Kesalahan umum para investor:
1. Terlalu toleran terhadap kerugian-kerugian kecil. Perilaku bursa sangat spekulatif dan berisiko tinggi; semestinya investor pergi keluar bursa, saat kerugian belum terlalu besar. Tentukan batas kerugian yang dapat anda tanggung.
2. Membeli ketika harga “anjlok” akibatnya menyedihkan. Perhatikan laporan keuangan dan prospek bisnisnya.
3. Membeli ketika harga rata-rata turun. Average down dapat merepotkan portofolio anda.
4. Membeli saham murah dalam jumlah besar, padahal seharusnya membeli saham mahal dalam jumlah sedikit. Pilih perusahan berkapitalisasi besar dan kinerjanya bagus.
5. Ingin kaya mendadak. Berharap terlalu banyak dan terlalu cepat, tanpa persiapan yang memadai, pemahaman metode dan penguasaan ketrampilan dan disiplin adalah langkah awal kejatuhan.
6. Keputusan membeli berdasarkan tip, rumor, berita, kisah, rekomendasi para konsultan, opini ahli di media.
7. Memilih saham “kelas dua” berkat dividen atau rasio P/E
8. Tidak mau keluar setelah terbukti ada kesalahan dalam pemilihan sahamnya dan tidak tahu apa yang harus dipelajari dari perusahaan unggulan terbaik.
9. Membeli saham perusahaan berdasarkan merk yang telah terkenal.
10. Tidak mampu memilah mana informasi dan nasihat yang baik, mana yang buruk dan tidak mampu mengikuti yang baik-baik saja.
11. Tidak mau berpatokan pada grafik, dan takut pada saham yang harganya melonjak hingga posisi tertingginya yang baru.
12. Berusaha meraup keuntungan dengan prinsip: “Biar sedikit asal gampang” dari saham berkinerja buruk.
13. Terlalu takut pada komisi dan pajak.
14. Terlalu terpaku “kapan harus membeli” dan setelah pembelian dilakukan, tidak tahu “kapan” atau “dalam kondisi apa” saham itu harus dijual kembali.
15. Tidak tahu apa pentingnya membeli saham perusahaan unggulan, yang bagus sponsor institusionalnya, dan pentingnya penggunaan grafik terhadap proses seleksi dan penentuan waktu yang tepat (timing).
16. Terlalu berspekulasi pada opsi atau prospek tertentu demi peluang “cepat kaya”.
17. Jarang bertransaksi pada “posisi pasar”, lebih suka membatasi harga beli dan jual dalam order mereka.
18. Tidak mampu mengambil keputusan ketika keputusan tertentu harus diambil.
19. Tidak ada obyektifitas dalam memilih saham.
Senin, 07 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar