Jumat, 30 September 2016

Lo Kheng Hong: Saham ~ ATM


LO KHENG HONG : JADIKAN SAHAM SEPERTI ATM

Liputan Khusus Kontan 29 Agustus 2012. Sukses dan nama besar Warren Buffet di dunia investasi menuai kekaguman dari pemain saham di penjuru dunia. Tak sedikit investor yang menjadikan Buffet sebagai panutan, mempelajari strategi investasinya, dan menerapkannya. Di Indonesia, salah satu yang terinspirasi oleh Buffet adalah Lo Kheng Hong.
Pria berusia 53 tahun ini berpegang pada metode analisis fundamental Buffet. Ia tak bergeming dan tak pernah sekali pun mencoba jurus investasi saham lain.

Bagi Lo, Buffet adalah gurunya. Ia hafal di luar kepala banyak petuah Buffet, kisah hidup
sang maestro, bahkan menghormati prinsip hidupnya. Rupanya tak sia-sia Lo membaca puluhan buku ‘ajaran’ Buffet, ia menarik pelajaran dari situ dan hasilnya? Lo telah memetik keuntungan besar dari bursa saham.  Keuntungannya dari saham berlipat ribuan persen.

Nafkah hidupnya pun hanya berasal dari saham. Ia mengaku tak punya usaha atau pekerjaan apapun selain berinvestasi saham. Tak heran, pelaku bursa banyak menjuluki ayah dua orang anak ini sebagai Warren Buffet-nya Indonesia.

Simak kisah, pandangan hidup, dan strategi investasi Lo dari pengakuannya sendiri kepada KONTAN berikut.

Saya ini hanya seorang investor, 100% uang saya taruh di saham.
Jadi saya tidak bekerja dan saya tak punya kantor. Saya hanya punya satu sopir untuk mengantar-antar saya dan dua pembantu di rumah. Saya bangga jadi investor saham. Kalau ...>>>
mengisi formulir, misalnya di bank pun, saya selalu tulis profesi saya investor saham.

Saya ini sudah berinvestasi saham selama 23 tahun. Tentu saja tidak semua investasi saya berhasil, saya pernah jatuh. Saya juga tidak langsung pintar.

Semakin lama orang bermain saham, dia bisa belajar dari kesalahannya dan akan semakin terlatih.  Saya percaya, orang yang berhasil itu adalah orang yang jatuh tapi bangun lagi.

Pertama kali saya membeli saham tahun 1989. Berapa modal awal saya? Nol. Waktu itu saya masih karyawan Bank Ekonomi, jadi saya hanya menyisihkan sedikit demi sedikit dari gaji saya. Kalau orang lain membelanjakan penghasilannya untuk macam-macam, saya belanjakan sebagian gaji setiap bulan untuk membeli saham.

Saya ingat, di awal saya invest, saya mengantre untuk membeli saham penawaran perdana (IPO) PT Gajah Surya Multifinance. Antrenya panjang sekali. Saya semangat membeli, eh nggak tahunya begitu listing saham itu jeblok. Hahaha...

Tapi saya tetap yakin dan terus berinvestasi sampai akhirnya pendapatan dari saham bisa menghidupi saya. Ketika saya sudah merasa cukup, pada tahun 1996, saya berhenti dari Bank Ekonomi pada saat saya sudah jadi Kepala Cabang.

Ada empat alasan kenapa saya memilih menjadi investor saham.

Pertama, investor saham bisa menjadi orang terkaya di dunia. Contohnya? Ya, Warren Buffet. Saya belajar dari dia. Selama 10 tahun terakhir ini, saya sudah baca 40-an buku tentang Buffet. Buku itu tak hanya saya baca sekali, tapi saya ulangi dua tiga kali, benar-benar saya pahami isinya.

Kedua, keuntungan perusahaan itu hak si pemegang saham. Bayangkan, yang bekerja direksi dan karyawan, tapi begitu untung yang menerima pemegang saham. Enak kan? Membeli perusahaan yang untung besar itu seperti membeli mesin pencetak uang.

Ketiga, dalam jangka panjang imbal hasil saham lebih tinggi dari instrumen investasi lainnya, seperti obligasi, emas, dan properti.

Keempat, jadi investor itu waktu luangnya banyak. Anda tahu, di dunia ini ada empat macam manusia. Tipe pertama,  orang yang punya banyak waktu tapi tidak punya uang. Contohnya, orang pengangguran.
Tipe kedua,  yang punya banyak uang tapi tidak punya waktu. Yang ini biasanya para pengusaha. Lalu tiga, orang yang tidak punya waktu dan tidak punya banyak uang juga. Ini kebanyakan para pegawai yang bergaji kecil.
Tipe terakhir, orang yang punya waktu dan punya uang. Tipe terakhir inilah yang saya inginkan sebagai investor saham. Orang bilang, time is money. Buat saya tidak, waktu lebih berarti dari uang. Uang bisa dicari, tapi uang tidak bisa mengembalikan waktu.
Sekarang saya merasa punya banyak waktu. Saya bisa travelling menjelajahi berbagai kota di lima benua. Sekali saya pergi, tidak sebentar lho, saya bisa tinggal sampai sebulan di sana.
Tapi saya juga memanfaatkan waktu saya untuk membaca. Setiap pagi, bangun, lalu saya pergi ke taman, duduk membaca dan berpikir. Itu hobi saya. Laporan keuangan itu makanan sehari-hari. Saya juga berlangganan empat koran, tiga di antaranya koran bisnis termasuk KONTAN. Semuanya saya baca dari halaman satu sampai habis.

Sering saya baru mandi jam satu, kemudian keluar, kadang pergi ke sekuritas. Saya ini manusia gaptek. Saya tidak punya laptop, tidak mengerti apa itu email atau internet apalagi online trading. Jadi saya membeli saham selalu lewat telepon kepada beberapa sekuritas. Saya tidak takut kehilangan momentum meskipun membeli lewat telepon, kan saya bermain saham untuk jangka panjang.

Dalam berinvestasi, saya berusaha membeli perusahaan yang bagus di harga murah dan saya simpan.
Saya punya lima kriteria untuk membeli perusahaan publik.

Pertama, lihat manajemennya apakah dikelola orang yang jujur, profesional, berintegritas, dan saya kagumi. Jarang sekali orang membeli saham dengan melihat ini, biasanya orang hanya lihat laporan keuangan. Tapi bagi saya, kalau dalam properti itu ada istilah lokasi, lokasi, lokasi, dalam ekuiti itu harus manajemen, manajemen, manajemen.

Kedua, perhatikan usahanya. Di masa depan akan seperti apa bisnis itu? Memang, hari esok itu misteri. Tapi saya sendiri berpendapat, masa depan itu ditentukan juga dari masa lalu. Bagi perusahaan yang sudah memenuhi syarat pertama tadi, kita bisa lihat masa lalunya dalam jangka panjang misalnya 5-10 tahun ke belakang. Kalau itu untung, kemungkinan ke depan juga akan untung.

Ketiga, cari perusahaan yang labanya besar.  Hitung berapa besar profit margin-nya dan return on equity-nya (laba per saham).

Keempat, pilih perusahaan yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.

Kelima, cermati valuasi dari PER (price earning ratio) atau PBV (price to book value), bandingkan dengan kompetitornya. Belilah yang murah. Kesempatan emas untuk membeli saham bagus dengan harga murah tentu saja di tengah kondisi krisis. Saya selalu ikuti prinsip Buffet, be greedy when the others are fearful.
Dengan lima prinsip sederhana itu nyatanya saya berhasil.

Pada tahun 2005, saya membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI). Waktu itu harga perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia ini baru Rp 250 per saham. Saya kumpulkan pelan-pelan sahamnya sampai akhirnya punya 8,29% saham. Tahun lalu, harga sahamnya sudah mencapai Rp 31.500, jadi naik 12.600%. Keuntungan itu saya realisasikan. Saham itu saya jual karena dia akan merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).
Saya juga pernah punya saham PT Timah Tbk (TINS). Saya beli di tahun 2002 seharga Rp 285. Dalam dua tahun harganya naik ke Rp 2.900. Saya jual, tapi setelah saya lepas, dia terbang lebih tinggi lagi. Waktu itu ilmu memang belum tinggi. Begitu harga saham naik banyak, saya gemetar.
Menyesalkah saya? Begini, kalau investor saham tidak bijak, maka seluruh hidupnya akan berisi penyesalan. Jual sekarang, besok harga lebih tinggi lagi. Tahan, enggak tahunya harga turun terus.

Selain dua saham itu, saya pernah mendapat keuntungan cukup besar dari PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphan Tbk (CPIN), PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).

Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham maksimal 4%. Tidak banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya juga merotasinya. Kalau ketemu satu perusahaan bagus, maka saya cari mana di portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu juga.

Saya juga pernah rugi.
Saya pernah rugi karena margin. Makanya sejak tahun 1998 saya enggak pernah memakai fasilitas margin lagi.
Saya sekarang bebas utang. Pernah dengar kisah Jesse Livermore? Dia salah satu investor yang sangat sukses di jaman dulu. Dari tukang tulis papan bursa dia investasi saham dan jadi investor besar. Tapi dia berutang dan akhirnya ketika investasinya gagal, dia bunuh diri.

Saya tidak mau seperti itu. Kalau tidak punya utang, meskipun saham saya hancur, saya tidak apa-apa. Saya masih punya saham itu yang ke depan juga bisa naik lagi.
Karena itu, meskipun harga saham jatuh dan uang saya tinggal 15%, saya tetap membeli saham. Tentu saja istri tidak tahu...ha ha ha. Saya membeli saham United Tractors (UNTR), saham bagus yang harganya sudah murah sekali. Waktu itu pernah jatuh sampai Rp 125, tapi saya baru masuk di Rp 250. Padahal, laba operasi per sahamnya sudah 7.800.
Saya belikan semua sisa uang saya untuk satu saham itu. Dan benar, UNTR naik terus. Pada tahun 2004, saya akhirnya jual. Waktu itu harga UNTR Rp 1.350, tapi ini harga sesudah stock split. Kalau dihitung itu kira-kira setara Rp 15.000, jadi saya untung sekitar 6.000%.

Saya ini tidak sama dengan investor saham umumnya.
Saya tidak suka mengejar dividen. Menurut saya, lebih baik saya investasi pada perusahaan yang menggunakan devidennya sebagai modal kerja. Itu akan lebih memberi saya keuntungan.
Saya juga tidak mengejar saham-saham IPO. Dari pengalaman, kalau kita beli saham IPO, ketika sahamnya naik ternyata kita cuma dikasih beberapa lot saja. Tapi kalau jeblok, seringnya kita pesan berapa pun dikasih.

Saat ini, saya melihat IHSG bagus, sudah di atas 4.000 di kondisi krisis seperti ini.

Tapi bukan berarti semuanya mahal. Makanya investor harus melakukan pekerjaan rumahnya, risetlah mana yang masih murah. Saya sendiri sekarang memiliki saham di sektor perbankan, consumer goods, peternakan, sawit, bahkan batubara.
Sejauh ini, saya masih bermain saham di bursa dalam negeri. Tapi bulan depan saya rencananya akan pergi ke Yunani. Saya akan mendalami bursa di sana, pasti banyak saham bagus yang harganya murah. Ini kesempatan.
Terakhir, saran saya bagi investor sekarang: kerjakan PR.

Berapa banyak dari investor yang masih baca laporan keuangan? Berapa yang melakukan analisis fundamental? Membeli saham perusahaan tanpa melihat lima hal dasar yang saya sebut tadi itu dan hanya melihat chart menurut saya tidak benar, keliru, dan menyesatkan. Investor harus tahu apa yang dia beli.

Main saham itu juga bukan perkara hoki. Tuhan itu maha pengampun, tapi bursa saham tidak punya belas kasihan pada orang yang tidak tahu apa yang dia beli.

Kamis, 11 Agustus 2016

Investasi itu membosankan

Artikel menarik ... Dari ketukan jari ibu Linda

Investasi itu Membosankan 

Demikianlah ucapan salah satu praktisi investasi saham. Kami mengenal beliau sejak 2 tahun lalu, dan sampai sekarang saham di portofolio dia tidak berubah banyak. Bahkan bisa dihitung dengan sebelah jari. UNVR, BBRI, BBCA, BMRI, dan BSDE. Barulah akhir-akhir ini ada penambahan AISA, GJTL, ROTI, LPCK. Tetap tidak lebih banyak dari jari di tangan. Ini yang dia miliki sekarang dan sebelumnya. Jadi sahamnya bolak balik ini saja. 

Apa ga bosan? Itu pertanyaan banyak orang. Apa bisa cuan? Bukankah idaman semua investor, bisa cuan 20% dalam sehari atau sebulan. Kalau model saham seperti di atas, ya paling cuma 20% dalam setahun. Terlalu lambat. Demikian alasan 90% investor. Dan sepertinya, inilah yang membedakan antara investor yang profit dan yang rugi.

