Kisah inspirasi investasi saham (lainnya)
JAKARTA - Pemiliki 28 saham yang tak satupun merupakan emiten bluechip, Sukarto Bujung (48) justru menangguk keuntungan besar dari investasi saham selama 20 tahun terakhir. Bahkan, satu dua saham dikoleksinya secara perlahan hingga lebih dari 5% dari total saham yang beredar dan terus digenggam selama belasan tahun.
“Bisnis apa yang enak dan tidak pusing buat saya adalah investasi saham. Saya kan punya bisnis riil juga, ribet dengan pegawai, distributor sampai didemo warga,” tutur Sukarto terkekeh mengenang perjalanan sebagai investor saham perorangan sejak 1996.
Saham paling hoki yang pernah digenggamnya adalah PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI). Membeli saat harga kurang dari Rp200 per lembar, dan enam tahun kemudian pada 2013 menjualnya di harga Rp1.700. “Dari modal miliar, saya mendapatkan Rp37 miliar untuk 6% saham yang dilepas.”
Kini saham MREI diperdagangkan pada level Rp6.600. Jadi bisa dibayangkan betapa lebih hoki Sukarto bila tetap mengoleksi saham perusahaan tersebut.
Namun itu telah berlalu, menurutnya sebagian uang hasil investasi ‘digulung’ kembali menjadi saham lain yang dipilih secara cermat.
Terakhir, pria yang saat ini menjadi Direktur Utama PT Buyung Poetra Sembada (BPS), perusahaan pengolahan dan perdagangan beras merek Topi Koki, melepas 8% saham PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) di level Rp410 per lembar setelah tiga tahun lalu dibelinya seharga Rp210 melalui program buyback perusahaan.
“Main saham itu tidak bisa diajarkan. Saya sih pakai feeling, tapi tetap baca fundamental perusahaan yang mau kita beli kayak apa,” tutur pria yang mengaku pembaca setia Bisnis Indonesia sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ini.
Sukarto juga menggunakan trik mengenal produk perusahaan yang yang hendak dibeli dan reputasi pemilik perusahaan. Seperti saat dia membeli saham PT Metrodata Electronics Tbk, (MTDL) karena sejak sekolah telah menggunakan produk komputer IBM dan printer merek Epson, selain juga karena unsur kepercayaan terhadap Ciputra, yang menjadi salah satu pemegang saham utama.
Kini, Sukarto telah menguasai 7% saham di MDTL dan mengaku senang karena perusahaan ini rajin membagi dividen dan saham bonus. Metrodata adalah satu dari dua saham dengan porsi terbesar yang kini dikoleksinya, selain PT Multi Indocitra Tbk (MICE), perusahaan kosmetik pengelola merek Pigeon di Indonesia.
Dari berinvestasi saham dengan horison jangka panjang itulah, Sukarto mengaku tak perlu pusing dengan fluktuasi harga saham harian. “Kalo ngurusin pergerakan tiap hari, saya nggak bisa berlibur dong. ”
Namun, kisah manis berinvestasi saham ini bukanlah tanpa cerita pahit sebelumnya. Pertama kali mengenal saham, Sukarto memilih transaksi margin, di mana dengan modal tertentu bisa bertransaksi saham hingga 10 kali lipat. Hasilnya, pada 1998 dia merugi hingga Rp1,5 miliar.
Padahal ketika itu Sukarto bertransaksi secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang istri, Elly T, yang baru dinikahinya. “Jam 10 malam, saya bilang ke istri ada masalah. Saya ajak dia keliling tol dalam kota hingga 2 kali putaran untuk cerita. Lalu saya minta tolong orang tua dan mertua bantu bayar utang.”
TIDAK JERA
Rugi besar itu ternyata hanya membuatnya jera selama 1 tahun. Sukarto muda masih penasaran dengan investasi pasar modal, secara perlahan mengoleksi saham sejumlah perusahaan untuk jangka panjang. Lagi-lagi, untuk urusan ini dia tidak memberitahu istrinya sampai 2015.
“Istri saya mengira, hasil yang saya bawa pulang adalah untung dari beberapa perusahaan yang kami miliki. Padahal sebagian besar dari untung saham, dan saya jual perusahaan-perusahan itu karena mau konsentrasi membawa Buyung Poetra Sembada IPO,” tuturnya.
Sukarto menggunakan jasa PT Harita Kencana Securities untuk transaksi jual beli saham. Direktur Harita Securities Janny Tanjung mengatakan Sukarto telah menjadi kliennya sejak 1998. “Dia tipe investor yang teliti, tidak asal invest, selalu pelajari dahulu fundamental emiten. Jadi tidak asal beli.”
Janny mengaku kliennya tersebut termasuk tipe investor yang berhati-hati, termasuk tidak mudah terpengaruh rumor.
Atau isu-isu emiten di pasar. “Kami menangani berbagai tipe investor, dan pak Sukarto ini orang yang sabar, kalo beli saham tidak tergesa-gesa, menjualnya kembali setelah sekian lama dipegang.”
Setelah malang melintang selama 20 tahun sebagai investor saham, Sukarto berniat membawa perusahaan yang dipimpinnya melalukan penawaran umum saham perdana (initial public offering).
Dia memang berasal dari keluarga pedagang, melalui sang ayah, Bujung, yang mulai berdagang beras pada 1977 di Palembang dengan nama Toko Bujung.
Pada 2003, Sukarto mulai berdagang beras di Jakarta, tepatnya di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur. Sejak 2 tahun lalu, pria lulusan Akuntansi, Universitas Tarumanegara, didorong oleh teman-teman membawa BPS melantai di Bursa Efek Indonesia sebagai perusahaan publik. “Mereka bilang, Anda suka beli saham perusahaan lain, mengapa Anda tidak menjual saham perusahaan sendiri?”
Dia mengaku ingin serius menggarap bisnis riil. Beras adalah bisnis riil, bisa dilakukan, bisa dimakan. Sebagai tradisi keluarga, dia mengklain sudah memahami dengan baik bisnis ini, apalagi beras adalah kebutuhan utama dalam kehidupan manusia dengan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia 28 juta ton per tahun atau 144 kilogram per kapita.
Namun, sebagaimana awal-awal mengenal saham melalui transaksi saham, Sukarto kembali salah perhitungan. Upaya BPS melepas saham ke publik mengalami hambatan karena respons pasar yang minim pada akhir 2015. Upaya melepas 30% atau 710 juta saham baru pun tertunda.
Padahal, pendaftaran ke Otoritas Jasa Keuangan sudah dilakukan, paparan publik juga sudah digelar. Waktu penawaran sempit, serta momentum yang kurang pas, dianggap sebagai sebab utama penundaan aksi korporasi tersebut.
Bukan Sukarto bila patah arah di tengah jalan. Buktinya, manajemen BPS tengah menunggu proses audit laporan keuangan oleh auditor baru yakni Crowe Horwarth. Setelah beres, rencananya perseroan akan mendaftarkan rencana itu kembali ke Otoritas Jasa Keuangan sehingga bisa melakukan IPO pada kuartal IV/2016 atau paling lambat awal 2017.
“Kami belajar banyak atas penundaan ini. Kami diskusikan kembali dengan penjamin emisi, termasuk calon pembeli siaga dari dalam dan luar negeri. Kami ingin saham ini dimiliki oleh publik, dan memberi manfaat bagi kemajuan perusahaan,” tuturnya, tentang jalur cadas dan berliku yang kini dipilih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar