Minggu, 19 Juni 2016

Sukarto Buyung

Kisah inspirasi investasi saham (lainnya)
JAKARTA - Pemiliki 28 saham yang tak satupun merupakan emiten bluechip, Sukarto Bujung (48) justru menangguk keuntungan besar dari investasi saham selama 20 tahun terakhir. Bahkan, satu dua saham dikoleksinya secara perlahan hingga lebih dari 5% dari total saham yang beredar dan terus digenggam selama belasan tahun.
“Bisnis apa yang enak dan tidak pusing buat saya adalah investasi saham. Saya kan punya bisnis riil juga, ribet dengan pegawai, distributor sampai didemo warga,” tutur Sukarto terkekeh mengenang perjalanan sebagai investor saham perorangan sejak 1996.
Saham paling hoki yang pernah digenggamnya adalah PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI). Membeli saat harga kurang dari Rp200 per lembar, dan enam tahun kemudian pada 2013 menjualnya di harga Rp1.700. “Dari modal miliar, saya mendapatkan Rp37 miliar untuk 6% saham yang dilepas.”
Kini saham MREI diperdagangkan pada level Rp6.600. Jadi bisa dibayangkan betapa lebih hoki Sukarto bila tetap mengoleksi saham perusahaan tersebut.
Namun itu telah berlalu, menurutnya sebagian uang hasil investasi ‘digulung’ kembali menjadi saham lain yang dipilih secara cermat.
Terakhir, pria yang saat ini menjadi Direktur Utama PT Buyung Poetra Sembada (BPS), perusahaan pengolahan dan perdagangan beras merek Topi Koki, melepas 8% saham PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) di level Rp410 per lembar setelah tiga tahun lalu dibelinya seharga Rp210 melalui program buyback perusahaan.
“Main saham itu tidak bisa diajarkan. Saya sih pakai feeling, tapi tetap baca fundamental perusahaan yang mau kita beli kayak apa,” tutur pria yang mengaku pembaca setia Bisnis Indonesia sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ini.
Sukarto juga menggunakan trik mengenal produk perusahaan yang yang hendak dibeli dan reputasi pemilik perusahaan. Seperti saat dia membeli saham PT Metrodata Electronics Tbk, (MTDL) karena sejak sekolah telah menggunakan produk komputer IBM dan printer merek Epson, selain juga karena unsur kepercayaan terhadap Ciputra, yang menjadi salah satu pemegang saham utama.
Kini, Sukarto telah menguasai 7% saham di MDTL dan mengaku senang karena perusahaan ini rajin membagi dividen dan saham bonus. Metrodata adalah satu dari dua saham dengan porsi terbesar yang kini dikoleksinya, selain PT Multi Indocitra Tbk (MICE), perusahaan kosmetik pengelola merek Pigeon di Indonesia.
Dari berinvestasi saham dengan horison jangka panjang itulah, Sukarto mengaku tak perlu pusing dengan fluktuasi harga saham harian. “Kalo ngurusin pergerakan tiap hari, saya nggak bisa berlibur dong. ”
Namun, kisah manis berinvestasi saham ini bukanlah tanpa cerita pahit sebelumnya. Pertama kali mengenal saham, Sukarto memilih transaksi margin, di mana dengan modal tertentu bisa bertransaksi saham hingga 10 kali lipat. Hasilnya, pada 1998 dia merugi hingga Rp1,5 miliar.
Padahal ketika itu Sukarto bertransaksi secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang istri, Elly T, yang baru dinikahinya. “Jam 10 malam, saya bilang ke istri ada masalah. Saya ajak dia keliling tol dalam kota hingga 2 kali putaran untuk cerita. Lalu saya minta tolong orang tua dan mertua bantu bayar utang.”

TIDAK JERA

Rugi besar itu ternyata hanya membuatnya jera selama 1 tahun. Sukarto muda masih penasaran dengan investasi pasar modal, secara perlahan mengoleksi saham sejumlah perusahaan untuk jangka panjang. Lagi-lagi, untuk urusan ini dia tidak memberitahu istrinya sampai 2015.
“Istri saya mengira, hasil yang saya bawa pulang adalah untung dari beberapa perusahaan yang kami miliki. Padahal sebagian besar dari untung saham, dan saya jual perusahaan-perusahan itu karena mau konsentrasi membawa Buyung Poetra Sembada IPO,” tuturnya.
Sukarto menggunakan jasa PT Harita Kencana Securities untuk transaksi jual beli saham. Direktur Harita Securities Janny Tanjung mengatakan Sukarto telah menjadi kliennya sejak 1998. “Dia tipe investor yang teliti, tidak asal invest, selalu pelajari dahulu fundamental emiten. Jadi tidak asal beli.”
Janny mengaku kliennya tersebut termasuk tipe investor yang berhati-hati, termasuk tidak mudah terpengaruh rumor.

Atau isu-isu emiten di pasar. “Kami menangani berbagai tipe investor, dan pak Sukarto ini orang yang sabar, kalo beli saham tidak tergesa-gesa, menjualnya kembali setelah sekian lama dipegang.”
Setelah malang melintang selama 20 tahun sebagai investor saham, Sukarto berniat membawa perusahaan yang dipimpinnya melalukan penawaran umum saham perdana (initial public offering).
Dia memang berasal dari keluarga pedagang, melalui sang ayah, Bujung, yang mulai berdagang beras pada 1977 di Palembang dengan nama Toko Bujung.
Pada 2003, Sukarto mulai berdagang beras di Jakarta, tepatnya di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur. Sejak 2 tahun lalu, pria lulusan Akuntansi, Universitas Tarumanegara, didorong oleh teman-teman membawa BPS melantai di Bursa Efek Indonesia sebagai perusahaan publik. “Mereka bilang, Anda suka beli saham perusahaan lain, mengapa Anda tidak menjual saham perusahaan sendiri?”
Dia mengaku ingin serius menggarap bisnis riil. Beras adalah bisnis riil, bisa dilakukan, bisa dimakan. Sebagai tradisi keluarga, dia mengklain sudah memahami dengan baik bisnis ini, apalagi beras adalah kebutuhan utama dalam kehidupan manusia dengan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia 28 juta ton per tahun atau 144 kilogram per kapita.
Namun, sebagaimana awal-awal mengenal saham melalui transaksi saham, Sukarto kembali salah perhitungan. Upaya BPS melepas saham ke publik mengalami hambatan karena respons pasar yang minim pada akhir 2015. Upaya melepas 30% atau 710 juta saham baru pun tertunda.
Padahal, pendaftaran ke Otoritas Jasa Keuangan sudah dilakukan, paparan publik juga sudah digelar. Waktu penawaran sempit, serta momentum yang kurang pas, dianggap sebagai sebab utama penundaan aksi korporasi tersebut.
Bukan Sukarto bila patah arah di tengah jalan. Buktinya, manajemen BPS tengah menunggu proses audit laporan keuangan oleh auditor baru yakni Crowe Horwarth. Setelah beres, rencananya perseroan akan mendaftarkan rencana itu kembali ke Otoritas Jasa Keuangan sehingga bisa melakukan IPO pada kuartal IV/2016 atau paling lambat awal 2017.
“Kami belajar banyak atas penundaan ini. Kami diskusikan kembali dengan penjamin emisi, termasuk calon pembeli siaga dari dalam dan luar negeri. Kami ingin saham ini dimiliki oleh publik, dan memberi manfaat bagi kemajuan perusahaan,” tuturnya, tentang jalur cadas dan berliku yang kini dipilih.


Patuhi Hukum Pasar

Patuhilah Hukum Pasar

Trading berbeda dengan profesi-profesi lain dan memerlukan cara berpikir yang berbeda. Para profesional di pekerjaan-pekerjaan lain percaya bahwa melakukan setiap hal dengan benar akan mampu mengatasi setiap permasalahan. Namun dalam trading, jika kita melawan pasar karena kita merasa benar adalah sama dengan bunuh diri.

Pasar trading memiliki hukum atau aturan sendiri. Kita harus belajar untuk mematuhinya. Sebagai trader kita tidak dapat membuat hukum sendiri yang mampu membuat pasar mengikuti.

1. Tidak ada tempat untuk berharap

Tidak seperti bisnis lain, dalam trading tidak ada “negosiasi” antara kita sebagai trader dengan pasar. Jika dalam bisnis lain kita masih bisa bernegosiasi untuk mendapatkan yang kita harapakan, namun tidak dengan trading. Pasar akan naik atau turun tanpa peduli apa yang kita inginkan. 

Jika pasar mengalami downtrend dan kita sedang memiliki posisi,  kita  tidak dapat bernegosiasi dengan pasar. Pasar tidak akan memperdulikan harapan kita. Satu-satunya jalan keluar adalah segera menutup posisi untuk meminimalkan risiko. Momen dimana kita mulai berharap, itulah saat yang terbaik untuk segera keluar dari pasar.

2. Tidak ada kebenaran

Seorang yang perfeksionis ingin selalu sempurna dalam segala hal. Kebutuhan untuk selalu benar adalah salah satu konflik lain di pasar trading. Pasar tidak peduli apa yang kita inginkan. Pasar akan tetap melakukan apa yang dia ingin lakukan.  

Kita tidak bisa benar 100%. Kita harus menyadari ketika analisa kita salah. Jika analisa kita salah dan kita mengalami loss, namun kita tetap merasa analisa kita benar dan merasa  pasar akan akan berbalik arah, maka seringkali loss tersebut akan menjadi semakin besar.

Perlu diingat bahwa tujuan utama kita trading adalah untuk menghasilkan uang dan bukan untuk selalu benar.

3. Tidak ada keadilan 

Jangan berharap menemukan keadilan di pasar. Kita tidak bisa berharap pasar akan adil kepada kita, setelah serangkaian loss kita akan mendapatkan profit. Apakah kita gembira atau sakit, pasar tidak peduli. Pasar dalam trading adalah zero-sum game. Kesedihan yang dialami seorang trader adalah kegembiraan bagi trader yang lain.

Belajarlah mengontrol emosi, baik saat win ataupun loss. Trader biasanya menjadi ceroboh saat mengalami loss atau mendapat profit yang besar. Ingatlah selalu bahwa kita tidak dapat mengontrol pasar, yang dapat kita kontrol adalah diri kita sendiri. Dengan disiplin dan komitmen kita dapat mengikuti hukum pasar dan bukan melawannya.

(indotraderpedia)



Renungan Trader

Sebuah Renungan Bagi Kita Para Trader!

95% trader bangkrut dan rugi, mengapa? Mestinya kita sebagai trader bijak berpikir mengapa 95% trader terus menerus berada dalam kerugian?

Sangat jelas bahwa ada sebuah KESALAHPAHAMAN BESAR yang betul-betul meracuni mayoritas trader di dunia, kesalahpahaman itu ialah MINDSET OF INVESTMENT, sudut pandang dari seorang trader dalam memaknai trading. 

Ketahuilah bahwa mengubah sudut pandang bisa mengubah cara kita dalam memaknai trading. Sehebat apa pun seorang analis tidak bisa memprediksi arah market secara 100% akurat, dalam trading kita bicara tentang probability / kemungkinan. "Mungkin" dalam tanda kutip merupakan sesuatu yang belum pasti. Jika kita trading menggunakan seluruh modal kita untuk sesuatu yang belum pasti ya maka jangan kaget jika trader langsung habis uangnya / kena Margin Stop.

Menurut MUI, forex dikategorikan halal dengan syarat dibarengi dengan akal sehat. Apa jadinya jika trading forex dengan lot besar lalu uang langsung habis? Apakah itu yang dinamakan "menggunakan akal sehat?", apakah itu yang dinamakan investasi?

Investasi apa ya yang kurang dari 1 bulan langsung habis ke angka NOL? 

Emas batangan tidak akan habis menjadi nol walaupun didiamkan 1 bulan.

Rumah / Properti tidak akan habis menjadi nol walaupun didiamkan 1 bulan.

Tanah 1 hektar tidak akan habis menjadi nol walaupun didiamkan 1 bulan.

Jika uang kita habis di saham cuma dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, itu bukan investasi namanya. Investasi berkembang sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu. Mirip seperti kita menumbuhkan tanaman. Di butuhkan kesabaran dan konsistensi, hasil kita tuai di kemudian hari.

Jangan ikuti mindset yang salah, George Soros sang legenda forex diagungkan oleh dunia finansial ketika di tahun 2013 berhasil meraup keuntungan 30% dalam 1 tahun. Bayangkan betapa kecilnya lotsize yang digunakan oleh George Soros. Beliau hanya menargetkan 2% per bulan profit. 

Mari bandingkan dengan hiruk pikuk dan hingar bingar trader yang sharing foto profitnya sekian ribu dollar dan trader yang bangganya profit 5%-25% per minggu/bulan, mereka tidak memahami resiko yang sebenarnya mereka hadapi, profit yang didapat dengan high-risk secara jangka pendek "maybe yes", tapi untuk jangka panjang "maybe no". Bukan "may be" lagi tetapi pasti "BIG NO!" 

Siapa trader yang melakukan kalkulasi besaran lot supaya resiko tetap berada di bawah 3% per trade? SANGAT JARANG ADA

Siapa trader yang bangga dengan keuntungan 1% - 3% per bulan? SANGAT JARANG ADA

Padahal mereka yang jarang terlihat adalah trader sukses, mereka adalah sang trader yang 5%.



Inflasi

Harga Barang-Barang yang Selalu Naik dan Bahayanya Untuk Kita


Siapapun akan setuju bahwa membeli barang-barang hari ini tidak semurah tahun lalu dan tidak lebih murah dari 10 tahun yang lalu.

Ya, contoh sederhananya bahwa 20 tahun yang lalu membeli permen dengan Rp 100 dan kita akan mendapatkan 3 butir permen, hari ini permen yang sama perlu kita beli dengan uang Rp 1.000 dan itupun cuma mendapatkan 1 butir permen!

Dalam konteks secara sederhananya, nilai uang sebesar Rp 1000 dulu dan kini menjadi sangat jauh berbeda, bila dahulu Rp 1000 terasa besar, hari ini Rp 1000 terasa sangat kecil.

Itulah yang dikenal dalam istilah ekonomi yang disebut inflasi. Bila dipertanyakan apakah inflasi adalah sebuah kondisi yang berbahaya? Maka jawaban sebenarnya adalah sama dengan ketika kita ditanyakan apakah minum vitamin sehat atau tidak?

Dalam kondisi yang terkendali, maka inflasi adalah sebuah kondisi yang sehat. Namun bila kita berpikir lagi, “Koq harga barang mengalami kenaikan adalah sebuah hal yang sehat? Rugi dong kan uang yang sama tidak lagi mampu membeli barang yang sama?”

Mengapa harga sebuah barang menjadi naik? Kenaikan harga barang diakibatkan karena modal memproduksi sebuah barang tersebut mengalami kenaikan, artinya hal itu termasuk modal perusahaan dalam menggaji karyawan dan pekerja yang ada didalamnya sehingga barang tersebut bisa dikonsumsi oleh setiap orang.

Apa jadinya bila pendapatan pekerja dan karyawannya tidak dinaikkan? Maka tentunya akan terjadi demonstrasi, terbukti meskipun upah minimum atau gaji mengalami kenaikan, negara kita masih sering terjadi demonstrasi mengenai kenaikan upah minimum bukan?

Mengapa pekerja menginginkan kenaikan upah? Hal itu karena kenaikan harga barang-barang dan kebutuhan?

Nah, menarik, Semuanya jadi berputar-putar. Inilah yang disebut pada keadaan yang normal maka kenaikan harga atau inflasi adalah sebuah hal yang wajar.

Namun, berita menyedihkannya adalah bila harga barang mengalami kenaikan lebih tinggi dari besarnya pendapatan, apa yang terjadi? Maka jelas bila ada seseorang yang semula mampu, bisa saja akibat kenaikan harga yang lebih tinggi dari pendapatannya, orang tersebut menjadi golongan orang yang tidak mampu.

Inilah sebuah kondisi yang berbahaya dan mengancam banyak orang. Lalu, bila saat ini kita baru membahas mengenai kebutuhan hari ini yang mengalami kenaikan dan pendapatan tidak naik lebih tinggi, apakah kita bisa membayangkan apa nasib dari masa depan? Semakin berbahaya bukan?

Jelas, bila hari ini saja sudah tidak mampu, bagaimana kedepan akan mampu, hal tersebut adalah suatu potret dari kehidupan banyak orang yang tidak mempersiapkan segala sesuatunya, setidaknya terdapat beberapa strategi dan sikap untuk mengantisipasi hal ini:

● Cukupilah Kebutuhan, jangan keinginan

Hal yang perlu dijaga pertama kali adalah keinginan, keinginan dari setiap orang tidak pernah ada habisnya, namun kebutuhan manusia pada umumnya tidak jauh berbeda.

Kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal, kebutuhan akan kesehatan dan hiburan, kebutuhan untuk bersosialisasi.

Namun keinginan yang membuat seseorang harus mengeluarkan uang lebih banyak. Keinginan makan dimana, makan apa, makan bersama siapa, dan lain sebagainya.


● Bila kurang, berhematlah dan jangan berhutang

Dewasa ini akan semakin berbahaya melihat banyaknya orang yang mengambil jalan singkat karena kekurangan dana, apa yang dilakukan? Dengan berhutang, celakanya hutang ditutup dengan hutang.

Sebuah skema yang dikenal dengan “gali lubang, tutup lubang” adalah sebuah skema berbahaya apabila terjadi hal diluar rencana, nyatanya hidup akan selalu dihadapkan pada kondisi-kondisi yang diluar rencana.

Berhutang untuk memenuhi keinginan hidup dapat dikategorikan sebagai pemborosan, namun berhutang karena perlu untuk mencukupi kebutuhan hidup artinya kita kekurangan, ubahlah menjadi gaya yang lebih sederhana atau perbesarlah pendapatan.

Karena berhemat lebih mudah daripada mencari pendapatan tamabahan, oleh karena itu jagalah kehidupan tetap pada sebuah gaya hidup yang wajar.

● Ambil uang untuk masa depan

Masa kini dimana kita hidup sehari-hari sejatinya adalah kewajiban diri sendiri untuk bisa menghidupi. Hidup membutuhkan biaya yang pasti harus kita keluarkan dan pengeluaran yang tidak pasti juga banyak, namun masa depan kita adalah tanggung jawab dari setiap pribadi kita.

Karena menyadari kepentingan masa depan, maka ambillah uang yang kita dapat hari ini untuk masa depan kita, jangan sisihkan karena sisihkan artinya sisakan, bila Anda menganggap masa depan adalah bagian yang penting maka ambillah pendapatan Anda hari ini untuk bisa menghidupi Anda dikemudian hari.

@RyanFilbert



Jesse Livermore’s Trading Rules

Jesse Livermore’s Trading Rules

Here are the stock trading rules that made Jesse Livermore’s one of the world’s greatest fortunes. Many successful stock and commodity traders still base their methods on these rules.

Livermore constructed his rules over several years, while learning by trial and error what worked on the markets. He was guided by one of his favorite principles:

“There is nothing new in Wall Street. There can’t be because speculation is as old as the hills. Whatever happens in the stock market today has happened before and will happen again.”


Stock Trading Rules :

● Buy rising stocks and sell falling stocks.
● Do not trade every day of every year.
● Trade only when the market is clearly bullish or bearish.
● Trade in the direction of the general market.
● If it’s rising you should be long, if it’s falling you should be short.
● Co-ordinate your trading activity with pivot points.
● Only enter a trade after the action of the market confirms your opinion and then enter promptly.
● Continue with trades that show you a profit, end trades that show a loss.
● End trades when it is clear that the trend you are profiting from is over.
● In any sector, trade the leading stock – the one showing the strongest trend.
● Never average losses by, for example, buying more of a stock that has fallen.
● Never meet a margin call – get out of the trade.
● Go long when stocks reach a new high. 
● Sell short when they reach a new low.


Other Useful Stock Trading Guidance

● Don’t become an involuntary investor by holding onto stocks whose price has fallen.
● A stock is never too high to buy and never too low to short.
● Markets are never wrong – opinions often are.
● The highest profits are made in trades that show a profit right from the start.
● No trading rules will deliver a profit 100 percent of the time.

(jesse-livermoredotcom)



Nasehat Orang Terkaya

Diatas adalah video yang sangat bagus dan inspiratif. Nasehat dari The Richest Man in China for Young People. Sempatkan untuk melihatnya.