Karena kita tidak sabar, maka kita berusaha bekerja keras mencari saham yang bisa memberikan gain paling cepat dan besar. Padahal investasi itu sendiri adalah bagaimana membuat uang bekerja untuk kita, bukan kita bekerja untuk uang. Dan karena tidak sabar, kadang kita membuang saham yang berpotensi naik hanya untuk mengejar saham lain. 

Memupuk kekayaan bukan dengan cara ini. Haruslah dimulai dari nol dan selangkah demi selangkah. Kecuali kita punya kepintaran seperti Mark Zuckerberg. Bahkan Peter Lynch dan Warren Buffet saja cuma mengincar 20% per tahun. 

Alasan utama adalah karena untuk mengamankan dana investasi kita. Karena target investasi adalah untuk jangka panjang. Seperti bisnis lainnya, butuh beberapa tahun hanya untuk balik modal, atas dasar apa kita berharap besok atau minggu depan sudah profit. Dengan fokus ke perusahaan yang sudah teruji, maka dana kita sendiri juga aman. Dan tiap tahun akan bertumbuh. 

Jangan sampai kesalahan terjadi di awal. Karena sekali salah, akan susah untuk diperbaiki. Baik dari kebiasaan maupun mengejar profit. Contoh, kita mau cepat kaya, makanya mengejar saham yang bisa memberikan hasil cepat. Tapi karena biasanya di awal kita kurang ilmu, maka kita akan terjebak lose. Setelah lose, kita akan kalap membeli saham lain hanya untuk menutupi lose. Karena faktor emosi sudah bermain, hampir dipastikan kita tidak akan selamat mencapai tujuan kita berinvestasi. 

Ini sama seperti mengendarai mobil. Apakah bijak jika ketika hari pertama mulai mengendarai mobil, kita langsung memakai mobil balap Formula 1 hanya demi mencapai tujuan? Rasanya kita akan berakhir di rumah sakit alih-alih mencapai garis finish. 

Dan investasi itu sendiri membosankan. Kita cuma melakukan analisa, memahami bagaimana perusahaan dan saham ini bergerak ke depannya, membeli dan menunggu hingga analisa kita terbukti benar. Mau memakai cheerleader atau ancaman bom, saham tetap akan bergerak sesuai kondisi pasar. Kita hanya perlu menunggu semuanya terjadi. 

Kalau kita merasa semangat sampai melompat-lompat hanya karena pergerakan saham, patut ditanyakan, kita sedang berada di bursa saham atau di kasino. Dalam investasi, emosi tidak pernah berperan penting. Karena semuanya murni hitungan bisnis. Tapi menariknya, hanya ketika terjadinya perubahan emosi karena fear dan greed, maka kesempatan bisa muncul. Apakah kesempatan membeli atau menjual. 

Tugas kita hanyalah mengerjakan PR. Menganalisa apakah saham ini sudah murah atau mahal. Apa hal positif dan negatif ke depannya yang mungkin merubah rencana kita. 

Apakah kita melibatkan emosi ketika mengerjakan PR? Silakan dijawab masing-masing.

Sabtu, 30 Juli 2016

John Murphy - Teknikal Analisis

10 Aturan dalam Teknikal Analisis ala John Murphy

Untuk anda para trader yang menfokuskan diri pada teknikal analisis untuk megambil keputusan transaksi,dipastikan mengenal sosok John Murphy. Untuk anda yang belum mengenalnya, John Murphy adalah penulis, kolumnis serta pembicara tentang analisa teknikal. Sepuluh Aturan dalam teknikal trading – adalah kumpulan rekomendasi yang paling sering diberikan oleh John Murphy kepada orang-orang yang baru dalam dunia teknikal analisis. Susunan aturan ini didasarkan pada pertanyaan dan komentar yang diterimanya selama bertahun-tahun setelah berbicara kepada berbagai jenis peserta. Jika anda bingung bagaimana cara menggunakan teknikal analisis dalam praktek anda, saran ini mungkin dapat membantu anda.

Kemana pasar akan bergerak? Seberapa jauh harga naik atau turun akan terus berlangsung? dan kapan dia akan berbalik arah? Inilah pondasi dasar yang menjadi perhatian utama oleh para analis teknikal. Di balik grafik dan rumus matematika (indicator) yang digunakan analis, mengidentifikasi trend adalah hal yang paling utama dalam teknikal analisis sampai saat ini.

10 hukum dasar teknikal trading ini dirangkum dan dikembangkan oleh john Murphy berdasarkan pengalamannya selama 30 tahun selama menjadi analis maupun pembicara. Aturan ini dirancang untuk membantu para pemula memahami secara garis besar (inti) dari teknikal analisis dan merampingkan metodologi trading untuk para analis yang lebih berpengalaman.

John Murphy lebih mengutamakan arah pergerakan harga ataupun trend ketimbang mencari tahu alasan kenapa trend itu terjadi. Jadi untuk anda yang menerapkan teknikal analisis untuk bertarung dalam market, pola pikir dan sudut pandang John Murphy akan sangat membantu anda.

trend_range

1. Memetakan Trend
Pelajarilah Chart Jangka Panjang. Mulailah menganalisa chart dengan Timeframe Monthly dan Weekly yang mencakup data beberapa tahun. Peta Market skala besar (Timeframe besar) lebih mudah digunakan untuk menentukan perpektif pasar jangka panjang. Ini berguna untuk menemukan tanda-tanda trend pergerakan harga saat ini. jika trend jangka panjang sudah anda temukan, selanjutnya lihatlah arah pergerakan harga pada timeframe yang lebih pendek, yaitu daily chart. Perspektif chart jangka pendek biasanya dapat menipu anda (false signal). Anda sebaiknya menggunakan trend jangka menengah maupun jangka panjang sebagai acuan utama. Walaupun anda melakukan trading jangka pendek, atau bahkan sangat pendek, Akan Lebih anda membuka posisi sesuai arah trend jangka menengah maupun jangka panjang

2. Temukan arah trend dan ikutilah trend tersebut.
Tentukan arah trend dan ikutilah arah trend. trend pasar terdiri dalam berbagai ukuran – jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Pertama-tama tentukanlah pilihan anda untuk melakukan trading (long,medium, atau short) dan gunakanlah grafik (timeframe) yang sesuai dengan pilihan anda. Selanjutnya anda hanya perlu memastikan diri anda bertransaksi searah dengan trend. ambilah posisi buy jika trend up, dan sell saat trend down. Jika anda memilih untuk trading pada trend menengah, gunakanlah chart daily dan chart weekly. Jika anda memilih menjadi intraday trader, gunakanlah minimal chart daily dan chart dengan timeframe di bawahnya. Akan tetapi anda lebih baik menentukan trend jangka panjang dan mengambil posisi pada timeframe yang lebih kecil.

support-resistance-role-reversal-in-uptrend

3. Temukan Level Harga Tertinggi dan Terendah. (support dan Resistance)

Carilah level support dan resistance. Tempat terbaik untuk mengambil posisi buy adalah saat harga berada dekat dengan level support terakhir. Dan begitu juga sebaliknya, tempat terbaik untuk mengambil posisi sell adalah saat harga berada dekat dengan level resistance terakhir. Jika level resistance telah ditembus oleh harga, maka selanjtunya support terakhir yang digunakan adalah level resistance tersebut. Begitu juga berlaku saat level support tertembus oleh harga. Maka level support itu menjadi level resistance terakhir yang digunakan di masa depan. Dengan kata lain. High (level resistance) yang lama telah menjadi new low (level support).

retracement
4. Seberapa jauh harga akan bergerak dan berbalik
Ukurlah persentasi retracement atau koreksi. Retracement atau koreksi di dalam pasar yang sedang naik atau turun biasanya ditinjau dari trend pasar sebelumnya. Anda dapat mengukur koreksi dalam trend yang ada dalam presentasi sederhana. Retracement 50% (dari trend) adalah angka yang paling umum. Namun John Murphy menjelaskan bahwa sebuah Retracement minimum biasanya adalah sepertiga dari trend sebelumnya, dan retracement maksimum biasanya adalah dua pertiga. Dalam angka Fibonacci, Murphy menyarankan angak 39% dan 61.8% layak untuk ditunggu.

Linechart_Trendlines

5. Tariklah garis pada level penting
Menggambar Trendline adalah salah satu alat charting paling sederhana dan paling efektif. Yang anda butuhkan hanyalah dua titik support, maupun resistance dalam chart. Pada trend up garis ditarik pada dua titik low price berturut-turut yang sedang menaik / meninggi. Sebaliknya pada trend down. Garis ditarik pada dua titik high price yang menurun / semakin rendah. Harga akan sering menguji level-level garis tersebut jika sedang melanjutkan trend. dan jika garis ini ditembus oleh harga, itu merupakan tanda-tanda perubahan trend. sebuah garis trend yang valid harus disentuh setidaknya tiga kali. Semakin lama garis trend itu valid dan diuji, maka garis itu semakin penting.

6A

6. Ikuti garis moving average (harga rata-rata)
Moving average adalah garis yang terdiri dari hasil perhitungan harga rata-rata dalam chart anda. Moving average menyediakan tanda-tanda untuk melakukan buy dan sell secara objektif. Indikator ini memberikan informasi kepada anda jika trend masih bergerak rally sekaligus membantu anda mengetahui tanda-tanda konfirmasi saat trend berbalik arah. mungkin moving average tidak memberikan sinyal kepada anda secara cepat, namun dua moving average adalah cara paling populer untuk mendapatkan sinyal perdagangan. Beberapa trader mungkin menggunakan kombinasi 4 dan 9 MA. 9 dan 18 serta 5 dan 20 dalam chart daily. Sinyal diberikan saat MA yang lebih pendek melintasi MA yang lebih panjang. Ini bekerja baik dalam pasar yang sedang trend.

9191-Overbought-&-Oversold-Conditions-for-MCD

7. Pelajarilah tanda-tanda pembalikan arah.
Gunakanlah Oscillator untuk membantu mengidentifikasi apakah pasar sudah overbought atau oversold. Jika sebelumnya MA memberikan konfirmasi tentang pembalikan atau kelanjutan trend, oscillator sering membantu anda secara khusus untuk mengetahui pasar akan melanjutkan trend atau akan berbalik arah. Oscillator paling populer adalah RSI dan Stochastic Oscilator. Dua indikator ini terdiri dari data 0 sampai 100. Dengan RSI, saat garis melebihi angka 70 memberikan informasi overbought, dan dibawah nilai 30 berarti oversold. Nilai overbought dan oversold pada stochastic adalah 80 dan 20. Pada umumnya para trader menggunakan jangka waktu 14 hari ataupun 14 minggu. Dan pada stochastic, mereka menggunakan 9 hari ataupun 14 hari. Selain titik jenuh, oscillator juga menyediakan divergensi yang memperingatkan arah tujuan pasar. Oscillator sangat bekerja baik pada pasar sideway. Sinyal pada chart mingguan dapat digunakan pada sinyal harian. Sinyal harian dapat memberikan filter untuk chart intraday h4 maupun h1.

MACD

8. Mengetahui tanda-tanda perubahan trend

Perdagangan indikator MACD. Moving Average Convergence Divergence (MACD) indikator (yang dikembangkan oleh Gerald Appel) menggabungkan sistem moving average yang crossover dengan / elemen oversold overbought dari oscillator. sinyal buy ditunjukkan ketika garis Slow MA (MA 12) menyilang ke atas atas garis Fast MA (MA 26) dan kedua berada di bawah nol. sinyal sell terjadi ketika garis Slow MA menyilang ke bawah garis Fast MA dari atas garis nol. Diprioritaskan sinyal dmingguan daripada sinyal harian. Histogram memiliki plot yang sedikit berbeda dari sinyal garis ma. Divergensi histogram dapat memberikan sinyal yang lebih awal, namun tetap dikonfirmasi oleh MA. perubahan trend juga dapat dilihat dengan divergensi histogram MACD dengan pergerakan harga.

xao_dms_adx

9. Trend atau Bukan Trend

Gunakan indikator ADX. The Average Directional Movement Index (ADX) adalah indicator yang digunakan untuk menentukan apakah pasar berada dalam fase trend atau fase sideway. Untuk mengukur tingkat kecenderungan atau kekuatan trend pasar. Saat garis ADX naik berarti menunjukkan adanya penguatan trend. Sebuah garis ADX yang turun menunjukkan adanya pelemahan trend. Dengan memplot arah garis ADX, trader dapat menentukan trading style dan memilih seperangkat indikator yang paling cocok untuk keadaan pasar saat ini.

canvol-2-fdxexam

10. Mengetahui sinyal konfimasi
Janganlah abaikan volume. Volume adalah indiKator yang sangat penting untuk mengkonfirmasi transaksi. Hal yang terpenting adalah memastikan volume sinkron dengan arah trend yang berlaku. Semakin besar volume berarti semakin kuat trend yang sedang terjadi. Penurunan volume menandakan bahwa trend tersebut hampir selesai atau pelemahan trend sedang terjadi. (sayangnya volume dalam instrument Forex sangat terbatas kevalidan datanya. Volume sangat berperan dalam pasar saham)

Dan tambahan yang sangat penting sebagai angka kesebelas (diambil dari nasehat John Murphy sendiri)

“11.”
KEEP ON IT. Teknikal analisis adalah skill yang berkembang dari pengalaman dan belajar. Tetaplah menjadi murid dan terus belajar.

