Rabu, 01 Maret 2017

Let the Profit Run


"Cut Your Loss quictly and let the profit run" :

Seorang trader sudah menjadi gejala umum kalau kita memegang beberapa macam saham dalam hal bertrading.

Misal ada yang pegang 5 macam saham bahkan ada juga yang memegang lebih dari 10 macam saham.

Semakin banyak pegang saham dalam tujuan untuk trading, semakin Anda akan susah mengelola portofolio Anda,

Oleh karena itu saya sarankan paling ideal adalah pegang saham 5 s/d 9 macam saham saja.

Apalagi jika Anda type seorang scalper, maka paling banyak adalah 2-3 saham saja.

Tentunya harapan kita memegang saham yang lebih dari 1 macam karena tertarik saham itu untuk naik dan memberikan keuntungan yang lebih banyak.

Namun sering terjadi, bahwa harapan itu terbalik dengan kenyataan, dimana saham yang kita beli justru turun dan menjadi rugi.

Maka inilah alasan saya kenapa jangan memegang saham terlalu banyak, maka akan pusing sendiri.

Nah pertanyaannya adalah bagaimana mengelola portofolio Anda jika saham yang anda pegang sebagian ada yang untung dan sebagian lagi ada yang rugi?

Sering kali terjadi adalah banyak Trader yang mengambil keputusan untuk menjual saham yang telah untung dan menahan saham yang masih rugi. apalagi dalam kondisi market berdarah-darah.

Alasannya adalah :

1. Saham yang masih untung untuk mengganti kerugian saham yang masih rugi.
2. Uang hasil penjualan dari saham yang untung untuk mengaverage down saham yang rugi.

Nah tindakan MENJUAL SAHAM YANG UNTUNG dan MENGAVERAGE DOWN saham yang rugi adalah tindakan yang SANGAT SALAH, karena :

1. Saham yang turun besar kemungkinan akan melanjutkan penurunannya.
2. Saham yang naik besar kemungkinan akan melanjutkan kenaikannya.
3. Saham naik ataupun turun punya alasannya masing-masing.
4. Saham yang naik pada umumnya mempunyai trend naik, sedangkan saham yang turun mempunyai trend yang turun.
5. Jangan membeli saham yang mempunyai Trend yang turun, apalagi mengaverage down.

Oleh karena itu, jika posisi saham kita ada yang rugi dan ada yang untung, maka ketika IHSG sedang terkoreksi, maka cara yang paling tepat adalah JUAL SAHAM ANDA YANG RUGI, dan belikan kepada saham anda YANG UNTUNG.

Dengan demikian maka manfaat yang Anda peroleh :

1. Anda telah menstop kerugian.
2. Anda mengalihkan saham yang bertrend turun kepada saham yang bertrend naik.
3. Kerugian Anda akan cepat terganti dengan penggantian posisi tsb.

Apalagi dalam keadaan Market berdarah-darah, justru strategi menjual saham yang rugi dan mengalihkan kepada saham yang untung adalah strategi untuk menukarkan saham Anda dari saham yang bertrend turun dengan saham yang bertrend naik.

Kesimpulan artikel ini adalah Juallah segera saham Rugi anda dengan segera dan biarkan saham untung anda untuk tetap naik.

Semoga tulisan/artikel ini membantu dan bermanfaat kepada para Trader Pemula.
By. Anggun Traider.

Jumat, 30 September 2016

Lo Kheng Hong: Saham ~ ATM


LO KHENG HONG : JADIKAN SAHAM SEPERTI ATM

Liputan Khusus Kontan 29 Agustus 2012. Sukses dan nama besar Warren Buffet di dunia investasi menuai kekaguman dari pemain saham di penjuru dunia. Tak sedikit investor yang menjadikan Buffet sebagai panutan, mempelajari strategi investasinya, dan menerapkannya. Di Indonesia, salah satu yang terinspirasi oleh Buffet adalah Lo Kheng Hong.
Pria berusia 53 tahun ini berpegang pada metode analisis fundamental Buffet. Ia tak bergeming dan tak pernah sekali pun mencoba jurus investasi saham lain.

Bagi Lo, Buffet adalah gurunya. Ia hafal di luar kepala banyak petuah Buffet, kisah hidup
sang maestro, bahkan menghormati prinsip hidupnya. Rupanya tak sia-sia Lo membaca puluhan buku ‘ajaran’ Buffet, ia menarik pelajaran dari situ dan hasilnya? Lo telah memetik keuntungan besar dari bursa saham.  Keuntungannya dari saham berlipat ribuan persen.