Jika kesulitan untuk mendownloadnya ini isinya

What Your Life Should Be Like Between 20 and 60 Years Old

Before you turn 20 years old, be a good student.
…just to get some experience.

Before you turn 30 years old, follow somebody.
Go to a small company. Normally, in a big company, it is good to learn processing; you are part of a big machine. But when you go to a small company, you learn the passion, you learn the dreams. You learn to do a lot of things at one time. So before 30 years old, it’s not which company you go to, it’s which boss you follow. A good boss teaches you differently.

Between 30 and 40 years old, you need to think clearly whether you want to work for yourself, if you really want to be an entrepreneur.

When you’re between 40 and 50 years old, you must do all the things that you are good at.
Don’t try to jump into a new area, it’s too late. You may be successful, but the rate of dying is too big. So when you’re between the ages of 40 and 50, think about how you can focus on things that you are good at.

But when you are 50 to 60 years old, work for the young people.Because young people can do better than you. So rely on them, invest in them, and make sure they’re good.

When you are over 60 years old, spend time on yourself.
On the beach, sunshine, it’s too late for you to change.

This is my advice to the young people: 25 years old, make enough mistakes. Don’t worry! You fall, you stand up, you fall…enjoy it! You’re 25 years old, enjoy the show!”


Nasehat Warren Buffet

Nasehat Warren Buffett, Salah Satu Orang Tersukses Karena Kebijaksanaannya

Berikut ini adalah wawancara yang pernah Warren Buffett lakukan dengan CNBC. Dalam wawancara tersebut ditemukan beberapa aspek menarik dari hidupnya:

“Anjurkan anak untuk berinvestasi”
Ia membeli saham pertamanya pada umur 11 tahun dan sekarang ia menyesal karena tidak memulainya dari masih muda.

“Dorong anak untuk mulai belajar berbisnis”
Ia membeli sebuah kebun yang kecil pada umur 14 tahun dengan uang tabungan yang diperolehnya dari hasil mengirimkan surat kabar.

“Ia masih hidup di sebuah rumah dengan 3 kamar berukuran kecil di pusat kota Omaha, Nebraska, yang ia beli setelah ia menikah pada 50 tahun yang lalu”

“Jangan membeli apa yang tidak dibutuhkan, dan dorong anak untuk berbuat hal yang sama”
Ia berkata bahwa ia mempunyai segala yang ia butuhkan dalam rumah itu. Meskipun rumah itu tidak ada pagarnya.

“Jadilah apa adanya”
Ia selalu mengemudikan mobilnya seorang diri jika hendak berpergian dan ia tidak mempunyai seorang supir ataupun keamanan pribadi.

“Berhematlah”
Ia tidak pernah berpergian dengan pesawat jet pribadi, walaupun ia memiliki perusahaan pembuat pesawat jet terbesar di dunia. Berkshire Hathaway, perusahaan miliknya, memiliki 63 anak perusahaan.

“Ia hanya menuliskan satu pucuk surat setiap tahunnya kepada para CEO dalam perusahaannya, menyampaikan target yang harus diraih untuk tahun itu”

“Tugaskan pekerjaan kepada orang yang tepat”
Ia tidak pernah mengadakan rapat atau menelpon mereka secara reguler. Warren Buffet tidak pernah membawa handphone dan di meja kerjanya tidak ada komputer.

“Buat tujuan yang jelas dan yakinkan mereka untuk fokus ke tujuan”
Ia hanya memberikan 2 peraturan kepada para CEOnya.

Peraturan nomor satu: Jangan pernah sekali pun menghabiskan uang para pemegang saham.
Peraturan nomor dua: Jangan melupakan peraturan nomor satu.

“Jangan pamer, jadilah diri sendiri dan nikmati apa yang kamu lakukan”
Ia tidak banyak bersosialisasi dengan masyarakat kalangan kelas atas. Waktu luangnya di rumah ia habiskan dengan menonton televisi sambil makan pop corn.

Bill Gates, orang terkaya di dunia bertemu dengannya untuk pertama kalinya 5 tahun yang lalu. Bill Gates pikir bahwa ia tidak memiliki keperluan yang sangat penting dengan Warren Buffet, maka ia mengatur pertemuan itu hanya untuk selama 30 menit.
Tetapi ketika ia bertemu dengan Warren Buffet, pertemuan itu berlangsung selama 10 jam dan Bill Gates tertarik untuk belajar banyak darinya.


Berikut ini adalah nasihatnya untuk orang-orang yang masih muda:

"Jauhkan dirimu dari pinjaman bank, utang, cicilan atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yang kau miliki, serta ingat:

1. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

3. Jangan melakukan apa pun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

4. Jangan memakai merk, berpakaianlah yang benar dan yang membuatmu nyaman. 

5. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting. Jika Anda membeli barang2 yg tidak penting maka suatu hari Anda harus menjual barang2 Anda yg penting.

6. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life.

7. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain."

"Orang yang Berbahagia Bukanlah Orang yang Hebat dalam segala Hal, Tapi Orang yang Bisa Menemukan Hal Sederhana dalam Hidupnya dan selalu Mengucap Syukur."



Memilih Saham

Dalam berinvestasi, filosofi yang saya gunakan adalah membeli saham berfundamental bagus dengan harga yang wajar. Lebih baik lagi apabila saya bisa membeli dengan harga yang murah. Berangkat dari pemikiran tersebut, saya memandang bahwa sebuah perusahaan yang bagus seharusnya memiliki kriteria sebagai berikut:

Mampu menghasilkan laba secara konsisten. Mampu untuk mengalokasikan laba pada proyek-proyek yang menguntungkanMampu untuk menjaga agar laba tidak terbuang percuma

Untuk mengetahui apakah perusahaan dapat melakukan hal-hal tersebut, diperlukan beberapa parameter untuk mengukurnya. Akibatnya, terkadang saya menggunakan rasio-rasio keuangan yang tidak umum. Mari kita lihat satu-persatu.

Mampu menghasilkan laba secara konsisten

Untuk keperluan ini, biasanya saya melihat laju pertumbuhan laba bersih selama lima tahun terakhir. Saya mengharapkan paling tidak laba bersih perusahaan tumbuh secara konsisten sebesar 15% per tahun.

Untuk mengetahui konsistensi pertumbuhannya, saya menghitung tingkat predictability pertumbuhan laba bersihnya. Secara teknis, predictability adalah tingkat akurasi kenaikan laba bersih apabila diasumsikan tumbuh secara eksponensial. Predictability maksimum adalah 100%. Saya mengharapkan tingkat predictabilitylebih dari 90%.

Mengapa predictability sangat penting?

Apabila laba bersih semakin dapat diprediksi, semakin akurat hasil valuasi kita. Jika laba bersih perusahaan tidak stabil dari tahun ke tahun, kita akan kesulitan untuk mencari harga wajar perusahaan.

Mampu untuk mengalokasikan laba pada proyek-proyek yang menguntungkan

Laba yang diperoleh perusahaan akan digunakan untuk berekspansi. Kejelian pihak manajemen akan membuat tingkat keuntungan dari aktivitas ekspansi tersebut tetap tinggi. Untuk mengukurnya, saya menggunakan beberapa rasio seperti ROE (Return on Equity) dan ROTC (Return on Total Capital). Prinsip kerja dari kedua rasio tersebut hampir sama. Perbedaannya, dengan menggunakan ROTC kita memfaktorkan utang dalam perhitungan. ROTC penting karena kadangkala ada perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan tinggi namun diperoleh dengan memanfaatkan leverage(utang) yang besar.

Untuk menganalisis lebih lanjut, saya menggunakan rasio laba bersih dibagi dengan jumlah utang jangka panjang. Saya menghendaki nilainya minimal 20% yang berarti utang jangka panjangnya dapat dilunasi oleh laba bersih dalam waktu maksimal lima tahun.

Mampu untuk menjaga agar laba tidak terbuang percuma

Intinya adalah mengetahui apakah cash flowperusahaan cukup sehat. Biasanya saya menggunakan perbandingan antara jumlah operating cash flow selama 5 tahun dengan jumlah laba bersih selama 5 tahun. Biasanya pada perusahaan yang sehat nilainya akan lebih besar dari 75%. Semakin tinggi semakin baik.

Selain itu, saya juga memantau Free Cash Flow (FCF)dari tahun ke tahun. FCF didefinisikan sebagai operating cash flow dikurangi dengan capital expenditure (capex). Jika nilainya positif, artinya perusahaan mampu membiayai ekspansinya dengan dana internal. Walaupun begitu, kita juga harus mempertimbangkan lebih lanjut karena perusahaan yang sedang tumbuh pesat biasanya memiliki FCF negatif karena potensi laba di masa mendatang jauh lebih besar daripada laba saat ini. Sebagai konsekuensi, perusahaan harus mengalokasikan capex yang cukup besar agar tidak kehilangan kesempatan.

Catatan Tentang Valuasi

Langkah terakhir yang saya lakukan adalah melakukan valuasi. Pada dasarnya, valuasi yang saya lakukan adalah untuk mengetahui apakah di harga saat ini, saham yang akan saya beli berpotensi untuk mendapatkan imbal hasil yang layak di tahun-tahun mendatang. Metode yang saya gunakan untuk valuasi sudah pernah dijabarkan pada artikel sebelumnya di blog ini.

Jika hendak melangkah lebih maju, Anda bisa menggunakan metode valuasi pada artikel ini

source: parahita.wordpress.com



Sistem Analis EPL

Sistem Analis EPL

Seberapa akurat sebuah komputer menebak masa depan? Apalagi sekarang hampir semua hal bergantung pada komputer. Dan semakin canggih kecerdasan komputer yang dikenal dengan nama AI. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan. Termasuk ketika komputer berhasil mengalahkan pemain catur terbaik dunia. Dan baru-baru ini berhasil mengalahkan pemain GO terbaik. Disebut permainan GO lebih rumit dibanding catur. Jadi seberapa akurat komputer melakukan prediksi.

Pada bulan Februari kemarin, ada yang menarik perhatian kami. Ketika media mengutip tentang prediksi komputer mengenai ranking klub sepakbola Inggris. Seperti yang kita ketahui, Leicester membuat kejutan dengan memenangkan liga Inggris. 

Dari prediksi dan hasilnya, terlihat komputer benar menebak 3 berbanding 17 yang salah. Atau benarnya adalah 15%. Dan untuk point, tingkat akurasinya adalah 0%. Apakah komputer itu bodoh? Rasanya tidak. Alasannya sederhana. Walau komputer bisa melakukan kalkulasi dengan cepat, dia tidak bisa memprediksi sesuatu yang belum terjadi. 

Pemain cedera, faktor cuaca, pemain tidak bisa tampil, dan moral pemain dalam menghadapi pertandingan. Termasuk efek wasit yang mungkin melakukan kesalahan. Dan tekanan dari penonton dan media. Banyak faktor yang tidak mungkin bisa diantisipasi.

Karena 1 hal. Yang dihadapi komputer adalah manusia yang selalu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Bukan A maka B. Manusia itu kalau kejadian A muncul, bisa bereaksi B C D E sampai Z. 

Nah, demikian juga di saham. Kita tidak bisa mengandalkan komputer melakukan kalkulasi dan kita tinggal duduk santai menikmati hasil. Cara kerja investasi tidak seperti itu. Kita harus mengikuti perkembangan cerita dari perusahaan itu. Apa yang mereka lakukan untuk mengantisipasi kejadian. Apakah itu baik atau buruk. 

Karena yang dihadapi oleh investor adalah perusahaan dan investor lain. Yang merupakan kumpulan manusia juga. Bukan kertas kosong yang naik turun harganya begitu saja. Di balik secarik kertas saham, ada perusahaan yang beroperasi penuh. Cari tahulah. 

Seperti kata Peter Lynch. Investasi itu bukan ilmu pasti. Investasi itu seni. Kita tidak bisa menyewa komputer kemudian menghasilkan kekayaan darinya. 

Logika saja. Chart yang ditampilkan cuma 1. Tidak ada 2 versi chart. Kalau ada kebenaran mutlak di sana, mengapa ada ribuan keputusan yang terjadi. Ditambah kalau benar ada metode gampang untuk mengumpulkan kekayaan, orang-orang terkaya di dunia sudah berlomba-lomba melakukan penawaran untuk membeli sistem itu dan mengunci rapat-rapat di bawah tanah untuk dipakai sendiri. Benar tidak ya seperti itu logikanya?

Oh ya. Lebih logis lagi jika kalau benar sistem yang ditawarkan sedemikian hebat, seharusnya penciptanya menggunakannya sendiri dan mengunci rapat-rapat di bawah tanah. Atau daripada mempresentasikan kepada calon pembeli seharga 100 dollar, mengapa tidak mempresentasikan di depan bankir supaya mendapat pinjaman 100 milyar dollar. 

Investasi itu logis dan sederhana. Lakukan secara konsisten, maka kita akan mendapat hasilnya.

Akhir kata. Perusahaan bagus akan naik harganya. Perusahaan jelek akan turun harganya. Pada akhirnya, investor akan menerima apa yang diinvestasikannya.

@saham-indonesia

Saham Gorengan

SAHAM GORENGAN

“Katanya sih hindari, tapi apa iya saham ini ngga bisa kasih kesempatan sama sekali?”

Nah, posting hari ini sesuai dengan desas desus bergeraknya saham-saham grup Bakrie (BUMI, BRMS, ENRG, dll). Tahukah kamu kalau dulu saham-saham grup Bakrie termasuk dalam saham blue chip alias first liner tapi sekarang jadi kelompok saham gorengan?

Lalu, kalau saham gorengan… kata orang harusnya dihindari. Yap benar, saham gorengan identik dengan sifatnya yang bisa membuat seseorang jadi bangkrut mendadak. Tapi juga perlu dicatat bahwa saham gorengan tetap bisa membuat kaya mendadak. Jadi, kalau kita simpulkan kita tetap bisa mendapat keuntungan besar dari saham ini, dan di saat bersamaan modal kita bisa bablas karena kalah dari saham ini.

Faktanya, yang kalah dari saham gorengan jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah yang menang. Karena kalah itulah mereka menyebarkan ke orang lain kalau saham ini bahaya dan merugikan. Coba kalau mereka menang, ceritanya pasti lain.

Kisah saham grup Bakrie ini  sebenarnya cukup sedih ya, dari blue chip jadi gorengan. Terus bisa ngga saham gorengan ini balik jadi blue chip? Jawabannya bisa, banyak kok saham gorengan di tahun yang lalu dan sekarang harganya sudah tinggi.

Tapi fokus post hari ini bukan pada perubahan saham gorengan ke blue chip atau sebaliknya. Fokus kita adalah pada bagaimana cara aman main saham gorengan.

Berikut adalah tips berhadapan dengan saham gorengan dari Rumah Saham:

1. Volume adalah segalanya
Saham gorengan, disebut gorengan karena selama ini saham tersebut beku dan pada suatu hari saham tersebut tiba-tiba meledak naik seperti digoreng. Disebut beku karena volumenya hampir tidak ada alias hampir tidak ada transaksi. Jadi, kalau volumenya mendadak besar, sudah tahu kalau saham tersebut lagi digoreng.

2. Sangat erat dengan bandarmology
Bahwa kenaikan volume tadi adalah karena adanya bandar yang membeli dalam jumlah besar (massive buy). Jadi kalau kamu belajar bandarmology, pas banget nih. Ciri-ciri bandar ya begitu aja, beli banyak, nanti jual juga banyak. Bandar pada saat membeli saham itu jarang antri, langsung beli di harga offer, jualnya juga langsung jual ke harga bid.

3. Lot
Nah, penting nih. Kata orang pergerakan bandar hampir ngga bisa dibaca. Tapi dengan memperhatikan lot saham ,kita bisa sedikit membantah pernyataan itu. Melihat perubahan dan penambahan jumlah lot yang banyak adalah tanda kalau bandar masih mau menggoreng saham tersebut. Next time akan dibahas lebih dalam.

4. Mengungguli analisa teknikal
Tahukah kamu kenapa analis-analis jarang banget ngomongin saham gorengan? Ya, benar sekali! Karena ngga bisa dianalisa. Dari grafik pergerakannya flat. Fundamental mungki bagus, tapi sahamnya ngga bergerak. Atau yang paling parah kalau harga saham sudah di harga terbawah yaitu 50, apa yang mau dianalisa?

5. Ngga peduli dengan berita tentang perusahaan.
Sama dengan analisa teknikal tidak bisa membaca pergerakan saham gorengan, berita-berita tentang perusahaan juga ngga bisa dipakai untuk menjadi sentiment bagi saham (mungkin kadang bisa tapi chance-nya minim sekali). Berita bagus dan berita jelek tidak membawa pengaruh. Malah kadang harga saham naik di saat perusahaan tersebut sedang dihujani berita dan rumor jelek.

6. Permainan emosi
Udah sering kan lihat saham gorengan kalau lagi main, kemunculannya di layar running trade bikin “gatel” pengen ikutan. Di sinilah efek negatifnya saham gorengan, yaitu mempermainkan emosi kita sampai lupa dengan trading plan dan saham incaran.

Nah, kira-kira 6 ini adalah ciri-ciri dasar yang perlu diperhatikan dalam menghadapi saham gorengan. Harapannya posting ini bisa membantu kalian dengan memberi penerangan tentang seperti apa saham gorengan itu. Semoga bermanfaat dan sampai ketemu di post selanjutnya.

@rumahsaham


Lima cara berinvestasi spti Warren Buffet

Lima cara berinvestasi spti Warren Buffet

1. Membeli saham sama dengan membeli sebuah bisnisnya.

Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.

Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu risetlah fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan”, tuturnya.

Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan

Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.

Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.

Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”

Catatan:

ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah

Price is what you pay. Value is what you get. 
(Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan)

Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4. Berinvestasi jangka panjang

"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang dan tenang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.

Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.


5. Economic Moat

Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.

Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G. (kontan)



Investasi adalah seni

Investasi adalah Seni

Investasi itu, walau semuanya adalah tentang angka, lebih berhasil jika kita menjalankannya seperti seni. 

Karena semua yang kita lakukan adalah bagaimana kita merasakannya. 

Contoh misalnya ketika saham incaran kita turun ke harga sekian. Kita akan berpikir apakah sekarang adalah harga yang pas untuk membeli atau harus menunggu lagi harga lebih turun. Bagaimana kalau jika kita tunggu ternyata harga malah makin naik lagi. Kalau kita masuk bagaimana kalau kemudian harga makin turun. 

Sama juga setelah membeli. Apa yang akan kita lakukan jika saham tersebut malah jalan di tempat dan saham incaran lainnya malah naik duluan. Apakah kita harus menjual yang pertama kemudian pindah ke yang lain? 

Pada titik jual juga sama, bagaimana kalau setelah kita jual sahamnya lanjut naik. Atau jika kita menahan lebih lama,  harga malah bergerak turun. Apakah kemudian kita harus menjual atau bertahan menunggu harga naik kembali. 

Pada akhirnya berinvestasi di bursa saham bukanlah kita berhadapan dengan angka, tapi adalah bagaimana kita menghadapi diri kita sendiri.  

Kita boleh saja membaca banyak buku untuk menambah kapasitas, seperti juga belajar mengendarai mobil atau memainkan musik, pada akhirnya kita akan bergantung pada apa yang kita rasakan.  

Tapi berlawanan dengan mengendarai mobil, biasanya jika kita melihat bahaya, kita harus langsung berhenti, di saham, jika harga bergerak turun, kita justru harus lebih waspada apakah ini adalah kesempatan atau bahaya. 

Alasan mengapa harus demikian adalah karena semua barang pasti ada nilainya. Ketika harga bergerak turun tapi kualitas tidak berkurang maka ini adalah kesempatan. Di sinilah pentingnya kita mengetahui apa yang kita beli. Kalau ternyata kualitasnya berkurang, maka ini adalah tanda bahayanya. Seperti ketika kita ke showroom mobil, mobil BMW seharga 100 juta jelas murah, tapi jika mesinnya sudah tidak ada? Itulah gunanya pengecekan terlebih dahulu.

Kemudian perbandingan harga. Mana yang lebih murah. BMW 100 juta atau Bemo 50 juta. Kondisi yang serupa dengan perbandingan di saham. Mana yang lebih murah. BUMI 50 atau BBRI 5.000. Walau BUMI mengalami kenaikan 30%, investor yang mengutamakan nilai seharusnya memilih BBRI. Alasannya, investor itu seharusnya menghindari risiko. Bukan mencari risiko. Karena itulah kita harus mengerti tentang risiko dan potensi di investasi. Di setiap kesuksesan model saham tidak jelas, ada ratusan kegagalan, dan repotnya, orang selalu berpikir saya yang satu, bukan yang ratusan. Memang kita tidak mendapatkan profit seperti di ANTM, INDY, INAF, BUMI, tapi karena prinsip yang sama juga, maka kita akan terhindar dari SIAP, BWPT, TAXI, TRAM, INVS, dan banyak lagi.

Dan sama seperti ketika berinteraksi dengan seni, investasi juga haruslah memberi ketenangan dan kebahagiaan. Apakah kita harus melihat harga saham naik turun setiap hari dan emosi kita diaduk-aduk atau bisa tenang mengerjakan hal lain. Pilihan ada di tangan kita. Mana lebih baik, 15 hari senang 350 hari stress, atau 365 hari tenang. Alasan mengapa bisa 365 hari tenang, karena kita bisa yakin dengan apa yang kita beli, jadi di mana letak kekuatirannya?

Karena itu, kita selalu ingin berinvestasi untuk masa depan kita, menjadi makmur, dan hiduplah bahagia. 

Dan terakhir, seperti tulisan di gambar, apa masa depan kita, sudah dibayangkan? Setelah itu, kejarlah. Jangan cuma bermimpi saja. (sahamindonesia)


Karakter Dasar Trading

Luangkan waktu 10 menit utk membaca dan meresapinya

Saya mau share hasil (tulis ulang) pengalaman dan observasi yg saya pelajari termasuk dr dua temen dekat yg berhasil di saham (dgn portfolio tembus Rp 1 triliun). Semoga apa yg saya rangkum ini dapat membantu di bisnis anda.

Ada 4 karakter dasar yg luar biasa dr temen2 saya yg berhasil.

1. GREAT COURAGE 
Keberanian luar biasa utk memeluk ketidakpastian atau risiko. Nekad tapi tdk gila krn sebelum memulai kita sdh membekali dgn ilmu yg cukup. (Sy sebut ilmu berenang, percuma baca buku teori 100 thn kl tdk berani cemplung ke air). Jd ini langkah kecil dr 1000 mil perjalanan. 

2. GREAT LOVE
Rasa suka yg luar biasa (punya passion atau roh dan jiwa) sampai serasa kita bermain dan bukan bekerja. Ini yg Saya sebut 无为 Wuwei (effortless / tanpa beban) seperti bersilat Taichi. Jd org tsb bs bekerja (serasa bermain/ tanpa usaha) sd malam tanpa merasa capek (exhausted). Berbeda dgn org yg hanya bekerja keras (berusaha) sj, besok pagi dia bs capek mental atau serasa berat bernafas. Ibarat anak kecil yg bermain piano krn suka (ada jiwanya) dan yg satu lg seperti robot (tdk ada jiwanya).
Anda tentu dgn JELAS dapat MEMBEDAKANNYA.

3. FOCUS
Krn yg dikerjakan ya itu2 saja tanpa bosan2, lama2 dia menjadi EXPERT (ahli). Jd utk menjadi kaya cukup 1 jurus....ini saja. Intuisinya makin  tajam. Jd kl ada yg bisnisnya lebih dr dua, kans utk sukses lebih minim.

4. WISDOM
Kebijakan utk bs melihat kesempatan dalam segala kondisi (saham, kurs, peluang bisnis dll) dan perubahan dunia yg tdk pasti dan tdk stabil. Anda hrs mengerti dunia saling bergantungan (Inter-dependence). 
Apa yg terjadi di tetangga jauh (terutama Amerika dan Cina) dapat berimbas ke kita. Dulu masalah sup-prime loan Amerika (padahal yg macet kredit mereka) tapi saham kita tiap hari jatuh amblas kebawah. Jd para fund manager waktu itu membuang saham negara berkembang yg belum jatuh (saling bergantungan). 

Sekarang FED mau menaikkan suku bunga dan Anda bs lihat semua saham berguguran terutama yg hutang US dollar (tapi bs berkah utk yg ekspor).

Disamping itu, Anda jg harus mengerti RELATIVITAS. Saham perusahaan yg P/E ratio kecil, hutang kecil, manajemen yg dapat dipercaya, pemilik majority yg masih kaya secara RELATIF lebih unggul dr yg sebaliknya. 

Jgn sekali2 beli saham yg pemiliknya sdh jatuh miskin!!! Bahaya, mereka yg masih kaya saja mau 'ciak' Anda apalagi yg sudah jatuh miskin.


Krn sdh mengalami stress tdk bs tidur melihat jatuh bangkitnya saham sekian tahun, pengetahuan timbul utk dapat melihat hakikat ketidakpastian / ketidak-stabilan atau kerapuhan dari semua kejadian (Saya pinjam istillah Buddhis 'Anicca' yg artinya rapuh, tidak pasti atau tidak stabil). Pengetahuan ini membawa ketentraman dan kejernihan dalam proses berpikir, menganalisa saham atau melihat peluang. Anda tidak berdebat lg dgn diri sendiri lg "mestinya begini atau seharusnya begitu (capek deh)". Jd damai walaupun masih rugi 😁

Pilihah saham (atau pilihlah bisnis) yg : 

1. PROBABILITY atau kans naik/berhasilnya 80/20 (80%naik n 20%turun). Kl bisnisnya anda SUKA dan NGERTI, kansnya menjadi 80:20. Dan, timing atau kesempatan masuk/ keluar yg tepat (kembali lg kita bicara kans 80:20). Apa yg bagus thn ini dan bs 'cuan', thn depan belum tentu. Tiga empat tahun lalu, batu bara adalah favorit, sekarang justru dijauhi krn siklus ekonomi (hakikat Anicca).

2. IMPACTnya besar (rezeki duren runtuh). Artinya saham yg bs naik dua tiga kali lipat atau bisnis yg membuat kita kaya sekali. 

Kebijakan lain yg SANGAT PENTING (khusus investor Saham) adalah TIDAK BOLEH percaya TAKHYUL (sep. mimpi2, gelas pecah, ramalan nasib dll). Pikiran sendiripun tdk boleh percaya tanpa terlebih dahulu diinvestigasi. Kl timbul kekhawatiran, mulailah investigasi dgn pertanyaan yg simpel "Apa ini bener ? Anda yakin secara absolut ini masuk akal ?". Anda akan tahu jawabannya. Pikiran yg sering takut (tanpa kita sadari) mempengaruhi kejernihan dlm berpikir. Jd perlu 'eling'. Tapi lama2 kita bs punya intuisi (keputusan yg kita ambil dgn spontan tanpa melalui proses berpikir), seperti naik sepeda atau lg nyetir.

Kebijakan utk belajar memperbaiki diri, mengambil pelajaran dari kesalahan org lain dan diri sendiri ini juga penting (Sharpen the saw). 

NOTHING OVERMUCHS. Margin yg berlebihan pada saat siklus ekonomi turun berbahaya. Margin dipakai waktu siklus industri/ekonomi menanjak(atau tidak gunakan margin sama sekali).

Nah yg paling susah adalah mencari atau ketemu (kebetulan atau Jodoh) MESIN PENCETAK UANG kita (utk sy di saham). Saya sendiri jg tdk tahu sebelumnya saya akan pensiun di umur 40 thn krn saham. Tapi saya jelas menggemari bidang ini, terbukti dr gelar kualifikasi CFA (Chartered Financial Analyst) -- Sy lulus tanpa beban ujian 3 level yg sekali ujian 6 jam). 

Semoga temen2 ketemu (Jodoh) dan trus menggali apa kekuatan diri kita yg dapat membuat kita BERSINAR dan mengubahnya menjadi mesin PENCETAK UANG.

We can SHINE together😃

Semoga bermanfaat.
//Jonni A, CFA

God bless you all🙏


Technical Analysis Terbaik

Mencari Indikator TA Terbaik

Jika anda memutuskan untuk mempelajari lebih dalam mengenai trading saham, maka cepat atau lambat anda pasti akan mendengar mengenai ilmu yang dinamakan Technical Analysis. Bagi anda yang pertama kali mempelajari mengenai technical analysis ilmu ini kemungkinan akan membuat anda tercengang, karena anda akan melihat betapa mudah dan sederhananya cara untuk memprediksi pergerakan harga saham.
Namun setelah anda mempraktekannya, anda akan menemukan menggunakan analisa technical dalam trading ternyata jauh lebih sulit daripada teorinya. 

Anda akan menemukan bahwa ada begitu banyak cara untuk menganalisa technical. Dan setelah beberapa lama mempelajari analisa ini umumnya akan muncul satu pertanyaan di benak anda yaitu :
Indikator Technical Analysis apakah yang paling akurat ?!

Kebingungan ini umumnya muncul karena ada sangat banyak buku, training, workshop, indicator, dan system trading yang ditawarkan di berbagai media untuk para trader-trader pemula, masing-masing menjanjikan keuntungan yang sangat besar, seakan-akan hal-hal tersebut akan memberitahukan kepada kita saham apa yang akan naik, dan saham apa yang akan turun, kapan harus beli dan kapan harus jual.
Jadi banyak orang yang mengira ketika dia menemukan “Indikator Terbaik” maka kekayaan dan kesuksesan akan mengalir dengan sendirinya ke portfolio mereka, namun faktanya lebih banyak trader yang bangkrut dalam proses pencarian “indicator terbaik” tersebut. 

Sebagai trader yang masih cukup baru di market (angkatan 2008) pertanyaan yang sama juga pernah muncul di kepala saya beberapa tahun yang lalu. Untuk menemukan jawabannya saya banyak membaca, mengikuti seminar, dll.

Selain itu saya juga banyak bertanya dan mencoba mencari tahu ciri-ciri para pemain saham yang sudah sukses di market, baik di Indonesia atau di dunia. Saya ingin tahu indicator apa yang mereka pakai, atau pola analisa apa yang mereka pakai. Melalui proses “tanya sana-sini” dan “baca sana-sini”, berikut ini adalah jawaban-jawaban yang paling banyak saya dapatkan dari orang-orang hebat tersebut mengenai pemakaian Technical Analysis.