Minggu, 24 Juli 2016

Trader sukses


3 Skill yang Membedakan Trader Sukses dengan Trader Gagal

Dalam kamus bahasa Indonesia, istilah Trader memiliki arti pedagang. Jadi dengan kata lain jika kita menyebut diri kita trader saham berarti kita adalah seorang pedagang saham, yang membedakan kita dari pedagang sayur, pedagang beras, pedagang handphone sampai pedagang mobil hanyalah barang dagangannya saja.

Pada  awalnya kita mungkin merasa berdagang saham berbeda dengan berdagang barang lainnya, namun setelah lama digeluti umumnya kita akan menyadari bahwa ada begitu banyak kesamaan antara menjadi trader saham dengan menjadi pedagang-pedagang lainnya

Karena adanya begitu banyak persamaan, maka umumnya kunci-kunci sukses untuk menjadi pedagang saham kurang lebih sama dengan menjadi pedagang biasa . Dalam artikel ini kami akan membahas mengenai beberapa persamaan tersebut dan bagaimana menggunakan prinsip-prinsip kesuksesan dalam berdagang untuk mempercepat kesuksesan kita dalam trading saham.

Beberapa Prinsip dalam berdagang :

Membeli barang di harga tertentu, dan menjualnya di harga yang lebih tinggi
Sebagai pedagang kita tidak perlu terlalu peduli akan harga beli barang dagangan kita, selama kita cukup yakin kalau barang dagangan yang dibeli bisa laku di jual di harga yang lebih tinggi, maka itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk menjadi alasan kita untuk membeli barang tertentu.

Pedagang bukanlah ekonom atau analis, yang pekerjaannya memprediksi harga 'seharusnya' suatu barang, dan sibuk beropini bahwa harga suatu barang saat ini kemahalan atau kemurahan. Pedagang hanya membeli untuk dijual lagi, selama proses itu bisa berjalan lancar, maka pedagang seharusnya sudah cukup bahagia.

Namun kemampuan menjual barang di harga lebih tinggi tidak cukup untuk menjadikan kita pedagang yang sukses. Karena hampir semua pedagang berhasil melakukan hal tersebut, baik mereka yang sukses maupun pedagang-pedagang kaki lima yang sepanjang hidupnya melakukan hal tersebut, namun tidak pernah berhasil mengembangkan usahanya.

Beberapa hal yang membedakan pedagang sukses dengan pedagang yang di situ-situ saja adalah :

KEMAMPUAN MEMPREDIKSI BARANG YANG SEDANG LAKU, DAN YANG AKAN LAKU DI MASA YANG AKAN DATANG

Salah satu skill yang dimiliki pleh pedagang sukses adalah kemampuan mengetahui barang apa yang sedang laku saat ini, atau yang akan laku di masa yang akan datang. Kemampuan melihat  kondisi aktual dan mengindentifikasi  trend yang sedang berlangsung saat ini, atau kecenderungan perubahan trend yang akan berlansung di masa yang akan datang.

Seorang pedagang elektronik umumnya akan memenuhi gudangnya dengan Televisi Flat Screen menjelang pelaksanaan turnamen sepak bola besar seperti Piala Eropa, karena mereka mengetahui dalam ajang sepak bola seperti Piala Eropa akan ada banyak orang yang ingin mengganti TV di rumahnya dengan TV keluaran terbaru.

Begitu juga dengan trader saham, kemampuan memprediksi sektor apa yang sedang 'laku' di market adalah salah satu skill yang dapat membantu kita dalam trading, karena di pasar saham selalu terjadi rotasi sektoral, bisa saja bulan ini saham-saham Property yang sedang 'laku' (harganya naik), namun bulan depan bisa saja berubah ke saham-saham komoditas, sementara harga-harga saham property bergerak turun.

KEMAMPUAN MENGELOLA INVENTORY

Pengelolan inventory dari barang dagangan yang kita miliki juga merupakan faktor sangat penting untuk mencapai kesuksesan dalam trading. Kemampuan ini umumnya yang membedakan pedagang sukses dan pedagang yang biasa saja.

Trader sukses adalah trader yang ahli dalam mengelola modal yang dimilikinya, jika mereka melihat ada satu barang dagangan yang menarik untuk dibeli mereka tahu seberapa banyak uang yang harus dialokasikan dalam membeli dagangan tersebut.

Mereka juga tahu kapan harus memiliki banyak jenis barang dagangan, kapan harus memfokuskan seluruh dana yang dimilikinya untuk membeli satu jenis barang dagangan saja. Bukan hanya itu seorang trader sukses mengetahui kapan waktunya mereka sebaiknya 'keluar dari market' dan memegang cash saja sambil menunggu datangnya kesempatan, di sisi lain jika datang suatu kesempatan yang besar dan langka, mereka juga tidak ragu-ragu untuk meminjam uang ke pihak lain untuk memaksimalkan hasil dari peluang yang ada.

Terakhir mereka juga memahami pentingnya 'membuang' barang-barang yang sudah tidak berpotensi memberikan keuntungan dan hanya menghabiskan tempat di gudang, untuk barang-barang tersebut mereka tidak ragu untuk menjual di harga diskon, supaya modalnya bisa digunakan untuk barang yang lebih laku dan berpotensi memberikan keuntungan di masa yang akan datang.

KESIMPULAN

Menjadi trader saham dan pedagang memiliki sangat banyak persamaan, jadi tidak ada salahnya kita menggunakan prinsip-prinsip di atas dalam trading kita. Ironisnya banyak pedagang yang sukses berdagang, namun mengalami kesulitan ketika menjadi Trader Saham karena tidak menggunakan prinsip yang mereka gunakan untuk sukses berdagang dalam proses tradingnya sehari-hari

(Line Creative Trader)

Jumat, 22 Juli 2016

Jumlah saham di portofolio

Berapa Jumlah Saham Yang Ideal Di Portofolio?

Tanya :
Bpk X : Min, berapa jumlah saham yg ideal untuk dimiliki?
Saya punya 30 jenis saham.

Jawab :
Dari Buku Fit Focus Finish.
Bab 16. Berapa jumlah kepemilikan reksadana saham yang ideal?

Kalau di saham, kira2 pertanyaannya adalah, berapa jumlah kepemilikan saham yang ideal?

Ini berhubungan dengan risk manajemen. Punya 1 saham saja, kalau salah 1, maka habislah porto kita. Punya 2 saham, salah 1, maka impas. Dstnya. Pertanyaannya, sampai berapa sahamkah risk manajemen ini akan maksimal?

Data yang digunakan adalah LQ45 dr 2008 s/d 2013. 

Risiko dari memiliki
1 saham : 90%
2 saham : 65%
3 saham : 60%
4 saham : 55%
5 saham : 50%
6 saham : 45%
7 saham : 42.5%
8 saham : 40%
9 saham : 39%
10 saham : 38%
11 saham : 37%
12 saham : 36%
20 saham : 30%
25 saham : 27.5%
30 saham : 25%

Terlihat bahwa ketika memiliki 7-8 saham, pengurangan risiko sudah melambat. 

Dari buku luar yang membahas investasi juga hampir sama. Rata-rata menyarankan 7-15 saham. 

Tapi lihat juga modal kita. Kalau hanya punya 10 juta, tidak logis membeli 15 saham utk manajemen risiko.

Long Keng Hong  : "Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham maksimal 4%. Tidak banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya juga merotasinya. Kalau ketemu satu perusahaan bagus, maka saya cari mana di portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu juga".

Dari buku 42 Aturan Investasi yang Nyaman :

Aturan #23 Berhati-hati akan diversifikasi berlebihan.

Memiliki terlalu banyak saham di portofolio anda tidak membantu mengurangi resiko dan dapat menyebabkan kesulitan.

- Diversifikasi adalah alat penting untuk mengurangi resiko portofolo. Tapi ada batasannya, dan penggunaan berlebihan akan berakibat buruk.

- Mari kita lihat diversifikasi dari sisi pengetahuan. Karena diversifikasi adalah manajemen resiko, dan resiko bisa digambarkan melalui model matematika. 

- Standar deviasi adalah ukuran batas yang diharapkan dari sebuah nilai rata-rata. Standar deviasi S&P 500 untuk 100 tahun adalah 19% dan rata-rata hasil adalah 10%.

- Jadi di setiap tahun berjalan, ada kemungkinan 66% hasil S&P berada di range rata2 plus minus standar deviasinya, yaitu antara -9% s/d 29%.

- Sekarang mari kita lihat standar deviasi portofolio. Asumsikan rata-rata hasil invest adalah 10%. Cek buku You can be as Stock Market Genius karangan Joel Greenblatt untuk metode perhitungannya.

- Jika ada 2 saham di portofolio, maka SD adalah 37% dan hasil invest anda di kisaran -27% s/d 47%.

- Dengan 6 saham, SD turun menjadi 26%, dan hasil di antara -16% s/d 36%.

- Untuk 10 saham, hasil di antara -13% s/d 33%. Untuk 20 saham, menjadi -11% s/d 31%.

- Menarik melihat ini. Hanya berinvestasi di 10-20 saham saja, sudah tidak jauh berbeda dengan berinvestasi di index itu sendiri. Karena itu Dow yang hanya berisi 30 saham tidak berbeda jauh hasilnya dengan S&P 500 (500 saham) dan index Wilshire 5000 (5000 saham). 

- Range hasil juga lumayan lebar, dari terendah ke tertinggi, selisih 40%, jadi tidak ada gunanya memegang lebih banyak saham lagi.

- Ada 2 salah pengertian tentang diversifikasi. Yang pertama, anda tidak perlu ratusan saham untuk diversifikasi. Yang kedua, menambah saham lebih dari 20 saham, tidak berpengaruh banyak ke hasil investasi anda.

- Hal lain adalah, diversifikasi membantu anda mengurangi resiko "non market", yaitu resiko pada saham-saham tertentu. "Market risk" sendiri, yaitu resiko pasar investasi, sama saja bahkan jika anda memegang 5000 saham di portofolio.

- Pelajaran yang bisa diambil, berinvestasi di 7-15 saham adalah cukup. Menambah lebih banyak menimbulkan beberapa masalah. 

- Masalah pertama, semakin banyak yang diambil, semakin susah menemukan perusahaan terbaik yang layak diinvestasikan.

- Masalah kedua, semakin susah untuk memantau portofolio.

- Dan masalah ketiga, bahkan ada satu saham yang untung besar, hanya akan berefek sedikit ke portofolio anda.

- Ini adalah masalah standar bagi industri reksadana yang harus berinvestasi ke ratusan perusahaan karena ukuran dana kelolaan mereka (aturan #7). 

- Masalah over diversifikasi sering disebut "deworsification", dan anda tidak perlu mengikuti aturan reksadana sehingga bisa menghindari "deworsification".

Jadi, berapa jumlah saham di portofolio anda?

Akhirnya, semua itu tergantung jumlah modal dan diversifikasi resiko.(@saham-indonesia)


Daewoo's Channel
Tlgrm.me/DaewooChannel

Senin, 11 Juli 2016

Petani Saham

Dalam aktifitas saham di BEI saya suka menganggap diri saya seorang PETANI.

Prinsip saya dlm bertani: 

1. Petani harus menanam. Kl tdk menanam maka tdk ada tuaian. Petani saham harus membeli saham agar bs memperoleh profit.

2. Perhatikan cuaca yg tepat utk menanam. Kebijakan ekonomi, politik, dan hukum pemerintah serta perkembangan ekonomi global dan lokal sangat signifikan mempengaruhi pertumbuhan saham. 

3. Pemilihan bibit tanaman: berkualitas baik dan sesuai dg cuaca/musim tanam. Belilah saham dg fundamental yg baik dan ditanam sesuai dg musimnya. Jgn asal beli tp kenali saham itu dg baik. Tool sangat menolong kita utk memilih benih.

4. Sabar menunggu saat panen.. Msg2 tanaman butuh wkt utk mghasilkan.. Sabar menunggu saham memberikan profit. Jgn buru2 dpt profit. Jgn suka cut loss. Beri wkt pd saham utk bertumbuh. ORANG SABAR DISAYANG BANDAR. Kita ga mungkin mengalahkan bandar, tp kl sabar bandar baik sama kita.

