agar bisa melakukan pekerjaan yang benar-benar disukai, mengembangkan kreativitas individual dan juga mencapai kemandirian finansial. Perlu diingat bahwa resiko membuka usaha baru relatif besar, kerugian usaha bisa sampai pada kebangkrutan yang bisa lebih dari menghabiskan modal. Selain itu dibutuhkan juga dedikasi waktu, ketrampilan, keseriusan, determinasi dan mungkin juga bakat.
- PropertiSalah satu pilihan yang relatif aman, selama tidak ada resiko gejolak politik maka rumah/tanah tak akan berkurang. Juga potensi hasil investasinya yang berupa nilai jual yang terus meningkat dan hasil dari sewa. Berinvestasi di properti memerlukan jumlah dana relatif besar dan juga komitmen jangka panjang, karena meski nilainya akan terus meningkat, kendala likuiditas yaitu penjualan kembali properti yang tidak mudah dan memakan waktu lama.
- Logam MuliaPembelian perhiasan seperti emas juga bisa menjadi sarana investasi, selain bisa dijual kembali dengan relatif mudah, harga emas juga terus meningkat dari waktu ke waktu, walaupun harga jualnya lebih rendah ada nilai guna yang telah dipakai. Pembelian emas juga melindungi dari depresiasi mata uang, karena harga emas meningkat seiring dengan inflasi hal ini mirip dengan menyimpan dana dalam bentuk valuta asing, keduanya sama-sama melindungi dari resiko penurunan nilai mata uang.
- KolektibelInvestasi dalam bentuk benda-benda koleksi seperti karya seni, meskipun banyak pertimbangan non-ekonomi dalam investasi dibidang ini, namun perlu diingat bahwa nilai untuk barang kolektibel meskipun cenderung naik tapi tak terukur, dan juga kendala likuiditas dimana sulit menjual kembali dan memperkirakan nilai jualnya.
- Pasar BerjangkaPasar ini muncul dari timbulnya transaksi forward, yaitu transaksi dilakukan hari ini tetapi pembayaran dan penyerahan komoditas dilakukan di kemudian hari yang telah ditetapkan. Transaksi ini melindungi pembeli dan penjual dari fluktuasi harga yang tidak diharapkan. Perbedaan waktu antara transaksi dengan penyerahan komoditas yang bisa sampai berbulan-bulan dimanfaatkan oleh para spekulan untuk memperdagangkan kontrak forward tersebut. Spekulan ini tidak memproduksi /mengkonsumsi produk tersebut, kontrak diperdagangkan dengan harapan keuntungan dari fluktuasi harga dimasa datang akibat perubahan pasokan. Pasar berjangka ini semula hanya diproduk komoditas, namun kemudian meluas ke pasar modal, pasar uang dan valas.
- Reksa DanaBagi seseorang yang ingin investasi di pasar uang atau pasar modal tetapi tidak mempunyai keahlian atau tidak mempunyai waktu dapat berinvestasi di reksa dana. Reksa dana adalah wadah yang menghimpun dana dari para investor untuk kemudian dikelola oleh Manajer Investasi ke berbagai instrumen investasi. Instrumen investasi yang bisa dipilih ada bermacam-macam misalnya obligasi, saham atau campuran antara obligasi dan saham. Selain itu reksa dana berbasis instrumen hutang jangka pendek yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun yaitu reksa dana pasar uang.
Indeks
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Menggunakan semua Perusahaan Tercatat sebagai komponen perhitungan Indeks. Agar IHSG dapat menggambarkan keadaan pasar yang wajar, Bursa Efek Indonesia berwenang mengeluarkan dan atau tidak memasukkan satu atau beberapa Perusahaan Tercatat dari perhitungan IHSG. Dasar pertimbangannya antara lain, jika jumlah saham Perusahaan Tercatat tersebut yang dimiliki oleh publik (free float) relatif kecil sementara kapitalisasi pasarnya cukup besar, sehingga perubahan harga saham Perusahaan Tercatat tersebut berpotensi mempengaruhi kewajaran pergerakan IHSG.IHSG adalah milik Bursa Efek Indonesia. Bursa Efek Indonesia tidak bertanggung jawab atas produk yang diterbitkan oleh pengguna yang mempergunakan IHSG sebagai acuan (benchmark). Bursa Efek Indonesia juga tidak bertanggung jawab dalam bentuk apapun atas keputusan investasi yang dilakukan oleh siapapun Pihak yang menggunakan IHSG sebagai acuan (benchmark). - Indeks Sektoral
Menggunakan semua Perusahaan Tercatat yang termasuk dalam masing-masing sektor. Sekarang ini ada 10 sektor yang ada di BEI yaitu sektor Pertanian, Pertambangan, Industri Dasar, Aneka Industri, Barang Konsumsi, Properti, Infrastruktur, Keuangan, Perdangangan dan Jasa, dan Manufatur.