Di peringkat pertama : Simple is The Best

Jawaban yang paling banyak saya dapat adalah, “simple is the best”, artinya cara analisa technical yang paling dasar dan paling sederhana adalah yang paling banyak dipakai oleh para pemain yang sukses di market. Umumnya sebagian dari mereka mengunakan Classical Technical Analysis, hanya menganalisa dengan menarik-narik garis dan membaca pattern technical. Tanpa menggunakan berbagai indicator atau system yang canggih.


Di peringkat kedua: Popular Technical Indicator  

Jawaban yang kedua paling banyak adalah para trader yang menggunakan Indicator-indicator yang paling sederhana dan paling popular yang ada di market. Bollinger Band, MACD, Stochastic dan RSI adalah 4 indicator yang paling banyak dipakai. Saya tidak pernah benar-benar buat voting yang terukur secara jitu, namun seingat saya MACD adalah indicator favorit, biasanya di-combine dengan salah satu dari Stochastic / RSI. Bollinger Band juga cukup popular dan sering dikombinasikan dengan ketiga indicator di atas.

Di peringkat ketiga: Membuat System Trading Sendiri

Jawaban ini mungkin adalah yang paling “merepotkan” karena untuk memiliki system trading sendiri dibutuhkan skill dan pembelajaran yang panjang mengenai pola pergerakan harga, dan kebiasaan-kebiasaan yang sering terulang di market, trader seperti ini umumnya sudah melewati ratusan jam dalam menganalisa  untuk membuat indicator yang paling sesuai dengan gaya tradingnya, dan yang paling dipercaya oleh trader yang bersangkutan.

Menariknya dari ketiga jawaban teratas tersebut jawaban membeli system trading A atau B tidak masuk dalam 3 peringkat teratas. Hal itu disebabkan karena salah satu kunci sukses dari trading adalah memiliki keyakinan akan cara analisa yang kita miliki, sehingga lebih mudah bagi kita untuk disiplin dengan strategi trading yang kita buat daripada yang dibuat orang lain.

Jika kita hanya membeli  system trading yang sudah jadi, sering kali system tersebut terlalu rumit dan tidak dimengerti sepenuhnya oleh pemakai, atau tidak sesuai dengan gaya trading pemakainya. Sementara gaya trading umumnya dibentuk dari pengalaman trading dan karakter si pengguna, jadi kesimpulannya :

“Tidak ada indicator yang terbaik untuk SEMUA TRADER, tapi tentunya ada indicator yang terbaik untuk MASING-MASING TRADER.”

Jadi saya percaya jika kita ingin serius menjadi trader di pasar modal, kita harus mencari gaya analisa atau indicator yang paling sesuai dengan gaya trading kita. Untuk mendapatkan jawaban tersebut kita bisa lalui dengan banyak membaca buku, untuk lebih mengerti dasar-dasar Technical Analysis, dan tentunya melalui pengalaman trading dari hari ke hari.

Jika anda ingin memakai Popular Technical Indicator seperti MACD, Bollinger Band, RSI, Stochastic, saya sangat menyarankan untuk anda membaca buku-buku yang membahas secara mendalam indicator-indicator  tersebut. Saya rasa tidak cukup hanya mengerti cara pakai indicator tersebut melalui workshop basic atau advanced technical analysis, kita harus mendalami sendiri indicator yang kita pakai. Ada beberapa buku yang saya rekomendasikan untuk anda baca :

Technical Analysis for Megaprofit (Edianto Ong), bagi anda yang belum pernah membaca buku TA apapun, buku ini membahas dasar-dasar TA dan ditulis dalam Bahasa Indonesia yang mudah untuk dipahami, buku ini bisa anda beli di hampir setiap toko buku besar di Indonesia.

Untuk belajar lebih dalam terutama untuk mempelajari keempat indikator populer yang dibahas di atas, anda bisa membaca buku :  John J Murphy – Tech Analysis Of The Financial Markets dan John Bollinger – Bollinger On Bollinger Band. Kedua buku ini ditulis dalam Bahasa Inggris, dan dianggap buku wajib baca bagi setiap technical anaylst.  Anda bisa mendapatkan ebook dari kedua buku di atas disini.

Dan jika anda ingin belajar membuat system trading sendiri, anda harus memiliki Software Technical Analysis seperti Metastock atau Amibroker, setelah itu anda bisa belajar dengan mencari tutorial di internet mengenai cara membuat indicator, system trading dll. Jika anda punya uang lebih anda bisa mengikuti workshop yang mengajarkan hal-hal tersebut. Atau tentunya jika uang anda berlebih anda bisa mencoba satu-satu system technical analysis yang dijual dan umumnya memiliki harga yang cukup tinggi, semoga saja ada yang cocok dengan gaya trading dan karakter anda.

Intinya proses pembelajaran dan penerapan Technical Analysis adalah perjalanan panjang yang dibentuk dengan pengalaman menggunakan indicator-indicator yang bersangkutan, masing-masing akan menemukan cara analisa yang paling sesuai untuk dirinya sendiri, yang didapat melalui pengalaman dan karakter masing-masing.

(creative-traderdotcom)


Reccuring Revenue

Pentingnya Recurring Revenue

Ketika melakukan valuasi, kita akan memproyeksikan cash flow di masa mendatang dan mencari nilainya di masa kini. Artinya, tingkat keyakinan bahwa cash flow di masa mendatang sesuai dengan yang kita proyeksikan akan sangat menentukan tingkat akurasi dari valuasi yang kita lakukan.

Sebagai investor, kita tentu menginginkan memiliki perusahaan yang pendapatan dan labanya naik terus menerus secara konsisten. Dengan menggunakan spreadsheet, kita bisa dengan mudah mengetahui apakah secara historis, pendapatan dan laba perusahaan mudah untuk diprediksi. Lakukan regresi eksponensial dan lihat R-Square-nya. Semakin tinggi artinya semakin mudah untuk diprediksi.

Namun jika kita hendak mengetahui apakah pendapatan dan laba perusahaan akan mudah diprediksi atau tidak, kita tidak bisa hanya mengandalkan spreadsheet. Kita harus menggali lebih dalam lagi dengan mencari tahu apa saja sumber pendapatannya. Pada dasarnya terdapat dua jenis pendapatan: recurring (berulang) dan non-recurring (tidak berulang). Orang yang berlangganan surat kabar akan memberikan pendapatan yang berulang bagi surat kabar tersebut. Dalam bentuk lain, recurring revenue bisa berasal dari orang-orang yang secara rutin membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, pasta gigi, minyak goreng, dan lain sebagainya. Kita menyebutkan recurring revenue karena barang-barang yang dibeli umumnya cepat habis masa pakainya harus dibeli terus menerus.

Di sisi lain, penjualan mobil tidak bisa dikatakan sebagai recurring revenue. Jarang sekali orang membeli mobil secara rutin. Jika tahun lalu sebuah produsen mobil bisa menjual 100 unit mobil, untuk meningkatkan penjualan 5%, produsen tersebut harus menjual 105 unit mobil tahun ini. Hal serupa juga terjadi pada pengembang properti. Kemungkinan besar pembeli mereka di tahun depan tidak akan sama dengan pembeli mereka tahun ini. Satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan adalah baik produsen mobil maupun pengembang perumahan harus menerima kenyataan bahwa pesaing dari produk mereka sebagian adalah produk mereka sendiri yang mereka produksi sebelumnya. Rumah atau mobil yang telah dibeli bisa dijual kembali dan bersaing dengan rumah dan mobil yang baru diproduksi. Hal ini menjadi dilema bagi para produsen. Semakin besar ia membanjiri pasar, semakin besar jumlah pesaing mereka di masa mendatang.

Kita akan menemui hal yang berbeda penerbit surat kabar. Jika tahun lalu mereka bisa memiliki 100 pelanggan surat kabar, untuk meningkatkan penjualan 5% ia cukup mencari 5% pelanggan baru.

Secara intuitif, kita bisa menebak bahwa pertumbuhan penjualan perusahaan yang memiliki porsi recurring revenue besar akan cenderung lebih stabil dibandingkan perusahaan yang porsi recurring revenue-nya kecil. Berdasarkan pemikiran tersebut jugalah sekarang mulai banyak pengembang properti yang berusaha memperbesar porsi recurring revenue melalui sistem penyewaan dan bukan jual putus. Sebagai contoh, PWON yang memiliki recurring revenue 43% akan cukup tahan terhadap dampak dari kenaikan suku bunga. Para pengembang prooperti yang hanya mengandalkan penjualan rumah baru akan mengalami masa-masa yang sulit manakala suku bunga naik yang mengakibatkan konsumen menunda pembelian rumah.

(parahitadotwordpressdotcom)

Stop Loss Start Profit

Stop Loss Start Profit

Kami rasa semua yang berinvestasi di bursa saham adalah yang ingin mendapat keuntungan. Tidak ada yang masuk bursa harapannya ingin rugi. Jadi dari awal kita harus menanamkan ke diri kita untuk stop loss dan start profit. 

Untuk berhenti rugi dan mulai mendapat untung bagaimana caranya? Apakah harus kuliah S5 ilmu finansial? Atau punya gelar banyak? Mungkin itu bisa membantu, tapi cara paling sederhana adalah meniru orang pasar. Berhenti menjual saham dalam keadaan rugi dan hanya jual saham kalau sudah untung. 

Kedengarannya sederhana, tapi prakteknya? Untuk berhenti menjual rugi maka kita tidak bisa memasang batas cutloss. Karena dengan melakukan cutloss hanya berdasarkan perubahan harga, ada kemungkinan besar kejadian ini akan muncul dan kita secara otomatis mengakui bahwa kita salah dan bersedia menjual rugi. Lakukan ini 50x maka kita akan bangkrut. 

Alasan lain jangan cutloss adalah biasanya situasi ini akan mempengaruhi mental kita. Setelah cutloss apa yang terjadi? Kita meragukan keputusan kita dan yang berikutnya kita akan masuk dengan jumlah lebih kecil. Setelah benar barulah kita masuk lebih besar. Dan situasi akan kembali seperti di atas. 

Dan jika kita sering cutloss, kita akhirnya melegalkan tindakan itu menjadi bagian dari diri kita. Akhirnya kita menjadi terbiasa cutloss. Bukankah semua kebiasaan kita selalu dimulai dari hal-hal kecil? Seperti kata Warren Buffet, tindakan kita biasanya terlalu kecil untuk diperhatikan sampai akhirnya menjadi rantai kebiasaan yang susah diputus. 