5. Teruslah belajar bgm bertani yg baik. BELAJAR SAHAM TIDAK PERNAH TAMAT. Petani saham harus rendah hati utk belajar pd siapa saja. Ikutlah training darvasian. Kl sekali belum ok, ikut terus smp ok.. Namanya belajar ya hrs keluar biaya. TK aja bayar, apalg "sekolah saham" 😉

Kamis, 07 Juli 2016

Belajar Saham

Pertanyaan :

Kalau mau serius dalemin ttg investasi saham, ada rekomendasi untuk :
1. Tokoh2 utk dijadikan mentor ?
2. 10 Buku terpenting utk dibaca 
3. Jurusan kl mau kuliah lagi & dmn yg mendukung
4. Sertifikasi yg berkaitan

Makasih


● Jawaban 1 :

1. Warren Buffet, Ben Graham, Philip Fisher, Joel Greenblatt, Joe Ponzio, Peter Lynch

2. Buffettology, Buffett the American Capitalist, Common Stocks and Uncommon Profits, One Up on Wall Street, FWall Street, The Little Book that Beat The Market, Margin of Safety, Beating the Street

3. Ambil MM Keuangan/Pasar Modal

4. CFA

Kalau buku lainnya:
- Macroeconomics - Olivier Blanchard
- Guru Investors
- Valuation - Damodaran
- How to Make Money in Stocks
- Value Investing - James Montier
- The Most Important Thing -  Howard Marks

Oya kalau investor yg kelewatan: Peter Lynch. Itu saya baca bukunya sampai berkali2

Yang FWall Street itu bagus sekali, apalagi utk pemula

oleh : Parahita


● Jawaban 2 : 

Semua yang sudah pak hita sebut tambahin : 
1) Jean Marie Evelard, Charlie Munger, Mark Mobius, Sanjay Bakshi, Jesse Livermore, William O'neil

2) Intelligent Investor, Security Analysis

3) master of ba, finance, management, ato accounting

4) ca, cpa, cfa, atau cmt

Bukunya ada satu yang bagus, tp kelupaan: "the art of shortselling". Walaupun stigma shortselling itu jelek dan jahat, seringkali shortseller kelas kakap itu betulan jagoan analisis fundamental saham sejati, dan berani bilang NO ketika semua orang sudah gila ikut tuan pasar.

Yang jago shortselling dan bagus buat role model: James Chanos. Sampai2 hedge fund dia aja namanya Kynikos (sinis).

oleh : Willy

8 Prinsip Investasi Warren Buffet

8 Prinsip Investasi Warren Buffet :

Warren Buffett adalah contoh terbaik bahwa investasi saham bisa membuat kita menjadi lebih kaya. Buffett tidak sendirian. Banyak pemegang saham pasif Berkshire Hathaway, terutama yang membeli saham tersebut di tahun 1960-an, ikut kecipratan rezeki menjadi miliarder.

Dalam kurun waktu 44 tahun terakhir, perusahaan yang dikelola Buffett ini memberikan imbal hasil rata-rata 20,3% per tahun. Perlu digarisbawahi bahwa Buffett bukan seorang trader saham, dia adalah investor saham.

Saya selalu mengajarkan prinsip dan strategi investasi ala Buffett kepada mahasiswa saya di kelas investasi. Supaya lebih bisa meresapi, saya memutarkan “World’s Greatest Money Maker”, video dokumenter tentang Buffett produksi BBC yang bisa juga dilihat di YouTube. Bisa Anda cari dengan kata kunci Buffett dan BBC.

Di video tersebut diceritakan kehidupan Buffett  secara lengkap. Tidak hanya kantornya yang amat sederhana, tetapi makanan kesukaannya, rumahnya, riwayat hidupnya, percintaannya hingga filosofi investasinya. Yang menarik adalah kesempatan mendengar langsung tips Buffett.

Diutarakan ada delapan rahasia dari Buffett untuk kita agar menjadi lebih kaya lewat investasi saham.

Pertama “Invest, don’t speculate.”

Investasi diibaratkan seperti menanam benih, menunggu hingga tumbuh, berkembang dan berbuah. Bagi Buffett, membeli saham dengan harapan besok lusa atau minggu depan harga saham akan naik adalah spekulasi. Dalam jangka waktu begitu pendek, sulit sekali meramal apa yang akan terjadi dengan harga saham. Jika ingin berinvestasi, kata Buffett, siaplah untuk menanam dana kita dalam waktu yang panjang pada saham yang bagus.

Buffett juga memberi tip bagaimana memanfaatkan “Mr Market”. Ini adalah istilah dari Benyamin Graham, guru Buffett, merujuk pada pelaku di bursa saham. Buffett merujuk pada Bab 8 buku Graham yang legendaris, “The Intelligent Investor.” Buffett bilang, Mr Market harus melayani investor, bukan mendikte investor. Mr Market terkadang tidak rasional sehingga memberikan peluang bagi investor untuk membeli saham dengan harga super diskon.


Kedua, “You don’t have to diversify.” 

Prinsip ini sering disalahartikan bahwa Buffett anti diversifikasi. Yang dimaksud Buffett adalah belilah saham karena memang kita mengerti fundamental perusahaan tersebut, bukan sekadar membeli banyak saham. Pada kenyataannya, Buffett memiliki hampir 25 saham. Buffett bilang, jika memegang terlalu banyak saham, misalnya 50 saham, maka sulit untuk mengikuti perkembangan fundamental masing-masing saham.


Ketiga, “Don’t just buy shares, be a business owner.” 

Investor sering lupa bahwa di balik saham ada sebuah bisnis yang butuh waktu untuk bertumbuh. Sebagian besar saham yang ada di portofolio Buffett adalah saham perusahaan barang konsumsi dan makanan, bank atau jasa keuangan, serta bisnis ritel. Pilihan sahamnya konsisten dengan prinsip investasi jangka panjang.


Keempat, “Don’t get into debt.” 

Buffett tidak suka berutang, apalagi untuk berinvestasi saham. Bahkan dia tidak tertarik untuk membeli saham perusahaan yang utangnya lebih banyak daripada ekuitas.

Prinsip menggunakan ekuitas untuk berinvestasi saham ini konsisten dengan prinsip berinvestasi secara jangka panjang. Harga saham sangat fluktuatif sehingga penggunaan ekuitas memberikan kemampuan bagi investor untuk tidak menjual sahamnya pada saat harga jatuh.

Kelima, “Allocate capital efficiently.” 

Buffett sigap dalam mengalokasikan keuntungan dari satu bisnis ke bisnis baru yang dianggap prospektif. Berkshire Hathaway adalah perusahaan asuransi yang menerima premi di depan dan membayar kemudian hari. Ini memberikan dana besar bagi Buffett untuk berinvestasi di berbagai bisnis.


Keenam, “Think independently.” 

Buffett tinggal di Omaha, sekitar 1.800 kilometer dari Wall Street. Dia menyatakan bahwa semakin jauh dari hiruk pikuk bursa saham semakin baik. Ini membuat investor jangka panjang kurang dipengaruhi oleh kehebohan jangka pendek.

Buffett terkenal tidak peduli apa kata dunia. Tidak hanya dalam berinvestasi, tetapi dalam memilih makanan dan masalah percintaan. Salah satu kisah sukses Buffett adalah saat membeli sejumlah besar saham Coca Cola. Meskipun mayoritas analis saham dan pelaku pasar menganggap bahwa harga saham Coca Cola kemahalan, dia malah berpikir sebaliknya.


Ketujuh, “Always be ready to break your own rule.” 

Buffett membuat peraturan dalam berinvestasi dan disiplin dalam menerapkannya. Namun, Buffett tidak akan ragu untuk melanggar peraturan tersebut bilamana diperlukan, misalnya, jika kondisi berubah.


Terakhir dan yang paling sulit kita tiru, “Give it away.” 

Buffett menyumbangkan uang senilai US$ 31 miliar atau Rp 300 triliun kepada Bill Gate’s Foundation. Prinsip terakhir menunjukkan bahwa bagi Buffett uang bukan segalanya. Ini juga tecermin dari gaya hidupnya yang amat sederhana. Mungkin Buffett terinspirasi pepatah Jawa yang dipelesetkan oleh Butet Kertarajasa: “Urip mung mampir ngguyu…”

By : Lukas Setia Atmaja

Minggu, 19 Juni 2016

Sukarto Buyung

Kisah inspirasi investasi saham (lainnya)
JAKARTA - Pemiliki 28 saham yang tak satupun merupakan emiten bluechip, Sukarto Bujung (48) justru menangguk keuntungan besar dari investasi saham selama 20 tahun terakhir. Bahkan, satu dua saham dikoleksinya secara perlahan hingga lebih dari 5% dari total saham yang beredar dan terus digenggam selama belasan tahun.
“Bisnis apa yang enak dan tidak pusing buat saya adalah investasi saham. Saya kan punya bisnis riil juga, ribet dengan pegawai, distributor sampai didemo warga,” tutur Sukarto terkekeh mengenang perjalanan sebagai investor saham perorangan sejak 1996.
Saham paling hoki yang pernah digenggamnya adalah PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI). Membeli saat harga kurang dari Rp200 per lembar, dan enam tahun kemudian pada 2013 menjualnya di harga Rp1.700. “Dari modal miliar, saya mendapatkan Rp37 miliar untuk 6% saham yang dilepas.”
Kini saham MREI diperdagangkan pada level Rp6.600. Jadi bisa dibayangkan betapa lebih hoki Sukarto bila tetap mengoleksi saham perusahaan tersebut.
Namun itu telah berlalu, menurutnya sebagian uang hasil investasi ‘digulung’ kembali menjadi saham lain yang dipilih secara cermat.
Terakhir, pria yang saat ini menjadi Direktur Utama PT Buyung Poetra Sembada (BPS), perusahaan pengolahan dan perdagangan beras merek Topi Koki, melepas 8% saham PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) di level Rp410 per lembar setelah tiga tahun lalu dibelinya seharga Rp210 melalui program buyback perusahaan.
“Main saham itu tidak bisa diajarkan. Saya sih pakai feeling, tapi tetap baca fundamental perusahaan yang mau kita beli kayak apa,” tutur pria yang mengaku pembaca setia Bisnis Indonesia sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ini.
Sukarto juga menggunakan trik mengenal produk perusahaan yang yang hendak dibeli dan reputasi pemilik perusahaan. Seperti saat dia membeli saham PT Metrodata Electronics Tbk, (MTDL) karena sejak sekolah telah menggunakan produk komputer IBM dan printer merek Epson, selain juga karena unsur kepercayaan terhadap Ciputra, yang menjadi salah satu pemegang saham utama.
Kini, Sukarto telah menguasai 7% saham di MDTL dan mengaku senang karena perusahaan ini rajin membagi dividen dan saham bonus. Metrodata adalah satu dari dua saham dengan porsi terbesar yang kini dikoleksinya, selain PT Multi Indocitra Tbk (MICE), perusahaan kosmetik pengelola merek Pigeon di Indonesia.
Dari berinvestasi saham dengan horison jangka panjang itulah, Sukarto mengaku tak perlu pusing dengan fluktuasi harga saham harian. “Kalo ngurusin pergerakan tiap hari, saya nggak bisa berlibur dong. ”
Namun, kisah manis berinvestasi saham ini bukanlah tanpa cerita pahit sebelumnya. Pertama kali mengenal saham, Sukarto memilih transaksi margin, di mana dengan modal tertentu bisa bertransaksi saham hingga 10 kali lipat. Hasilnya, pada 1998 dia merugi hingga Rp1,5 miliar.
Padahal ketika itu Sukarto bertransaksi secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang istri, Elly T, yang baru dinikahinya. “Jam 10 malam, saya bilang ke istri ada masalah. Saya ajak dia keliling tol dalam kota hingga 2 kali putaran untuk cerita. Lalu saya minta tolong orang tua dan mertua bantu bayar utang.”

TIDAK JERA

Rugi besar itu ternyata hanya membuatnya jera selama 1 tahun. Sukarto muda masih penasaran dengan investasi pasar modal, secara perlahan mengoleksi saham sejumlah perusahaan untuk jangka panjang. Lagi-lagi, untuk urusan ini dia tidak memberitahu istrinya sampai 2015.
“Istri saya mengira, hasil yang saya bawa pulang adalah untung dari beberapa perusahaan yang kami miliki. Padahal sebagian besar dari untung saham, dan saya jual perusahaan-perusahan itu karena mau konsentrasi membawa Buyung Poetra Sembada IPO,” tuturnya.
Sukarto menggunakan jasa PT Harita Kencana Securities untuk transaksi jual beli saham. Direktur Harita Securities Janny Tanjung mengatakan Sukarto telah menjadi kliennya sejak 1998. “Dia tipe investor yang teliti, tidak asal invest, selalu pelajari dahulu fundamental emiten. Jadi tidak asal beli.”
Janny mengaku kliennya tersebut termasuk tipe investor yang berhati-hati, termasuk tidak mudah terpengaruh rumor.