Nafkah hidupnya pun hanya berasal dari saham. Ia mengaku tak punya usaha atau pekerjaan apapun selain berinvestasi saham. Tak heran, pelaku bursa banyak menjuluki ayah dua orang anak ini sebagai Warren Buffet-nya Indonesia.

Simak kisah, pandangan hidup, dan strategi investasi Lo dari pengakuannya sendiri kepada KONTAN berikut.

Saya ini hanya seorang investor, 100% uang saya taruh di saham.
Jadi saya tidak bekerja dan saya tak punya kantor. Saya hanya punya satu sopir untuk mengantar-antar saya dan dua pembantu di rumah. Saya bangga jadi investor saham. Kalau ...>>>
mengisi formulir, misalnya di bank pun, saya selalu tulis profesi saya investor saham.

Saya ini sudah berinvestasi saham selama 23 tahun. Tentu saja tidak semua investasi saya berhasil, saya pernah jatuh. Saya juga tidak langsung pintar.

Semakin lama orang bermain saham, dia bisa belajar dari kesalahannya dan akan semakin terlatih.  Saya percaya, orang yang berhasil itu adalah orang yang jatuh tapi bangun lagi.

Pertama kali saya membeli saham tahun 1989. Berapa modal awal saya? Nol. Waktu itu saya masih karyawan Bank Ekonomi, jadi saya hanya menyisihkan sedikit demi sedikit dari gaji saya. Kalau orang lain membelanjakan penghasilannya untuk macam-macam, saya belanjakan sebagian gaji setiap bulan untuk membeli saham.

Saya ingat, di awal saya invest, saya mengantre untuk membeli saham penawaran perdana (IPO) PT Gajah Surya Multifinance. Antrenya panjang sekali. Saya semangat membeli, eh nggak tahunya begitu listing saham itu jeblok. Hahaha...

Tapi saya tetap yakin dan terus berinvestasi sampai akhirnya pendapatan dari saham bisa menghidupi saya. Ketika saya sudah merasa cukup, pada tahun 1996, saya berhenti dari Bank Ekonomi pada saat saya sudah jadi Kepala Cabang.

Ada empat alasan kenapa saya memilih menjadi investor saham.

Pertama, investor saham bisa menjadi orang terkaya di dunia. Contohnya? Ya, Warren Buffet. Saya belajar dari dia. Selama 10 tahun terakhir ini, saya sudah baca 40-an buku tentang Buffet. Buku itu tak hanya saya baca sekali, tapi saya ulangi dua tiga kali, benar-benar saya pahami isinya.

Kedua, keuntungan perusahaan itu hak si pemegang saham. Bayangkan, yang bekerja direksi dan karyawan, tapi begitu untung yang menerima pemegang saham. Enak kan? Membeli perusahaan yang untung besar itu seperti membeli mesin pencetak uang.

Ketiga, dalam jangka panjang imbal hasil saham lebih tinggi dari instrumen investasi lainnya, seperti obligasi, emas, dan properti.

Keempat, jadi investor itu waktu luangnya banyak. Anda tahu, di dunia ini ada empat macam manusia. Tipe pertama,  orang yang punya banyak waktu tapi tidak punya uang. Contohnya, orang pengangguran.
Tipe kedua,  yang punya banyak uang tapi tidak punya waktu. Yang ini biasanya para pengusaha. Lalu tiga, orang yang tidak punya waktu dan tidak punya banyak uang juga. Ini kebanyakan para pegawai yang bergaji kecil.
Tipe terakhir, orang yang punya waktu dan punya uang. Tipe terakhir inilah yang saya inginkan sebagai investor saham. Orang bilang, time is money. Buat saya tidak, waktu lebih berarti dari uang. Uang bisa dicari, tapi uang tidak bisa mengembalikan waktu.
Sekarang saya merasa punya banyak waktu. Saya bisa travelling menjelajahi berbagai kota di lima benua. Sekali saya pergi, tidak sebentar lho, saya bisa tinggal sampai sebulan di sana.
Tapi saya juga memanfaatkan waktu saya untuk membaca. Setiap pagi, bangun, lalu saya pergi ke taman, duduk membaca dan berpikir. Itu hobi saya. Laporan keuangan itu makanan sehari-hari. Saya juga berlangganan empat koran, tiga di antaranya koran bisnis termasuk KONTAN. Semuanya saya baca dari halaman satu sampai habis.