- Indeks LQ45Indeks yang terdiri dari 45 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Review dan penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan.
Unduh Metodologi Perhitungan Indeks LQ45
- Jakarta Islmic Index (JII)Indeks yang menggunakan 30 saham yang dipilih dari saham-saham yang masuk dalam kriteria syariah (Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Bapepam-LK) dengan mempertimbangkan kapitalisasi pasar dan likuiditas.
- Indeks Kompas100Indeks yang terdiri dari 100 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Review dan penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan.
- Indeks BISNIS-27Kerja sama antara Bursa Efek Indonesia dengan harian Bisnis Indonesia meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama Indeks BISNIS-27. Indeks yang terdiri dari 27 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan kriteria fundamental, teknikal atau likuiditas transaksi dan Akuntabilitas dan tata kelola perusahaan.
- Indeks PEFINDO25Kerja sama antara Bursa Efek Indonesia dengan lembaga rating PEFINDO meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama Indeks PEFINDO25. Indeks ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan informasi bagi pemodal khususnya untuk saham-saham emiten kecil dan menengah (Small Medium Enterprises / SME). Indeks ini terdiri dari 25 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria seperti: Total Aset, tingkat pengembalian modal (Return on Equity / ROE) dan opini akuntan publik. Selain kriteria tersebut di atas, diperhatikan juga faktor likuiditas dan jumlah saham yang dimiliki publik.
- Indeks SRI-KEHATIIndeks ini dibentuk atas kerja sama antara Bursa Efek Indonesia dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). SRI adalah kependekan dari Sustainable Responsible INVESTMENT
. Indeks ini diharapkan memberi tambahan informasi kepada investor yang ingin berinvestasi pada emiten-emiten yang memiliki kinerja sangat baik dalam mendorong usaha berkelanjutan, serta memiliki kesadaran terhadap lingkungan dan menjalankan tata kelola perusahaan yang baik.
Indeks ini terdiri dari 25 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih dengan mempertimbangkan kriteri-kriteria seperti: Total Aset, Price Earning Ratio(PER) dan Free Float.
- Indeks Papan UtamaMenggunakan saham-saham Perusahaan Tercatat yang masuk dalam Papan Utama.
- Indeks Papan PengembanganMengguanakn saham-saham Perusahaan Tercatat yang masuk dalam Papan Pengembangan.
- Indeks IndividualIndeks harga saham masing-masing Perusahaan Tercatat.
- Sebagai barometer dalam melihat perubahan yang terjadi di pasar obligasi
- Sebagai alat analisa teknikal untuk pasar obligasi pemerintah
- Benchmark dalam mengukur kinerja portofolio obligasi
- Analisa pengembangan instrumen Surat Berharga Negara (SBN).
- Obligasi Negara dengan mata uang rupiah dan memiliki kupon berbunga tetap
- Sisa jangka waktu jatuh tempo sekurang-kurangnya 1 tahun
- Sub-grup 1 : 1 Tahun ≤ Time to maturity < 5 Tahun
- Sub-grup 2 : 5 Tahun ≤ Time to maturity < 7 Tahun
- Sub-grup 3 : 7 Tahun ≤ Time to maturity
Exchange Traded Fund (ETF)
Fitur
|
ETF
|
Reksa Dana Open - Ended
|
| Perdagangan | Diperdagangkan di Bursa Efek selama jam bursa | Melalui MI atau Agen Penjual |
| Minimum Investasi | Tidak ada | Bervariasi (masing-masing RD) |
| Harga | Khusus Reksa Dana ETF LQ45 mengikuti trend kenaikan / penurunan indeks LQ45 & juga terdapat premium / discount atas Bid / Offer untuk disesuaikan dengan permintaan pasar | Ditentukan oleh NAB RD |
| Pengumuman Harga | Ditampilkan secara berkesinambungan oleh Bursa Efek selama jam perdagangan | Diumumkan satu kali oleh MI berdasarkan perhitungan NAB |
| Market Making | Hampir semua ETF mempunyai market maker (Liquidity Provider) | Tidak ada |
| Efek Derivatif | Beberapa ETF memiliki option dan atau futures atas underlying berupa indeks atau ETF itu sendiri | Tidak ada |
| No. | ETF (INDEKS LQ45) |
| 1. | Unit Penyertaan (UP) diperdagangkan di BEI (lebih likuid) |
| 2. | Subscription & Redemption hanya diperbolehkan untuk Dealer Partisipan dan Sponsor |
| 3. | Gangguan Redemption yang dapat mempengaruhi NAB jauh lebih kecil |
| 4. | Portfolio dalam saham lebih transparan (saham LQ45) |
| 5. | Trend kenaikan NAB mengikuti trend kenaikan indeks LQ45 |
| 6. | Minimum jumlah investasi nasabah jauh lebih kecil (1 lot saham = sekitar Rp 500 ribu) |
Reksadana
Umumnya, Reksa Dana diartikan sebagai Wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya di investasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.