Supaya tidak jual rugi, tentu ada yang harus kita lakukan supaya mencegah itu terjadi. Dari awal persiapan kita haruslah matang. Beberapa persiapannya adalah : 

1. Membeli saham yang bagus
Alasannya jika kita membeli perusahaan yang sudah teruji, maka akan ada orang lain yang akan membelinya, dan ini akan mendorong harga naik. 

2. Membeli saham yang masih punya prospek
Alasannya adalah jika prospek perusahaan menjadi realita, maka valuasi perusahaan menjadi murah dan ini akan mendorong orang lain membeli. 

3. Membeli saham yang dikelola orang jujur
Alasannya adalah supaya tidak akan ada kejutan tidak menyenangkan yang membuat harga saham turun dalam. Percuma sektornya lagi bagus tapi manajemennya bobrok.

4. Membeli saham dalam kondisi terdiskon
Alasan ini yang paling penting, karena dengan ini jika kita salah melakukan analisa terhadap perusahaan yang ada, kita tidak membeli saham di harga paling tinggi, dan jika suatu hari kondisi menjadi lebih baik, pemulihan kita lebih cepat dibanding jika membeli di harga puncak. 

5. Membeli dengan uang nganggur
Alasan terakhir ini yang menggenapkan semuanya. Jika kita membeli dengan uang panas atau yang diperlukan untuk kebutuhan, maka ketika harga bergerak berlawanan dengan harapan, kita akan menjadi panik dan akhirnya menjual dengan harga diskon. Tidak ada yang bisa menjual sesuatu dengan harga pantas jika sudah kondisi Butuh Uang kan? 

Ini kondisi umum yang bisa dilakukan jika ingin membeli tanpa perlu cutloss dan ingin profit. Mengenai detilnya, semua kembali kepada diri kita sendiri, karena pada akhirnya yang menentukan nasib kita di bursa bukan pihak luar, tapi kita sendiri.

Bagaimana kalau setelah membeli dan harga saham masih turun? Bagi kami itu adalah kesempatan kedua. Contoh jika kita ingin membeli saham ABCD di harga 600, kalau turun ke 500, bukankah ini berarti untuk barang yang sama, kita bisa mendapat lebih murah dan lebih banyak. Mengapa harus kuatir? Yang perlu dilakukan adalah mengecek apakah barang itu kualitasnya masih sama atau tidak. 

Bagaimana kalau harga di 500 dan kita sudah tidak punya cash? Kita bisa melakukan tambahan dana dari uang yang sudah disiapkan, ingat tetap uang nganggur, atau menjual saham lain yang sudah naik tinggi. 

Bagaimana kalau harga di 500 dan porsi saham sudah cukup besar? Saat itulah kita harus berhenti dan mengatakan ini sudah cukup. Rasa cukup inilah yang akan menghentikan kita berbuat gila di investasi. Karena dengan rasa cukup, maka kita bisa tenang melewatkan karir investasi kita dengan kedamaian hati. 

Apa gunanya kedamaian hati padahal seharusnya investasi itu berbicara tentang profit? Tanpa kedamaian hati, kemungkinan kita melakukan kesalahan menjadi besar dan hidup kita bukan di bursa saja. Kita punya keluarga, teman, lingkungan, pekerjaan, usaha, hobi, yang semuanya akan kita hadapi. Tanpa kedamaian hati, kita akan bertindak agresif terhadap mereka karena efek rugi di saham. 

Dan pada akhirnya kedamaian hati adalah tujuan jangka panjang semua manusia. Karena itu, invest long, prosper, and be happy. (sahamindonesia)


CONSIDERATIONS FOR YOUR INVESTMENT

CONSIDERATIONS FOR YOUR INVESTMENT


1. ON EARNING:
Never depend on single income. Make investment to create a second chance.

2. ON SPENDING:
If you buy things you do not need, soon you will have to sell things you need.

3. ON SAVINGS:
Do not save what is left after spending, but spend what is left after saving.

4. ON TAKING RISK:
Never test the depth of a river with both feet.

5. ON INVESTMENT:
Do not put all eggs in one basket.

6. ON EXPECTATIONS:
Honesty is a very expensive gift. Do not expect it from cheap people.

7. Past is a waste paper, present is a newspaper, and future is a question paper. Come out of your past, control the present, and secure the future.

8. When bad things happen in your life, you have three choices. You can either let it define you, let it destroy you or you can let it strengthen you.

9. Our eyes are in the front because it is more important to look ahead than to look backwards.

10. We use pencil when we were young, but now we use pens. Do you know why? Because mistakes in childhood can easily be erased, unlike now.

Mitos di Bursa Saham

Mitos Di Bursa Saham

Anda boleh percaya boleh tidak, jika saya katakan masih banyak investor saham yang percaya mitos. Bukan hanya di sini, investor Amerika juga tidak terkecuali, seperti yang diamati Peter Lynch yang pernah dijuluki manajer investasi nomor wahid di dunia oleh majalah Time. Inilah beberapa mitos yang masih dialami sebagian investor kita.

Pertama, harga saham itu sudah turun begitu dalam, sehingga tidak mungkin turun lagi. Investor umumnya yakin, saham yang harganya telah merosot drastis, tidak akan turun lebih rendah lagi. Nyatanya belum tentu.

Contohnya, saham BEST, harganya merosot dari Rp 730 menjadi Rp 294 sepanjang tahun 2015 lalu. Kalau Anda percaya mitos ini dengan membeli saham itu pada harga Rp 294, Anda akan gigit jari karena harga masih saja turun menjadi Rp 197 pada 10 Februari lalu, sebelum berbalik ke Rp 278 akhir pekan lalu.

Kedua, nanti saja beli saham itu kalau harga mencapai titik terendah. Masalahnya, kita tidak pernah tahu harga terbawah sebuah saham. Persis seperti jingle iklan rokok di televisi beberapa tahun lalu, pada saat harga saham anjlok, investor hanya bisa bertanya, "How low can you go?"

Saham BUMI yang pernah dihargai Rp 8.500 pada Juli 2008, sehingga menjadikannya saham berkapitalisasi terbesar di bursa kita, harganya merosot menjadi sekitar Rp 500 hanya dalam enam bulan setelah itu.

Kemudian, harga naik lagi ke kisaran Rp 3.000 di sekitar tahun 2011. Memasuki tahun 2012, harga terus turun, hingga menyentuh harga terendah Rp 50 sejak Agustus 2015.

Menurut Lynch, menebak harga terendah sebuah saham yang sedang turun, mirip seperti menangkap pisau yang sedang jatuh. Pisau tidak didapat, tangan malah terluka.

Ketiga, saya tidak mau menjual rugi (cut loss) saham saya. Nanti saja kalau harganya kembali ke harga beli saya, baru saya jual. Mengetahui harga saham turun -naik, Anda boleh saja berprinsip seperti itu.

Sebagai investor individu, Anda bebas memutuskan apa saja untuk uang dan portofolio Anda. Harga saham mungkin saja kembali naik seperti harapan Anda. Tapi, siapa yang dapat memastikan hal itu terjadi dalam waktu dekat. Bagaimana kalau lima tahun lagi? Kalau fundamental perusahaan dan prospek industrinya jelek, sebaiknya Anda bersikap realistis dan berani cut loss.

Lihat bagaimana harga-harga saham batubara terus turun lima tahun terakhir ini. Saham perusahaan sebagus Indo Tambangraya Megah (ITMG), harus mengalami. Pernah berharga di atas Rp 50.000 lima tahun lalu, saham ini kemudian terjun bebas, hanya Rp 4.800 pada awal Februari lalu dan kini berada di Rp 7.200.

Mengaku salah dan bersedia menerima kerugian adalah sangat manusiawi dalam investasi saham. Harga saham dalam satu tahun bisa turun sampai -91% pada tahun 2015 (saham TAXI), yaitu dari Rp 1.170 menjadi hanya Rp 105.

Sadarlah, tidak ada investor saham yang tidak pernah mengalami kerugian. Semua investor pasti pernah salah pilih. Anda masih dinilai jago bermain saham, jika kesalahan pilih hanya 1 dari 5 saham atau 2 dari 5 saham.

Jangan pernah bermimpi pemilihan saham Anda akan selalu tepat. Karena itu, jangan takut melakukan cut loss. Manajer investasi sering dan harus melakukannya. Menjadi aneh jika perusahaan asuransi badan usaha milik negara (BUMN) dan juga dana pensiun (Dapen) BUMN tidak pernah dibolehkan menjual rugi.

Keempat, harga sahamnya sudah meroket tinggi, sehingga tidak mungkin naik lagi. Investor saham HMSP yang membeli pada harga Rp 70.000 per saham di pertengahan tahun 2015 dan menjual di harga Rp 90.000 sekitar tiga bulan, kemudian banyak yang menyesal ketika menyaksikan harga emiten tersebut mencapai Rp 105.000 per saham di awal tahun 2016.

Kelima, kalau harga saham sudah naik 50%, cepat-cepat merealisasikan keuntungan Anda. Mitos ini berlawanan dengan mitos ketiga. Jika percaya dua mitos ini, Anda masih memerlukan banyak jam terbang untuk menjadi investor piawai. Bukan apa-apa, menerapkan dua mitos ini, akan menyebabkan Anda membatasi keuntungan tetapi tidak membatasi kerugian.

Artinya, Anda siap menerima kerugian berapapun, tapi tidak siap mendapatkan return di atas 50%. Nyatanya, 13 saham di bursa kita pada tahun lalu, harganya naik tidak kurang dari 100% dalam setahun. Sekadar Anda ketahui, return rata-rata 20 saham top gainers di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 12,1%, adalah 145,9% (78,2% hingga 336,2%).

Keenam, belilah saham perusahaan bagus itu atau hindari saham perusahaan jelek itu. Ketika membeli saham di pasar modal, banyak investor gagal membedakan antara saham bagus dan perusahaan bagus.

Saham bagus tidak sama dengan perusahaan bagus. Saham yang bagus (good stocks) adalah saham berharga bagus atau saham yang menjanjikan return yang besar di masa depan. Sedangkan perusahaan bagus (good company) ukuran sederhananya adalah perusahaan yang mempunyai rating bagus, minimal triple B sebagai batas rating layak investasi.