Sering saya baru mandi jam satu, kemudian keluar, kadang pergi ke sekuritas. Saya ini manusia gaptek. Saya tidak punya laptop, tidak mengerti apa itu email atau internet apalagi online trading. Jadi saya membeli saham selalu lewat telepon kepada beberapa sekuritas. Saya tidak takut kehilangan momentum meskipun membeli lewat telepon, kan saya bermain saham untuk jangka panjang.

Dalam berinvestasi, saya berusaha membeli perusahaan yang bagus di harga murah dan saya simpan.
Saya punya lima kriteria untuk membeli perusahaan publik.

Pertama, lihat manajemennya apakah dikelola orang yang jujur, profesional, berintegritas, dan saya kagumi. Jarang sekali orang membeli saham dengan melihat ini, biasanya orang hanya lihat laporan keuangan. Tapi bagi saya, kalau dalam properti itu ada istilah lokasi, lokasi, lokasi, dalam ekuiti itu harus manajemen, manajemen, manajemen.

Kedua, perhatikan usahanya. Di masa depan akan seperti apa bisnis itu? Memang, hari esok itu misteri. Tapi saya sendiri berpendapat, masa depan itu ditentukan juga dari masa lalu. Bagi perusahaan yang sudah memenuhi syarat pertama tadi, kita bisa lihat masa lalunya dalam jangka panjang misalnya 5-10 tahun ke belakang. Kalau itu untung, kemungkinan ke depan juga akan untung.

Ketiga, cari perusahaan yang labanya besar.  Hitung berapa besar profit margin-nya dan return on equity-nya (laba per saham).

Keempat, pilih perusahaan yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.

Kelima, cermati valuasi dari PER (price earning ratio) atau PBV (price to book value), bandingkan dengan kompetitornya. Belilah yang murah. Kesempatan emas untuk membeli saham bagus dengan harga murah tentu saja di tengah kondisi krisis. Saya selalu ikuti prinsip Buffet, be greedy when the others are fearful.
Dengan lima prinsip sederhana itu nyatanya saya berhasil.

Pada tahun 2005, saya membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI). Waktu itu harga perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia ini baru Rp 250 per saham. Saya kumpulkan pelan-pelan sahamnya sampai akhirnya punya 8,29% saham. Tahun lalu, harga sahamnya sudah mencapai Rp 31.500, jadi naik 12.600%. Keuntungan itu saya realisasikan. Saham itu saya jual karena dia akan merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).
Saya juga pernah punya saham PT Timah Tbk (TINS). Saya beli di tahun 2002 seharga Rp 285. Dalam dua tahun harganya naik ke Rp 2.900. Saya jual, tapi setelah saya lepas, dia terbang lebih tinggi lagi. Waktu itu ilmu memang belum tinggi. Begitu harga saham naik banyak, saya gemetar.
Menyesalkah saya? Begini, kalau investor saham tidak bijak, maka seluruh hidupnya akan berisi penyesalan. Jual sekarang, besok harga lebih tinggi lagi. Tahan, enggak tahunya harga turun terus.

Selain dua saham itu, saya pernah mendapat keuntungan cukup besar dari PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphan Tbk (CPIN), PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).

Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham maksimal 4%. Tidak banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya juga merotasinya. Kalau ketemu satu perusahaan bagus, maka saya cari mana di portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu juga.

Saya juga pernah rugi.
Saya pernah rugi karena margin. Makanya sejak tahun 1998 saya enggak pernah memakai fasilitas margin lagi.
Saya sekarang bebas utang. Pernah dengar kisah Jesse Livermore? Dia salah satu investor yang sangat sukses di jaman dulu. Dari tukang tulis papan bursa dia investasi saham dan jadi investor besar. Tapi dia berutang dan akhirnya ketika investasinya gagal, dia bunuh diri.