Atau isu-isu emiten di pasar. “Kami menangani berbagai tipe investor, dan pak Sukarto ini orang yang sabar, kalo beli saham tidak tergesa-gesa, menjualnya kembali setelah sekian lama dipegang.”
Setelah malang melintang selama 20 tahun sebagai investor saham, Sukarto berniat membawa perusahaan yang dipimpinnya melalukan penawaran umum saham perdana (initial public offering).
Dia memang berasal dari keluarga pedagang, melalui sang ayah, Bujung, yang mulai berdagang beras pada 1977 di Palembang dengan nama Toko Bujung.
Pada 2003, Sukarto mulai berdagang beras di Jakarta, tepatnya di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur. Sejak 2 tahun lalu, pria lulusan Akuntansi, Universitas Tarumanegara, didorong oleh teman-teman membawa BPS melantai di Bursa Efek Indonesia sebagai perusahaan publik. “Mereka bilang, Anda suka beli saham perusahaan lain, mengapa Anda tidak menjual saham perusahaan sendiri?”
Dia mengaku ingin serius menggarap bisnis riil. Beras adalah bisnis riil, bisa dilakukan, bisa dimakan. Sebagai tradisi keluarga, dia mengklain sudah memahami dengan baik bisnis ini, apalagi beras adalah kebutuhan utama dalam kehidupan manusia dengan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia 28 juta ton per tahun atau 144 kilogram per kapita.
Namun, sebagaimana awal-awal mengenal saham melalui transaksi saham, Sukarto kembali salah perhitungan. Upaya BPS melepas saham ke publik mengalami hambatan karena respons pasar yang minim pada akhir 2015. Upaya melepas 30% atau 710 juta saham baru pun tertunda.
Padahal, pendaftaran ke Otoritas Jasa Keuangan sudah dilakukan, paparan publik juga sudah digelar. Waktu penawaran sempit, serta momentum yang kurang pas, dianggap sebagai sebab utama penundaan aksi korporasi tersebut.
Bukan Sukarto bila patah arah di tengah jalan. Buktinya, manajemen BPS tengah menunggu proses audit laporan keuangan oleh auditor baru yakni Crowe Horwarth. Setelah beres, rencananya perseroan akan mendaftarkan rencana itu kembali ke Otoritas Jasa Keuangan sehingga bisa melakukan IPO pada kuartal IV/2016 atau paling lambat awal 2017.
“Kami belajar banyak atas penundaan ini. Kami diskusikan kembali dengan penjamin emisi, termasuk calon pembeli siaga dari dalam dan luar negeri. Kami ingin saham ini dimiliki oleh publik, dan memberi manfaat bagi kemajuan perusahaan,” tuturnya, tentang jalur cadas dan berliku yang kini dipilih.


Patuhi Hukum Pasar

Patuhilah Hukum Pasar

Trading berbeda dengan profesi-profesi lain dan memerlukan cara berpikir yang berbeda. Para profesional di pekerjaan-pekerjaan lain percaya bahwa melakukan setiap hal dengan benar akan mampu mengatasi setiap permasalahan. Namun dalam trading, jika kita melawan pasar karena kita merasa benar adalah sama dengan bunuh diri.

Pasar trading memiliki hukum atau aturan sendiri. Kita harus belajar untuk mematuhinya. Sebagai trader kita tidak dapat membuat hukum sendiri yang mampu membuat pasar mengikuti.

1. Tidak ada tempat untuk berharap

Tidak seperti bisnis lain, dalam trading tidak ada “negosiasi” antara kita sebagai trader dengan pasar. Jika dalam bisnis lain kita masih bisa bernegosiasi untuk mendapatkan yang kita harapakan, namun tidak dengan trading. Pasar akan naik atau turun tanpa peduli apa yang kita inginkan. 

Jika pasar mengalami downtrend dan kita sedang memiliki posisi,  kita  tidak dapat bernegosiasi dengan pasar. Pasar tidak akan memperdulikan harapan kita. Satu-satunya jalan keluar adalah segera menutup posisi untuk meminimalkan risiko. Momen dimana kita mulai berharap, itulah saat yang terbaik untuk segera keluar dari pasar.

2. Tidak ada kebenaran

Seorang yang perfeksionis ingin selalu sempurna dalam segala hal. Kebutuhan untuk selalu benar adalah salah satu konflik lain di pasar trading. Pasar tidak peduli apa yang kita inginkan. Pasar akan tetap melakukan apa yang dia ingin lakukan.  

Kita tidak bisa benar 100%. Kita harus menyadari ketika analisa kita salah. Jika analisa kita salah dan kita mengalami loss, namun kita tetap merasa analisa kita benar dan merasa  pasar akan akan berbalik arah, maka seringkali loss tersebut akan menjadi semakin besar.

Perlu diingat bahwa tujuan utama kita trading adalah untuk menghasilkan uang dan bukan untuk selalu benar.

3. Tidak ada keadilan 

Jangan berharap menemukan keadilan di pasar. Kita tidak bisa berharap pasar akan adil kepada kita, setelah serangkaian loss kita akan mendapatkan profit. Apakah kita gembira atau sakit, pasar tidak peduli. Pasar dalam trading adalah zero-sum game. Kesedihan yang dialami seorang trader adalah kegembiraan bagi trader yang lain.

Belajarlah mengontrol emosi, baik saat win ataupun loss. Trader biasanya menjadi ceroboh saat mengalami loss atau mendapat profit yang besar. Ingatlah selalu bahwa kita tidak dapat mengontrol pasar, yang dapat kita kontrol adalah diri kita sendiri. Dengan disiplin dan komitmen kita dapat mengikuti hukum pasar dan bukan melawannya.

(indotraderpedia)



Renungan Trader

Sebuah Renungan Bagi Kita Para Trader!

95% trader bangkrut dan rugi, mengapa? Mestinya kita sebagai trader bijak berpikir mengapa 95% trader terus menerus berada dalam kerugian?

Sangat jelas bahwa ada sebuah KESALAHPAHAMAN BESAR yang betul-betul meracuni mayoritas trader di dunia, kesalahpahaman itu ialah MINDSET OF INVESTMENT, sudut pandang dari seorang trader dalam memaknai trading. 

Ketahuilah bahwa mengubah sudut pandang bisa mengubah cara kita dalam memaknai trading. Sehebat apa pun seorang analis tidak bisa memprediksi arah market secara 100% akurat, dalam trading kita bicara tentang probability / kemungkinan. "Mungkin" dalam tanda kutip merupakan sesuatu yang belum pasti. Jika kita trading menggunakan seluruh modal kita untuk sesuatu yang belum pasti ya maka jangan kaget jika trader langsung habis uangnya / kena Margin Stop.

Menurut MUI, forex dikategorikan halal dengan syarat dibarengi dengan akal sehat. Apa jadinya jika trading forex dengan lot besar lalu uang langsung habis? Apakah itu yang dinamakan "menggunakan akal sehat?", apakah itu yang dinamakan investasi?

Investasi apa ya yang kurang dari 1 bulan langsung habis ke angka NOL? 

Emas batangan tidak akan habis menjadi nol walaupun didiamkan 1 bulan.

Rumah / Properti tidak akan habis menjadi nol walaupun didiamkan 1 bulan.

Tanah 1 hektar tidak akan habis menjadi nol walaupun didiamkan 1 bulan.

Jika uang kita habis di saham cuma dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, itu bukan investasi namanya. Investasi berkembang sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu. Mirip seperti kita menumbuhkan tanaman. Di butuhkan kesabaran dan konsistensi, hasil kita tuai di kemudian hari.

Jangan ikuti mindset yang salah, George Soros sang legenda forex diagungkan oleh dunia finansial ketika di tahun 2013 berhasil meraup keuntungan 30% dalam 1 tahun. Bayangkan betapa kecilnya lotsize yang digunakan oleh George Soros. Beliau hanya menargetkan 2% per bulan profit. 

Mari bandingkan dengan hiruk pikuk dan hingar bingar trader yang sharing foto profitnya sekian ribu dollar dan trader yang bangganya profit 5%-25% per minggu/bulan, mereka tidak memahami resiko yang sebenarnya mereka hadapi, profit yang didapat dengan high-risk secara jangka pendek "maybe yes", tapi untuk jangka panjang "maybe no". Bukan "may be" lagi tetapi pasti "BIG NO!" 

Siapa trader yang melakukan kalkulasi besaran lot supaya resiko tetap berada di bawah 3% per trade? SANGAT JARANG ADA

Siapa trader yang bangga dengan keuntungan 1% - 3% per bulan? SANGAT JARANG ADA

Padahal mereka yang jarang terlihat adalah trader sukses, mereka adalah sang trader yang 5%.



Inflasi

Harga Barang-Barang yang Selalu Naik dan Bahayanya Untuk Kita


Siapapun akan setuju bahwa membeli barang-barang hari ini tidak semurah tahun lalu dan tidak lebih murah dari 10 tahun yang lalu.

Ya, contoh sederhananya bahwa 20 tahun yang lalu membeli permen dengan Rp 100 dan kita akan mendapatkan 3 butir permen, hari ini permen yang sama perlu kita beli dengan uang Rp 1.000 dan itupun cuma mendapatkan 1 butir permen!

Dalam konteks secara sederhananya, nilai uang sebesar Rp 1000 dulu dan kini menjadi sangat jauh berbeda, bila dahulu Rp 1000 terasa besar, hari ini Rp 1000 terasa sangat kecil.

Itulah yang dikenal dalam istilah ekonomi yang disebut inflasi. Bila dipertanyakan apakah inflasi adalah sebuah kondisi yang berbahaya? Maka jawaban sebenarnya adalah sama dengan ketika kita ditanyakan apakah minum vitamin sehat atau tidak?

Dalam kondisi yang terkendali, maka inflasi adalah sebuah kondisi yang sehat. Namun bila kita berpikir lagi, “Koq harga barang mengalami kenaikan adalah sebuah hal yang sehat? Rugi dong kan uang yang sama tidak lagi mampu membeli barang yang sama?”

Mengapa harga sebuah barang menjadi naik? Kenaikan harga barang diakibatkan karena modal memproduksi sebuah barang tersebut mengalami kenaikan, artinya hal itu termasuk modal perusahaan dalam menggaji karyawan dan pekerja yang ada didalamnya sehingga barang tersebut bisa dikonsumsi oleh setiap orang.

Apa jadinya bila pendapatan pekerja dan karyawannya tidak dinaikkan? Maka tentunya akan terjadi demonstrasi, terbukti meskipun upah minimum atau gaji mengalami kenaikan, negara kita masih sering terjadi demonstrasi mengenai kenaikan upah minimum bukan?

Mengapa pekerja menginginkan kenaikan upah? Hal itu karena kenaikan harga barang-barang dan kebutuhan?

Nah, menarik, Semuanya jadi berputar-putar. Inilah yang disebut pada keadaan yang normal maka kenaikan harga atau inflasi adalah sebuah hal yang wajar.

Namun, berita menyedihkannya adalah bila harga barang mengalami kenaikan lebih tinggi dari besarnya pendapatan, apa yang terjadi? Maka jelas bila ada seseorang yang semula mampu, bisa saja akibat kenaikan harga yang lebih tinggi dari pendapatannya, orang tersebut menjadi golongan orang yang tidak mampu.

Inilah sebuah kondisi yang berbahaya dan mengancam banyak orang. Lalu, bila saat ini kita baru membahas mengenai kebutuhan hari ini yang mengalami kenaikan dan pendapatan tidak naik lebih tinggi, apakah kita bisa membayangkan apa nasib dari masa depan? Semakin berbahaya bukan?

Jelas, bila hari ini saja sudah tidak mampu, bagaimana kedepan akan mampu, hal tersebut adalah suatu potret dari kehidupan banyak orang yang tidak mempersiapkan segala sesuatunya, setidaknya terdapat beberapa strategi dan sikap untuk mengantisipasi hal ini:

● Cukupilah Kebutuhan, jangan keinginan

Hal yang perlu dijaga pertama kali adalah keinginan, keinginan dari setiap orang tidak pernah ada habisnya, namun kebutuhan manusia pada umumnya tidak jauh berbeda.

Kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal, kebutuhan akan kesehatan dan hiburan, kebutuhan untuk bersosialisasi.

Namun keinginan yang membuat seseorang harus mengeluarkan uang lebih banyak. Keinginan makan dimana, makan apa, makan bersama siapa, dan lain sebagainya.


● Bila kurang, berhematlah dan jangan berhutang

Dewasa ini akan semakin berbahaya melihat banyaknya orang yang mengambil jalan singkat karena kekurangan dana, apa yang dilakukan? Dengan berhutang, celakanya hutang ditutup dengan hutang.

Sebuah skema yang dikenal dengan “gali lubang, tutup lubang” adalah sebuah skema berbahaya apabila terjadi hal diluar rencana, nyatanya hidup akan selalu dihadapkan pada kondisi-kondisi yang diluar rencana.

Berhutang untuk memenuhi keinginan hidup dapat dikategorikan sebagai pemborosan, namun berhutang karena perlu untuk mencukupi kebutuhan hidup artinya kita kekurangan, ubahlah menjadi gaya yang lebih sederhana atau perbesarlah pendapatan.

Karena berhemat lebih mudah daripada mencari pendapatan tamabahan, oleh karena itu jagalah kehidupan tetap pada sebuah gaya hidup yang wajar.

● Ambil uang untuk masa depan

Masa kini dimana kita hidup sehari-hari sejatinya adalah kewajiban diri sendiri untuk bisa menghidupi. Hidup membutuhkan biaya yang pasti harus kita keluarkan dan pengeluaran yang tidak pasti juga banyak, namun masa depan kita adalah tanggung jawab dari setiap pribadi kita.