Tip dari saya, dalam berinvestasi saham langsung, jangan ragu bertanya dan belajar kepada yang berpengalaman. Serta jangan malas untuk membaca dan mencari informasi.

Malu bertanya, rugi di kantong.

by : Budi Frensidy

Lho Kheng Hong

Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur

Lo Kheng HongNama Lo Kheng Hong bisa jadi tidak terlalu terkenal. Tetapi di kalangan investor dan kalangan hartawan, ia menjadi, pakar saham, sumber ilmu dan inspirasi tentang bagaimana menjadi kaya secara benar dari saham. Di kalangan investor ia dikenal sebagai Warren Buffet-nya Indonesia, merujuk ke orang terkaya dunia yang juga membangun asetnya dari lembaran saham. Lo Kheng Hong menjadi fenomenal dengan ucapannya bahwa ia ingin menjadi kaya sambal tidur.

Di lain waktu ia mengatakan bahwa jika ingin kaya, masuklah ke investasi pasar modal (saham). Tanpa mendirikan saham atau memiliki usaha, asetnya kini diperkirakan lebih Rp2,5 triliun!

Sebagai investor saham yang sukses, ia menikmati waktu yang lebih lowong untuk melakukan apa yang ia sukai, termasuk bepergian ke mancanegara. Menurutnya ada 5 hal yang tidak perlu dimilikinya yaitu: tidak punya kantor, tidak punya pelanggan, tidak punya karyawan, tidak punya bos, dan tidak punya hutang. Semua properti dibeli tunai tanpa menggunakan KPR.

Lalu siapa sebenarnya Lo Kheng Hong, dan bagaimana tipsnya dalam berinvestasi saham yang baik?

Lo Kheng Hong terlahir sebagi sulung dari tiga bersaudara, dari keluarga yang sederhana. Menyadari keterbatasan keluarganya, ia pun tidak kuliah di kampus mahal. Lo Kheng Hong memilih kampus sesuai kemampuan ekonominya. Tahun 1979 ia mulai kuliah di jurusan Sastra Inggris di Universitas Nasional Jakarta, sambil bekerja sebagai tata usaha di PT Overseas Express Bank (OEB). Ia ingat uang kuliahnya hanya Rp10 ribu.

Diusia 30 tahun, tepatnya tahun 1989 Lo Kheng Hong mulai mengenal dan belajar investasi saham. Ia masih ingat saham yang pertama dibelinya adalah saham PT Gajah Surya Multi Finance saat penawaran perdana (Initial Public Offering – IPO). Untuk mendapatkan saham tersebut, ia ikut antri di Gedung BNI, Jl. Hayam Wuruk, Jakarta. Mengapa membeli saham saat IPO? Rupanya Lo Kheng Hong sudah menganalisa, dan melihat ada saham yang sesaat setelah IPO nilainya bisa melonjak tinggi. Namun apa yang terjadi, saham yang dibelinya malah turun dan ia menjualnya rugi. Namun Lo Kheng Hong tidak surut, ia bertekad belajar tentang saham.

Tahun 1990, ia berpindah kerja ke Bank Ekonomi ditempatkan di bagian pemasaran. Setahun kemudian karirnya melesat menjadi kepala cabang. Selama itu pula ia belajar investasi saham secara otodidak. Buku-buku strategi investasi Warren Buffet dilahap habis. Bagi Lo Kheng Hong, ia memilih belajar dari Warren Buffet karena ia sudah terbukti sebagai orang yang kaya dari berinvestasi saham. Povestrtofolio sahamnya pun meningkat. Akhirnya di tahun 1996, setelah 17 berkarir di Bank Ekonomi, Lo Kheng Hong memutuskan berhenti bekerja agar bisa fokus sebagai investor saham.

Artikel terkait: Belajar Investasi Saham

Lalu apa sih yang mendorongnya memilih saham sebagai sumber penghidupan?

Menurut Lo Kheng Hong, saham sangat berpotensi membuat orang lebih kaya. Potensi keuntungannya jauh lebih besar dibanding investasi riil lainnya. Itulah sebabnya ia tidak tertarik berinvestasi emas atau properti, misalnya. Selain itu, investor saham memiliki waktu luang lebih banyak. Investor saham merupakan pemilik perusahaan, tetapi tidak perlu pusing mengelola perusahaan, mengurus karyawan, pelanggan.

“Saya juga tidak pernah membeli emas, karena emas tidak produktif. Jika kita simpan emas 1 kg, maka 10 tahun lagi tetap 1 kg. Dan saya juga tidak membeli dolar. Orang yang menyimpan dolar umumnya mengharapkan hal yang buruk terjadi, krisis ekonomi, negara tidak stabil, agar rupiah melemah dan dia memperoleh keuntungan,” ungkapnya kepada Majalah SWA.

Dengan demikian, investor sebagai sleeping partner suatu usaha bisa lebih leluasa menggunakan waktunya untuk melakukan hal-hal lain yang disukainya. Setiap hari ia melakukan apa yang disebutnya RTI: readingthinking, dan investing. Ia membaca setidaknya 4 koran langganannya setiap hari, membuka website BEI, dan sumber informasi lainnya untuk menambah pengetahuan. Ia juga senang membaca buah pikiran Warren Buffet, sang investor idola.

Istilah sleeping partner inilah yang kemudian berkembang bahwa sebagai investor saham, uang bisa terus berkembang selama investornya tidur. Lo Kheng Hong menjelaskan bahwa yang bekerja keras di dalam perusahaan adalah karyawan, para manajer, dan direktur. Namun mereka hanya mendapatkan gaji dan bonus, tetapi tidak berhak menikmati keuntungan perusahaan.

Dengan prinsip ini, Lo Kheng Hong telah mengoleksi saham pilihan dari lebih 30 perusahaan. Salah satunya adalah saham perusahaan peternakan ayam PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) dimana kepemilikannya mencapai 8,28%. Ia mengaku sahamnya di perusahaan lain tidak lebih dari 5% dari total saham.

Pilihannya terhadap saham MBAI ternyata tepat. Lo Kheng Hong saham MBAI tahun 2005 seharga Rp250 per lembar saham. Ditahun 2011, atau 6 tahun kemudian, nilai saham MBAI sudah menjadi Rp31.500 per lembar, atau meningkat 12.500% hanya dalam tempo 6 tahun. Demikian juga dengan saham perusahaan pelayaran bernama PT Rig Tender Indonesia (RIGS) dibelinya dengan harga Rp800 per lembar saham. Satu setengah tahun kemudian Lo Kheng Hong menjualnya di posisi Rp1.350 per lembar.

Demikian juga dengan 850 juta lembar saham PT Panin Financial yang dibelinya di harga Rp100. Tidak lebih 1,5 tahun kemudian ia menjual saham tersebut di harga Rp260!

Tips Berinvestasi Saham

Lo Kheng Hong bukanlah tipe pedagang saham (trader) yang aktif melakukan jual beli saham setiap hari. Ia adalah tipe investor sejati, yaitu menanam duitnya dalam saham untuk jangka panjang. Baginya, investor jauh lebih menguntungkan dibanding menjadi trader. Hidup juga lebih nyaman, tidak perlu diburu nafsu setiap saat.

Tak urung kesuksesan Lo Kheng Hong di dunia investasi saham selalu menjadi inspirasi. Nasehat-nasehatnya selalu dinanti dan menjadi acuan menarik bagi banyak orang. Berikut adalah beberapa tips suksesnya dalam berinvestasi saham:

  • Belajar tidak akan pernah berhenti. Tidak ada orang yang terlalu pintar untuk menjadi investor. Investor berpengalaman juga masih bisa membuat keputusan keliru,
  • Saat menilai suatu perusahaan, terlebih dahulu perhatikan manajemen. Apakah perusahaan tersebut dipimpin oleh jajaran manajemen yang baik dan dikelola dengan professional,
  • Perhatikan PER (Price Earning Ratio). Ia menyarankan untuk memilih saham perusahaan yang PER-nya minimal lima.
  • Fundamental perusahaan merupakan faktor penting. Bagi Lo Kheng Hong, grafik-grafik teknikal diabaikannya karena sering menampilkan data yang tidak sebenarnya,
  • Saat tepat untuk masuk investasi saham adalah saat krisis atau saat harga saham lagi pada turun, dan menjualnya saat naik.

Apakah investasi Lo Kheng Hong juga pernah jatuh?

Investasi memang tidak selalu enak. Saham bisa turun naik, menantang jantung. Menurut Lo Kheng Hong, disaat saham tak menentu, disitulah terlihat investor yang sesungguhnya. Ia melihat, kebanyak investor hanya ikut-ikutan. Ramai-ramai masuk pasar, demikian juga kaburnya bareng-bareng. Padahal, keputusan investor yang benar bisa saja sebaliknya.

Prinsip investasinya mengacu pada prinsip Warren Buffet: “Be fearful when the other s are greedy, and be greedy when the others a fearful.” Makanya, berbeda dengan perilaku investor pada umumnya, ia tetap tenang saja dan tidak menjual saham sebuah perusahaan tambang batubara yang justru sedang kolaps.

Kisah lainnya, ia mengenang tahun 2008 saat membeli saham Petrokimia di posisi Rp200. Saham tersebut kemudian anjlok ke harga Rp60. Pada posisi ini kebanyakan orang akan panik dan melepas saham. Namun Lo Kheng Hong berbuat sebaliknya. Disaat saham tersebut jatuh, ia memborong lebih banyak lagi di harga murah. Benar saja, tidak lama kemudian saham Petrokimia naik ke Rp300.

Tentu saja Lo Kheng Hong tidak melupakan investasinya yang jatuh sewaktu krisis finansial tahun 1997-1998. Asetnya habis hingga uang tersisa hanya 15% saja. Namun hal itu tidak membuatnya kapok. Lo Kheng Hong menggunakan sisa uangnya untuk membeli saham, yang akhirnya sudah meningkat berlipat-lipat lebih 150.000%.

Dalam sebuah diskusi ada yang menanyakan, bila semua asetnya diinvestasikan darimana Lo Kheng Hong membiayai hidupnya. Ia menjawab bahwa deviden yang diterimanya, lebih dari cukup untuk itu.
(Sumber: SWA, Berita Satu, Liputan6, dll).