Mengacu kepada Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat (27) didefinisikan bahwa Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.
Ada tiga hal yang terkait dari definisi tersebut yaitu, Pertama, adanya dana dari masyarakat pemodal. Kedua, dana tersebut diinvestasikan dalam portofolio efek, dan Ketiga, dana tersebut dikelola oleh manajer investasi.
Dengan demikian, dana yang ada dalam Reksa Dana merupakan dana bersama para pemodal, sedangkan manajer investasi adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola dana tersebut.
Manfaat yang diperoleh pemodal jika melakukan investasi dalam Reksa Dana, antara lain:
Pertama, pemodal walaupun tidak memiliki dana yang cukup besar dapat melakukan diversifikasi investasi dalam Efek, sehingga dapat memperkecil risiko. Sebagai contoh, seorang pemodal dengan dana terbatas dapat memiliki portfolio obligasi, yang tidak mungkin dilakukan jika tidak tidak memiliki dana besar. Dengan Reksa Dana, maka akan terkumpul dana dalam jumlah yang besar sehingga akan memudahkan diversifikasi baik untuk instrumen di pasar modal maupun pasar uang, artinya investasi dilakukan pada berbagai jenis instrumen seperti deposito, saham, obligasi.
Kedua, Reksa Dana mempermudah pemodal untuk melakukan investasi di pasar modal. Menentukan saham-saham yang baik untuk dibeli bukanlah pekerjaan yang mudah, namun memerlukan pengetahuan dan keahlian tersendiri, dimana tidak semua pemodal memiliki pengetahuan tersebut.
Ketiga, Efisiensi waktu. Dengan melakukan investasi pada Reksa Dana dimana dana tersebut dikelola oleh manajer investasi profesional, maka pemodal tidak perlu repot-repot untuk memantau kinerja investasinya karena hal tersebut telah dialihkan kepada manajer investasi tersebut.
Seperti halnya wahana investasi lainnya, disamping mendatangkan berbagai peluang keuntungan, Reksa Dana pun mengandung berbagai peluang risiko, antara lain:
- Risko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan.
Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari Efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portfolio Reksa Dana tersebut. - Risiko Likuiditas
Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh Manajer Investasi jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya. Manajer Investasi kesulitan dalam menyediakan uang tunai atas redemption tersebut. - Risiko Wanprestasi
Risiko ini merupakan risiko terburuk, dimana risiko ini dapat timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan Reksa Dana tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti wanprestasi dari pihak-pihak yang terkait dengan Reksa Dana, pialang, bank kustodian, agen pembayaran, atau bencana alam, yang dapat menyebabkan penurunan NAB (Nilai Aktiva Bersih) Reksa Dana.
- Reksa Dana Pasar Uang (Moner Market Funds). Reksa Dana jenis ini hanya melakukan investasi pada Efek bersifat Utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal.
- Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income Funds). Reksa Dana jenis ini melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat Utang. Reksa Dana ini memiliki risiko yang relatif lebih besar dari Reksa Dana Pasar Uang. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil.
- Reksa Dana Saham (Equity Funds). Reksa dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat Ekuitas. Karena investasinya dilakukan pada saham, maka risikonya lebih tinggi dari dua jenis Reksa Dana sebelumnya namun menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi.
- Reksa Dana Campuran. Reksa Dana jenis ini melakukan investasi dalam Efek bersifat Ekuitas dan Efek bersifat Utang.