Karena menyadari kepentingan masa depan, maka ambillah uang yang kita dapat hari ini untuk masa depan kita, jangan sisihkan karena sisihkan artinya sisakan, bila Anda menganggap masa depan adalah bagian yang penting maka ambillah pendapatan Anda hari ini untuk bisa menghidupi Anda dikemudian hari.

@RyanFilbert



Jesse Livermore’s Trading Rules

Jesse Livermore’s Trading Rules

Here are the stock trading rules that made Jesse Livermore’s one of the world’s greatest fortunes. Many successful stock and commodity traders still base their methods on these rules.

Livermore constructed his rules over several years, while learning by trial and error what worked on the markets. He was guided by one of his favorite principles:

“There is nothing new in Wall Street. There can’t be because speculation is as old as the hills. Whatever happens in the stock market today has happened before and will happen again.”


Stock Trading Rules :

● Buy rising stocks and sell falling stocks.
● Do not trade every day of every year.
● Trade only when the market is clearly bullish or bearish.
● Trade in the direction of the general market.
● If it’s rising you should be long, if it’s falling you should be short.
● Co-ordinate your trading activity with pivot points.
● Only enter a trade after the action of the market confirms your opinion and then enter promptly.
● Continue with trades that show you a profit, end trades that show a loss.
● End trades when it is clear that the trend you are profiting from is over.
● In any sector, trade the leading stock – the one showing the strongest trend.
● Never average losses by, for example, buying more of a stock that has fallen.
● Never meet a margin call – get out of the trade.
● Go long when stocks reach a new high. 
● Sell short when they reach a new low.


Other Useful Stock Trading Guidance

● Don’t become an involuntary investor by holding onto stocks whose price has fallen.
● A stock is never too high to buy and never too low to short.
● Markets are never wrong – opinions often are.
● The highest profits are made in trades that show a profit right from the start.
● No trading rules will deliver a profit 100 percent of the time.

(jesse-livermoredotcom)



Nasehat Orang Terkaya

Diatas adalah video yang sangat bagus dan inspiratif. Nasehat dari The Richest Man in China for Young People. Sempatkan untuk melihatnya.

Jika kesulitan untuk mendownloadnya ini isinya

What Your Life Should Be Like Between 20 and 60 Years Old

Before you turn 20 years old, be a good student.
…just to get some experience.

Before you turn 30 years old, follow somebody.
Go to a small company. Normally, in a big company, it is good to learn processing; you are part of a big machine. But when you go to a small company, you learn the passion, you learn the dreams. You learn to do a lot of things at one time. So before 30 years old, it’s not which company you go to, it’s which boss you follow. A good boss teaches you differently.

Between 30 and 40 years old, you need to think clearly whether you want to work for yourself, if you really want to be an entrepreneur.

When you’re between 40 and 50 years old, you must do all the things that you are good at.
Don’t try to jump into a new area, it’s too late. You may be successful, but the rate of dying is too big. So when you’re between the ages of 40 and 50, think about how you can focus on things that you are good at.

But when you are 50 to 60 years old, work for the young people.Because young people can do better than you. So rely on them, invest in them, and make sure they’re good.

When you are over 60 years old, spend time on yourself.
On the beach, sunshine, it’s too late for you to change.

This is my advice to the young people: 25 years old, make enough mistakes. Don’t worry! You fall, you stand up, you fall…enjoy it! You’re 25 years old, enjoy the show!”


Nasehat Warren Buffet

Nasehat Warren Buffett, Salah Satu Orang Tersukses Karena Kebijaksanaannya

Berikut ini adalah wawancara yang pernah Warren Buffett lakukan dengan CNBC. Dalam wawancara tersebut ditemukan beberapa aspek menarik dari hidupnya:

“Anjurkan anak untuk berinvestasi”
Ia membeli saham pertamanya pada umur 11 tahun dan sekarang ia menyesal karena tidak memulainya dari masih muda.

“Dorong anak untuk mulai belajar berbisnis”
Ia membeli sebuah kebun yang kecil pada umur 14 tahun dengan uang tabungan yang diperolehnya dari hasil mengirimkan surat kabar.

“Ia masih hidup di sebuah rumah dengan 3 kamar berukuran kecil di pusat kota Omaha, Nebraska, yang ia beli setelah ia menikah pada 50 tahun yang lalu”

“Jangan membeli apa yang tidak dibutuhkan, dan dorong anak untuk berbuat hal yang sama”
Ia berkata bahwa ia mempunyai segala yang ia butuhkan dalam rumah itu. Meskipun rumah itu tidak ada pagarnya.

“Jadilah apa adanya”
Ia selalu mengemudikan mobilnya seorang diri jika hendak berpergian dan ia tidak mempunyai seorang supir ataupun keamanan pribadi.

“Berhematlah”
Ia tidak pernah berpergian dengan pesawat jet pribadi, walaupun ia memiliki perusahaan pembuat pesawat jet terbesar di dunia. Berkshire Hathaway, perusahaan miliknya, memiliki 63 anak perusahaan.

“Ia hanya menuliskan satu pucuk surat setiap tahunnya kepada para CEO dalam perusahaannya, menyampaikan target yang harus diraih untuk tahun itu”

“Tugaskan pekerjaan kepada orang yang tepat”
Ia tidak pernah mengadakan rapat atau menelpon mereka secara reguler. Warren Buffet tidak pernah membawa handphone dan di meja kerjanya tidak ada komputer.

“Buat tujuan yang jelas dan yakinkan mereka untuk fokus ke tujuan”
Ia hanya memberikan 2 peraturan kepada para CEOnya.

Peraturan nomor satu: Jangan pernah sekali pun menghabiskan uang para pemegang saham.
Peraturan nomor dua: Jangan melupakan peraturan nomor satu.

“Jangan pamer, jadilah diri sendiri dan nikmati apa yang kamu lakukan”
Ia tidak banyak bersosialisasi dengan masyarakat kalangan kelas atas. Waktu luangnya di rumah ia habiskan dengan menonton televisi sambil makan pop corn.

Bill Gates, orang terkaya di dunia bertemu dengannya untuk pertama kalinya 5 tahun yang lalu. Bill Gates pikir bahwa ia tidak memiliki keperluan yang sangat penting dengan Warren Buffet, maka ia mengatur pertemuan itu hanya untuk selama 30 menit.
Tetapi ketika ia bertemu dengan Warren Buffet, pertemuan itu berlangsung selama 10 jam dan Bill Gates tertarik untuk belajar banyak darinya.


Berikut ini adalah nasihatnya untuk orang-orang yang masih muda:

"Jauhkan dirimu dari pinjaman bank, utang, cicilan atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yang kau miliki, serta ingat:

1. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

3. Jangan melakukan apa pun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

4. Jangan memakai merk, berpakaianlah yang benar dan yang membuatmu nyaman. 

5. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting. Jika Anda membeli barang2 yg tidak penting maka suatu hari Anda harus menjual barang2 Anda yg penting.

6. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life.

7. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain."

"Orang yang Berbahagia Bukanlah Orang yang Hebat dalam segala Hal, Tapi Orang yang Bisa Menemukan Hal Sederhana dalam Hidupnya dan selalu Mengucap Syukur."



Memilih Saham

Dalam berinvestasi, filosofi yang saya gunakan adalah membeli saham berfundamental bagus dengan harga yang wajar. Lebih baik lagi apabila saya bisa membeli dengan harga yang murah. Berangkat dari pemikiran tersebut, saya memandang bahwa sebuah perusahaan yang bagus seharusnya memiliki kriteria sebagai berikut:

Mampu menghasilkan laba secara konsisten. Mampu untuk mengalokasikan laba pada proyek-proyek yang menguntungkanMampu untuk menjaga agar laba tidak terbuang percuma

Untuk mengetahui apakah perusahaan dapat melakukan hal-hal tersebut, diperlukan beberapa parameter untuk mengukurnya. Akibatnya, terkadang saya menggunakan rasio-rasio keuangan yang tidak umum. Mari kita lihat satu-persatu.

Mampu menghasilkan laba secara konsisten

Untuk keperluan ini, biasanya saya melihat laju pertumbuhan laba bersih selama lima tahun terakhir. Saya mengharapkan paling tidak laba bersih perusahaan tumbuh secara konsisten sebesar 15% per tahun.

Untuk mengetahui konsistensi pertumbuhannya, saya menghitung tingkat predictability pertumbuhan laba bersihnya. Secara teknis, predictability adalah tingkat akurasi kenaikan laba bersih apabila diasumsikan tumbuh secara eksponensial. Predictability maksimum adalah 100%. Saya mengharapkan tingkat predictabilitylebih dari 90%.

Mengapa predictability sangat penting?

Apabila laba bersih semakin dapat diprediksi, semakin akurat hasil valuasi kita. Jika laba bersih perusahaan tidak stabil dari tahun ke tahun, kita akan kesulitan untuk mencari harga wajar perusahaan.

Mampu untuk mengalokasikan laba pada proyek-proyek yang menguntungkan

Laba yang diperoleh perusahaan akan digunakan untuk berekspansi. Kejelian pihak manajemen akan membuat tingkat keuntungan dari aktivitas ekspansi tersebut tetap tinggi. Untuk mengukurnya, saya menggunakan beberapa rasio seperti ROE (Return on Equity) dan ROTC (Return on Total Capital). Prinsip kerja dari kedua rasio tersebut hampir sama. Perbedaannya, dengan menggunakan ROTC kita memfaktorkan utang dalam perhitungan. ROTC penting karena kadangkala ada perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan tinggi namun diperoleh dengan memanfaatkan leverage(utang) yang besar.

Untuk menganalisis lebih lanjut, saya menggunakan rasio laba bersih dibagi dengan jumlah utang jangka panjang. Saya menghendaki nilainya minimal 20% yang berarti utang jangka panjangnya dapat dilunasi oleh laba bersih dalam waktu maksimal lima tahun.

Mampu untuk menjaga agar laba tidak terbuang percuma

Intinya adalah mengetahui apakah cash flowperusahaan cukup sehat. Biasanya saya menggunakan perbandingan antara jumlah operating cash flow selama 5 tahun dengan jumlah laba bersih selama 5 tahun. Biasanya pada perusahaan yang sehat nilainya akan lebih besar dari 75%. Semakin tinggi semakin baik.

Selain itu, saya juga memantau Free Cash Flow (FCF)dari tahun ke tahun. FCF didefinisikan sebagai operating cash flow dikurangi dengan capital expenditure (capex). Jika nilainya positif, artinya perusahaan mampu membiayai ekspansinya dengan dana internal. Walaupun begitu, kita juga harus mempertimbangkan lebih lanjut karena perusahaan yang sedang tumbuh pesat biasanya memiliki FCF negatif karena potensi laba di masa mendatang jauh lebih besar daripada laba saat ini. Sebagai konsekuensi, perusahaan harus mengalokasikan capex yang cukup besar agar tidak kehilangan kesempatan.

Catatan Tentang Valuasi

Langkah terakhir yang saya lakukan adalah melakukan valuasi. Pada dasarnya, valuasi yang saya lakukan adalah untuk mengetahui apakah di harga saat ini, saham yang akan saya beli berpotensi untuk mendapatkan imbal hasil yang layak di tahun-tahun mendatang. Metode yang saya gunakan untuk valuasi sudah pernah dijabarkan pada artikel sebelumnya di blog ini.

Jika hendak melangkah lebih maju, Anda bisa menggunakan metode valuasi pada artikel ini

source: parahita.wordpress.com



Sistem Analis EPL

Sistem Analis EPL

Seberapa akurat sebuah komputer menebak masa depan? Apalagi sekarang hampir semua hal bergantung pada komputer. Dan semakin canggih kecerdasan komputer yang dikenal dengan nama AI. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan. Termasuk ketika komputer berhasil mengalahkan pemain catur terbaik dunia. Dan baru-baru ini berhasil mengalahkan pemain GO terbaik. Disebut permainan GO lebih rumit dibanding catur. Jadi seberapa akurat komputer melakukan prediksi.

Pada bulan Februari kemarin, ada yang menarik perhatian kami. Ketika media mengutip tentang prediksi komputer mengenai ranking klub sepakbola Inggris. Seperti yang kita ketahui, Leicester membuat kejutan dengan memenangkan liga Inggris. 

Dari prediksi dan hasilnya, terlihat komputer benar menebak 3 berbanding 17 yang salah. Atau benarnya adalah 15%. Dan untuk point, tingkat akurasinya adalah 0%. Apakah komputer itu bodoh? Rasanya tidak. Alasannya sederhana. Walau komputer bisa melakukan kalkulasi dengan cepat, dia tidak bisa memprediksi sesuatu yang belum terjadi. 

Pemain cedera, faktor cuaca, pemain tidak bisa tampil, dan moral pemain dalam menghadapi pertandingan. Termasuk efek wasit yang mungkin melakukan kesalahan. Dan tekanan dari penonton dan media. Banyak faktor yang tidak mungkin bisa diantisipasi.

Karena 1 hal. Yang dihadapi komputer adalah manusia yang selalu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Bukan A maka B. Manusia itu kalau kejadian A muncul, bisa bereaksi B C D E sampai Z. 

Nah, demikian juga di saham. Kita tidak bisa mengandalkan komputer melakukan kalkulasi dan kita tinggal duduk santai menikmati hasil. Cara kerja investasi tidak seperti itu. Kita harus mengikuti perkembangan cerita dari perusahaan itu. Apa yang mereka lakukan untuk mengantisipasi kejadian. Apakah itu baik atau buruk. 

Karena yang dihadapi oleh investor adalah perusahaan dan investor lain. Yang merupakan kumpulan manusia juga. Bukan kertas kosong yang naik turun harganya begitu saja. Di balik secarik kertas saham, ada perusahaan yang beroperasi penuh. Cari tahulah. 

Seperti kata Peter Lynch. Investasi itu bukan ilmu pasti. Investasi itu seni. Kita tidak bisa menyewa komputer kemudian menghasilkan kekayaan darinya. 

Logika saja. Chart yang ditampilkan cuma 1. Tidak ada 2 versi chart. Kalau ada kebenaran mutlak di sana, mengapa ada ribuan keputusan yang terjadi. Ditambah kalau benar ada metode gampang untuk mengumpulkan kekayaan, orang-orang terkaya di dunia sudah berlomba-lomba melakukan penawaran untuk membeli sistem itu dan mengunci rapat-rapat di bawah tanah untuk dipakai sendiri. Benar tidak ya seperti itu logikanya?

Oh ya. Lebih logis lagi jika kalau benar sistem yang ditawarkan sedemikian hebat, seharusnya penciptanya menggunakannya sendiri dan mengunci rapat-rapat di bawah tanah. Atau daripada mempresentasikan kepada calon pembeli seharga 100 dollar, mengapa tidak mempresentasikan di depan bankir supaya mendapat pinjaman 100 milyar dollar. 

Investasi itu logis dan sederhana. Lakukan secara konsisten, maka kita akan mendapat hasilnya.

Akhir kata. Perusahaan bagus akan naik harganya. Perusahaan jelek akan turun harganya. Pada akhirnya, investor akan menerima apa yang diinvestasikannya.

@saham-indonesia

Saham Gorengan

SAHAM GORENGAN

“Katanya sih hindari, tapi apa iya saham ini ngga bisa kasih kesempatan sama sekali?”

Nah, posting hari ini sesuai dengan desas desus bergeraknya saham-saham grup Bakrie (BUMI, BRMS, ENRG, dll). Tahukah kamu kalau dulu saham-saham grup Bakrie termasuk dalam saham blue chip alias first liner tapi sekarang jadi kelompok saham gorengan?

Lalu, kalau saham gorengan… kata orang harusnya dihindari. Yap benar, saham gorengan identik dengan sifatnya yang bisa membuat seseorang jadi bangkrut mendadak. Tapi juga perlu dicatat bahwa saham gorengan tetap bisa membuat kaya mendadak. Jadi, kalau kita simpulkan kita tetap bisa mendapat keuntungan besar dari saham ini, dan di saat bersamaan modal kita bisa bablas karena kalah dari saham ini.

Faktanya, yang kalah dari saham gorengan jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah yang menang. Karena kalah itulah mereka menyebarkan ke orang lain kalau saham ini bahaya dan merugikan. Coba kalau mereka menang, ceritanya pasti lain.

Kisah saham grup Bakrie ini  sebenarnya cukup sedih ya, dari blue chip jadi gorengan. Terus bisa ngga saham gorengan ini balik jadi blue chip? Jawabannya bisa, banyak kok saham gorengan di tahun yang lalu dan sekarang harganya sudah tinggi.

Tapi fokus post hari ini bukan pada perubahan saham gorengan ke blue chip atau sebaliknya. Fokus kita adalah pada bagaimana cara aman main saham gorengan.

Berikut adalah tips berhadapan dengan saham gorengan dari Rumah Saham:

1. Volume adalah segalanya
Saham gorengan, disebut gorengan karena selama ini saham tersebut beku dan pada suatu hari saham tersebut tiba-tiba meledak naik seperti digoreng. Disebut beku karena volumenya hampir tidak ada alias hampir tidak ada transaksi. Jadi, kalau volumenya mendadak besar, sudah tahu kalau saham tersebut lagi digoreng.

2. Sangat erat dengan bandarmology
Bahwa kenaikan volume tadi adalah karena adanya bandar yang membeli dalam jumlah besar (massive buy). Jadi kalau kamu belajar bandarmology, pas banget nih. Ciri-ciri bandar ya begitu aja, beli banyak, nanti jual juga banyak. Bandar pada saat membeli saham itu jarang antri, langsung beli di harga offer, jualnya juga langsung jual ke harga bid.

3. Lot
Nah, penting nih. Kata orang pergerakan bandar hampir ngga bisa dibaca. Tapi dengan memperhatikan lot saham ,kita bisa sedikit membantah pernyataan itu. Melihat perubahan dan penambahan jumlah lot yang banyak adalah tanda kalau bandar masih mau menggoreng saham tersebut. Next time akan dibahas lebih dalam.

4. Mengungguli analisa teknikal
Tahukah kamu kenapa analis-analis jarang banget ngomongin saham gorengan? Ya, benar sekali! Karena ngga bisa dianalisa. Dari grafik pergerakannya flat. Fundamental mungki bagus, tapi sahamnya ngga bergerak. Atau yang paling parah kalau harga saham sudah di harga terbawah yaitu 50, apa yang mau dianalisa?

5. Ngga peduli dengan berita tentang perusahaan.
Sama dengan analisa teknikal tidak bisa membaca pergerakan saham gorengan, berita-berita tentang perusahaan juga ngga bisa dipakai untuk menjadi sentiment bagi saham (mungkin kadang bisa tapi chance-nya minim sekali). Berita bagus dan berita jelek tidak membawa pengaruh. Malah kadang harga saham naik di saat perusahaan tersebut sedang dihujani berita dan rumor jelek.

6. Permainan emosi
Udah sering kan lihat saham gorengan kalau lagi main, kemunculannya di layar running trade bikin “gatel” pengen ikutan. Di sinilah efek negatifnya saham gorengan, yaitu mempermainkan emosi kita sampai lupa dengan trading plan dan saham incaran.

Nah, kira-kira 6 ini adalah ciri-ciri dasar yang perlu diperhatikan dalam menghadapi saham gorengan. Harapannya posting ini bisa membantu kalian dengan memberi penerangan tentang seperti apa saham gorengan itu. Semoga bermanfaat dan sampai ketemu di post selanjutnya.

@rumahsaham


Lima cara berinvestasi spti Warren Buffet

Lima cara berinvestasi spti Warren Buffet

1. Membeli saham sama dengan membeli sebuah bisnisnya.

Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.

Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu risetlah fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan”, tuturnya.

Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way', ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.


2. Beli perusahaan yang menguntungkan

Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.

Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.

Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”

Catatan:

ROE = laba bersih/ekuitas
Margin laba = laba bersih/penjualan bersih
ROIC = (laba bersih-dividen)/total modal


3. Beli saham bagus di harga murah

Price is what you pay. Value is what you get. 
(Harga adalah apa yang Anda bayarkan, nilai adalah apa yang Anda dapatkan)

Jadi, belilah selalu saham yang harganya lebih murah daripada nilai sebenarnya. Ini prinsip utama Buffett yang ia pelajari dari guru favoritnya, Benjamin Graham. Caranya adalah cermat memperhatikan fluktuasi pasar dan memanfaatkannya. Ketika pasar serakah, Buffett cenderung menahan diri. Tapi sebaliknya, begitu pasar takut, ia mulai menebar jala berburu saham bagus tapi murah. Strategi kontrarian ini mudah diucapkan tapi pada kenyataannya sulit diterapkan. Sebab, lazim terjadi emosi dan kepanikan akan menyergap investor di tengah situasi buruk.


4. Berinvestasi jangka panjang

"Belilah hanya sesuatu yang Anda akan benar-benar senang dan tenang memegangnya jika pasar tutup selama 10 tahun.

Ketika membeli sebuah saham, Buffett berpatokan akan menyimpannya dalam jangka panjang bahkan seumur hidupnya. Ia menyimpan sejumlah saham yang tak pernah ia jual sampai sekarang seperti Coca-Cola, GEICO, dan Washington Post.


5. Economic Moat

Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.

Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G. (kontan)



Investasi adalah seni

Investasi adalah Seni

Investasi itu, walau semuanya adalah tentang angka, lebih berhasil jika kita menjalankannya seperti seni. 

Karena semua yang kita lakukan adalah bagaimana kita merasakannya. 

Contoh misalnya ketika saham incaran kita turun ke harga sekian. Kita akan berpikir apakah sekarang adalah harga yang pas untuk membeli atau harus menunggu lagi harga lebih turun. Bagaimana kalau jika kita tunggu ternyata harga malah makin naik lagi. Kalau kita masuk bagaimana kalau kemudian harga makin turun. 

Sama juga setelah membeli. Apa yang akan kita lakukan jika saham tersebut malah jalan di tempat dan saham incaran lainnya malah naik duluan. Apakah kita harus menjual yang pertama kemudian pindah ke yang lain? 

Pada titik jual juga sama, bagaimana kalau setelah kita jual sahamnya lanjut naik. Atau jika kita menahan lebih lama,  harga malah bergerak turun. Apakah kemudian kita harus menjual atau bertahan menunggu harga naik kembali. 

Pada akhirnya berinvestasi di bursa saham bukanlah kita berhadapan dengan angka, tapi adalah bagaimana kita menghadapi diri kita sendiri.  

Kita boleh saja membaca banyak buku untuk menambah kapasitas, seperti juga belajar mengendarai mobil atau memainkan musik, pada akhirnya kita akan bergantung pada apa yang kita rasakan.  

Tapi berlawanan dengan mengendarai mobil, biasanya jika kita melihat bahaya, kita harus langsung berhenti, di saham, jika harga bergerak turun, kita justru harus lebih waspada apakah ini adalah kesempatan atau bahaya. 

Alasan mengapa harus demikian adalah karena semua barang pasti ada nilainya. Ketika harga bergerak turun tapi kualitas tidak berkurang maka ini adalah kesempatan. Di sinilah pentingnya kita mengetahui apa yang kita beli. Kalau ternyata kualitasnya berkurang, maka ini adalah tanda bahayanya. Seperti ketika kita ke showroom mobil, mobil BMW seharga 100 juta jelas murah, tapi jika mesinnya sudah tidak ada? Itulah gunanya pengecekan terlebih dahulu.

Kemudian perbandingan harga. Mana yang lebih murah. BMW 100 juta atau Bemo 50 juta. Kondisi yang serupa dengan perbandingan di saham. Mana yang lebih murah. BUMI 50 atau BBRI 5.000. Walau BUMI mengalami kenaikan 30%, investor yang mengutamakan nilai seharusnya memilih BBRI. Alasannya, investor itu seharusnya menghindari risiko. Bukan mencari risiko. Karena itulah kita harus mengerti tentang risiko dan potensi di investasi. Di setiap kesuksesan model saham tidak jelas, ada ratusan kegagalan, dan repotnya, orang selalu berpikir saya yang satu, bukan yang ratusan. Memang kita tidak mendapatkan profit seperti di ANTM, INDY, INAF, BUMI, tapi karena prinsip yang sama juga, maka kita akan terhindar dari SIAP, BWPT, TAXI, TRAM, INVS, dan banyak lagi.

Dan sama seperti ketika berinteraksi dengan seni, investasi juga haruslah memberi ketenangan dan kebahagiaan. Apakah kita harus melihat harga saham naik turun setiap hari dan emosi kita diaduk-aduk atau bisa tenang mengerjakan hal lain. Pilihan ada di tangan kita. Mana lebih baik, 15 hari senang 350 hari stress, atau 365 hari tenang. Alasan mengapa bisa 365 hari tenang, karena kita bisa yakin dengan apa yang kita beli, jadi di mana letak kekuatirannya?

Karena itu, kita selalu ingin berinvestasi untuk masa depan kita, menjadi makmur, dan hiduplah bahagia. 

Dan terakhir, seperti tulisan di gambar, apa masa depan kita, sudah dibayangkan? Setelah itu, kejarlah. Jangan cuma bermimpi saja. (sahamindonesia)


Karakter Dasar Trading

Luangkan waktu 10 menit utk membaca dan meresapinya

Saya mau share hasil (tulis ulang) pengalaman dan observasi yg saya pelajari termasuk dr dua temen dekat yg berhasil di saham (dgn portfolio tembus Rp 1 triliun). Semoga apa yg saya rangkum ini dapat membantu di bisnis anda.

Ada 4 karakter dasar yg luar biasa dr temen2 saya yg berhasil.

1. GREAT COURAGE 
Keberanian luar biasa utk memeluk ketidakpastian atau risiko. Nekad tapi tdk gila krn sebelum memulai kita sdh membekali dgn ilmu yg cukup. (Sy sebut ilmu berenang, percuma baca buku teori 100 thn kl tdk berani cemplung ke air). Jd ini langkah kecil dr 1000 mil perjalanan. 

2. GREAT LOVE
Rasa suka yg luar biasa (punya passion atau roh dan jiwa) sampai serasa kita bermain dan bukan bekerja. Ini yg Saya sebut 无为 Wuwei (effortless / tanpa beban) seperti bersilat Taichi. Jd org tsb bs bekerja (serasa bermain/ tanpa usaha) sd malam tanpa merasa capek (exhausted). Berbeda dgn org yg hanya bekerja keras (berusaha) sj, besok pagi dia bs capek mental atau serasa berat bernafas. Ibarat anak kecil yg bermain piano krn suka (ada jiwanya) dan yg satu lg seperti robot (tdk ada jiwanya).
Anda tentu dgn JELAS dapat MEMBEDAKANNYA.

3. FOCUS
Krn yg dikerjakan ya itu2 saja tanpa bosan2, lama2 dia menjadi EXPERT (ahli). Jd utk menjadi kaya cukup 1 jurus....ini saja. Intuisinya makin  tajam. Jd kl ada yg bisnisnya lebih dr dua, kans utk sukses lebih minim.

4. WISDOM
Kebijakan utk bs melihat kesempatan dalam segala kondisi (saham, kurs, peluang bisnis dll) dan perubahan dunia yg tdk pasti dan tdk stabil. Anda hrs mengerti dunia saling bergantungan (Inter-dependence). 
Apa yg terjadi di tetangga jauh (terutama Amerika dan Cina) dapat berimbas ke kita. Dulu masalah sup-prime loan Amerika (padahal yg macet kredit mereka) tapi saham kita tiap hari jatuh amblas kebawah. Jd para fund manager waktu itu membuang saham negara berkembang yg belum jatuh (saling bergantungan). 

Sekarang FED mau menaikkan suku bunga dan Anda bs lihat semua saham berguguran terutama yg hutang US dollar (tapi bs berkah utk yg ekspor).

Disamping itu, Anda jg harus mengerti RELATIVITAS. Saham perusahaan yg P/E ratio kecil, hutang kecil, manajemen yg dapat dipercaya, pemilik majority yg masih kaya secara RELATIF lebih unggul dr yg sebaliknya. 

Jgn sekali2 beli saham yg pemiliknya sdh jatuh miskin!!! Bahaya, mereka yg masih kaya saja mau 'ciak' Anda apalagi yg sudah jatuh miskin.


Krn sdh mengalami stress tdk bs tidur melihat jatuh bangkitnya saham sekian tahun, pengetahuan timbul utk dapat melihat hakikat ketidakpastian / ketidak-stabilan atau kerapuhan dari semua kejadian (Saya pinjam istillah Buddhis 'Anicca' yg artinya rapuh, tidak pasti atau tidak stabil). Pengetahuan ini membawa ketentraman dan kejernihan dalam proses berpikir, menganalisa saham atau melihat peluang. Anda tidak berdebat lg dgn diri sendiri lg "mestinya begini atau seharusnya begitu (capek deh)". Jd damai walaupun masih rugi 😁

Pilihah saham (atau pilihlah bisnis) yg : 

1. PROBABILITY atau kans naik/berhasilnya 80/20 (80%naik n 20%turun). Kl bisnisnya anda SUKA dan NGERTI, kansnya menjadi 80:20. Dan, timing atau kesempatan masuk/ keluar yg tepat (kembali lg kita bicara kans 80:20). Apa yg bagus thn ini dan bs 'cuan', thn depan belum tentu. Tiga empat tahun lalu, batu bara adalah favorit, sekarang justru dijauhi krn siklus ekonomi (hakikat Anicca).

2. IMPACTnya besar (rezeki duren runtuh). Artinya saham yg bs naik dua tiga kali lipat atau bisnis yg membuat kita kaya sekali. 

Kebijakan lain yg SANGAT PENTING (khusus investor Saham) adalah TIDAK BOLEH percaya TAKHYUL (sep. mimpi2, gelas pecah, ramalan nasib dll). Pikiran sendiripun tdk boleh percaya tanpa terlebih dahulu diinvestigasi. Kl timbul kekhawatiran, mulailah investigasi dgn pertanyaan yg simpel "Apa ini bener ? Anda yakin secara absolut ini masuk akal ?". Anda akan tahu jawabannya. Pikiran yg sering takut (tanpa kita sadari) mempengaruhi kejernihan dlm berpikir. Jd perlu 'eling'. Tapi lama2 kita bs punya intuisi (keputusan yg kita ambil dgn spontan tanpa melalui proses berpikir), seperti naik sepeda atau lg nyetir.

Kebijakan utk belajar memperbaiki diri, mengambil pelajaran dari kesalahan org lain dan diri sendiri ini juga penting (Sharpen the saw). 

NOTHING OVERMUCHS. Margin yg berlebihan pada saat siklus ekonomi turun berbahaya. Margin dipakai waktu siklus industri/ekonomi menanjak(atau tidak gunakan margin sama sekali).

Nah yg paling susah adalah mencari atau ketemu (kebetulan atau Jodoh) MESIN PENCETAK UANG kita (utk sy di saham). Saya sendiri jg tdk tahu sebelumnya saya akan pensiun di umur 40 thn krn saham. Tapi saya jelas menggemari bidang ini, terbukti dr gelar kualifikasi CFA (Chartered Financial Analyst) -- Sy lulus tanpa beban ujian 3 level yg sekali ujian 6 jam). 

Semoga temen2 ketemu (Jodoh) dan trus menggali apa kekuatan diri kita yg dapat membuat kita BERSINAR dan mengubahnya menjadi mesin PENCETAK UANG.

We can SHINE together😃

Semoga bermanfaat.
//Jonni A, CFA

God bless you all🙏


Technical Analysis Terbaik

Mencari Indikator TA Terbaik

Jika anda memutuskan untuk mempelajari lebih dalam mengenai trading saham, maka cepat atau lambat anda pasti akan mendengar mengenai ilmu yang dinamakan Technical Analysis. Bagi anda yang pertama kali mempelajari mengenai technical analysis ilmu ini kemungkinan akan membuat anda tercengang, karena anda akan melihat betapa mudah dan sederhananya cara untuk memprediksi pergerakan harga saham.
Namun setelah anda mempraktekannya, anda akan menemukan menggunakan analisa technical dalam trading ternyata jauh lebih sulit daripada teorinya. 

Anda akan menemukan bahwa ada begitu banyak cara untuk menganalisa technical. Dan setelah beberapa lama mempelajari analisa ini umumnya akan muncul satu pertanyaan di benak anda yaitu :
Indikator Technical Analysis apakah yang paling akurat ?!

Kebingungan ini umumnya muncul karena ada sangat banyak buku, training, workshop, indicator, dan system trading yang ditawarkan di berbagai media untuk para trader-trader pemula, masing-masing menjanjikan keuntungan yang sangat besar, seakan-akan hal-hal tersebut akan memberitahukan kepada kita saham apa yang akan naik, dan saham apa yang akan turun, kapan harus beli dan kapan harus jual.
Jadi banyak orang yang mengira ketika dia menemukan “Indikator Terbaik” maka kekayaan dan kesuksesan akan mengalir dengan sendirinya ke portfolio mereka, namun faktanya lebih banyak trader yang bangkrut dalam proses pencarian “indicator terbaik” tersebut. 

Sebagai trader yang masih cukup baru di market (angkatan 2008) pertanyaan yang sama juga pernah muncul di kepala saya beberapa tahun yang lalu. Untuk menemukan jawabannya saya banyak membaca, mengikuti seminar, dll.

Selain itu saya juga banyak bertanya dan mencoba mencari tahu ciri-ciri para pemain saham yang sudah sukses di market, baik di Indonesia atau di dunia. Saya ingin tahu indicator apa yang mereka pakai, atau pola analisa apa yang mereka pakai. Melalui proses “tanya sana-sini” dan “baca sana-sini”, berikut ini adalah jawaban-jawaban yang paling banyak saya dapatkan dari orang-orang hebat tersebut mengenai pemakaian Technical Analysis.

Di peringkat pertama : Simple is The Best

Jawaban yang paling banyak saya dapat adalah, “simple is the best”, artinya cara analisa technical yang paling dasar dan paling sederhana adalah yang paling banyak dipakai oleh para pemain yang sukses di market. Umumnya sebagian dari mereka mengunakan Classical Technical Analysis, hanya menganalisa dengan menarik-narik garis dan membaca pattern technical. Tanpa menggunakan berbagai indicator atau system yang canggih.


Di peringkat kedua: Popular Technical Indicator  

Jawaban yang kedua paling banyak adalah para trader yang menggunakan Indicator-indicator yang paling sederhana dan paling popular yang ada di market. Bollinger Band, MACD, Stochastic dan RSI adalah 4 indicator yang paling banyak dipakai. Saya tidak pernah benar-benar buat voting yang terukur secara jitu, namun seingat saya MACD adalah indicator favorit, biasanya di-combine dengan salah satu dari Stochastic / RSI. Bollinger Band juga cukup popular dan sering dikombinasikan dengan ketiga indicator di atas.

Di peringkat ketiga: Membuat System Trading Sendiri

Jawaban ini mungkin adalah yang paling “merepotkan” karena untuk memiliki system trading sendiri dibutuhkan skill dan pembelajaran yang panjang mengenai pola pergerakan harga, dan kebiasaan-kebiasaan yang sering terulang di market, trader seperti ini umumnya sudah melewati ratusan jam dalam menganalisa  untuk membuat indicator yang paling sesuai dengan gaya tradingnya, dan yang paling dipercaya oleh trader yang bersangkutan.

Menariknya dari ketiga jawaban teratas tersebut jawaban membeli system trading A atau B tidak masuk dalam 3 peringkat teratas. Hal itu disebabkan karena salah satu kunci sukses dari trading adalah memiliki keyakinan akan cara analisa yang kita miliki, sehingga lebih mudah bagi kita untuk disiplin dengan strategi trading yang kita buat daripada yang dibuat orang lain.

Jika kita hanya membeli  system trading yang sudah jadi, sering kali system tersebut terlalu rumit dan tidak dimengerti sepenuhnya oleh pemakai, atau tidak sesuai dengan gaya trading pemakainya. Sementara gaya trading umumnya dibentuk dari pengalaman trading dan karakter si pengguna, jadi kesimpulannya :

“Tidak ada indicator yang terbaik untuk SEMUA TRADER, tapi tentunya ada indicator yang terbaik untuk MASING-MASING TRADER.”

Jadi saya percaya jika kita ingin serius menjadi trader di pasar modal, kita harus mencari gaya analisa atau indicator yang paling sesuai dengan gaya trading kita. Untuk mendapatkan jawaban tersebut kita bisa lalui dengan banyak membaca buku, untuk lebih mengerti dasar-dasar Technical Analysis, dan tentunya melalui pengalaman trading dari hari ke hari.

Jika anda ingin memakai Popular Technical Indicator seperti MACD, Bollinger Band, RSI, Stochastic, saya sangat menyarankan untuk anda membaca buku-buku yang membahas secara mendalam indicator-indicator  tersebut. Saya rasa tidak cukup hanya mengerti cara pakai indicator tersebut melalui workshop basic atau advanced technical analysis, kita harus mendalami sendiri indicator yang kita pakai. Ada beberapa buku yang saya rekomendasikan untuk anda baca :

Technical Analysis for Megaprofit (Edianto Ong), bagi anda yang belum pernah membaca buku TA apapun, buku ini membahas dasar-dasar TA dan ditulis dalam Bahasa Indonesia yang mudah untuk dipahami, buku ini bisa anda beli di hampir setiap toko buku besar di Indonesia.

Untuk belajar lebih dalam terutama untuk mempelajari keempat indikator populer yang dibahas di atas, anda bisa membaca buku :  John J Murphy – Tech Analysis Of The Financial Markets dan John Bollinger – Bollinger On Bollinger Band. Kedua buku ini ditulis dalam Bahasa Inggris, dan dianggap buku wajib baca bagi setiap technical anaylst.  Anda bisa mendapatkan ebook dari kedua buku di atas disini.

Dan jika anda ingin belajar membuat system trading sendiri, anda harus memiliki Software Technical Analysis seperti Metastock atau Amibroker, setelah itu anda bisa belajar dengan mencari tutorial di internet mengenai cara membuat indicator, system trading dll. Jika anda punya uang lebih anda bisa mengikuti workshop yang mengajarkan hal-hal tersebut. Atau tentunya jika uang anda berlebih anda bisa mencoba satu-satu system technical analysis yang dijual dan umumnya memiliki harga yang cukup tinggi, semoga saja ada yang cocok dengan gaya trading dan karakter anda.

Intinya proses pembelajaran dan penerapan Technical Analysis adalah perjalanan panjang yang dibentuk dengan pengalaman menggunakan indicator-indicator yang bersangkutan, masing-masing akan menemukan cara analisa yang paling sesuai untuk dirinya sendiri, yang didapat melalui pengalaman dan karakter masing-masing.

(creative-traderdotcom)