Saya tidak mau seperti itu. Kalau tidak punya utang, meskipun saham saya hancur, saya tidak apa-apa. Saya masih punya saham itu yang ke depan juga bisa naik lagi.
Karena itu, meskipun harga saham jatuh dan uang saya tinggal 15%, saya tetap membeli saham. Tentu saja istri tidak tahu...ha ha ha. Saya membeli saham United Tractors (UNTR), saham bagus yang harganya sudah murah sekali. Waktu itu pernah jatuh sampai Rp 125, tapi saya baru masuk di Rp 250. Padahal, laba operasi per sahamnya sudah 7.800.
Saya belikan semua sisa uang saya untuk satu saham itu. Dan benar, UNTR naik terus. Pada tahun 2004, saya akhirnya jual. Waktu itu harga UNTR Rp 1.350, tapi ini harga sesudah stock split. Kalau dihitung itu kira-kira setara Rp 15.000, jadi saya untung sekitar 6.000%.

Saya ini tidak sama dengan investor saham umumnya.
Saya tidak suka mengejar dividen. Menurut saya, lebih baik saya investasi pada perusahaan yang menggunakan devidennya sebagai modal kerja. Itu akan lebih memberi saya keuntungan.
Saya juga tidak mengejar saham-saham IPO. Dari pengalaman, kalau kita beli saham IPO, ketika sahamnya naik ternyata kita cuma dikasih beberapa lot saja. Tapi kalau jeblok, seringnya kita pesan berapa pun dikasih.

Saat ini, saya melihat IHSG bagus, sudah di atas 4.000 di kondisi krisis seperti ini.

Tapi bukan berarti semuanya mahal. Makanya investor harus melakukan pekerjaan rumahnya, risetlah mana yang masih murah. Saya sendiri sekarang memiliki saham di sektor perbankan, consumer goods, peternakan, sawit, bahkan batubara.
Sejauh ini, saya masih bermain saham di bursa dalam negeri. Tapi bulan depan saya rencananya akan pergi ke Yunani. Saya akan mendalami bursa di sana, pasti banyak saham bagus yang harganya murah. Ini kesempatan.
Terakhir, saran saya bagi investor sekarang: kerjakan PR.

Berapa banyak dari investor yang masih baca laporan keuangan? Berapa yang melakukan analisis fundamental? Membeli saham perusahaan tanpa melihat lima hal dasar yang saya sebut tadi itu dan hanya melihat chart menurut saya tidak benar, keliru, dan menyesatkan. Investor harus tahu apa yang dia beli.

Main saham itu juga bukan perkara hoki. Tuhan itu maha pengampun, tapi bursa saham tidak punya belas kasihan pada orang yang tidak tahu apa yang dia beli.

Kamis, 11 Agustus 2016

Investasi itu membosankan

Artikel menarik ... Dari ketukan jari ibu Linda

Investasi itu Membosankan 

Demikianlah ucapan salah satu praktisi investasi saham. Kami mengenal beliau sejak 2 tahun lalu, dan sampai sekarang saham di portofolio dia tidak berubah banyak. Bahkan bisa dihitung dengan sebelah jari. UNVR, BBRI, BBCA, BMRI, dan BSDE. Barulah akhir-akhir ini ada penambahan AISA, GJTL, ROTI, LPCK. Tetap tidak lebih banyak dari jari di tangan. Ini yang dia miliki sekarang dan sebelumnya. Jadi sahamnya bolak balik ini saja. 

Apa ga bosan? Itu pertanyaan banyak orang. Apa bisa cuan? Bukankah idaman semua investor, bisa cuan 20% dalam sehari atau sebulan. Kalau model saham seperti di atas, ya paling cuma 20% dalam setahun. Terlalu lambat. Demikian alasan 90% investor. Dan sepertinya, inilah yang membedakan antara investor yang profit dan yang rugi.

Karena kita tidak sabar, maka kita berusaha bekerja keras mencari saham yang bisa memberikan gain paling cepat dan besar. Padahal investasi itu sendiri adalah bagaimana membuat uang bekerja untuk kita, bukan kita bekerja untuk uang. Dan karena tidak sabar, kadang kita membuang saham yang berpotensi naik hanya untuk mengejar saham lain. 

Memupuk kekayaan bukan dengan cara ini. Haruslah dimulai dari nol dan selangkah demi selangkah. Kecuali kita punya kepintaran seperti Mark Zuckerberg. Bahkan Peter Lynch dan Warren Buffet saja cuma mengincar 20% per tahun. 

Alasan utama adalah karena untuk mengamankan dana investasi kita. Karena target investasi adalah untuk jangka panjang. Seperti bisnis lainnya, butuh beberapa tahun hanya untuk balik modal, atas dasar apa kita berharap besok atau minggu depan sudah profit. Dengan fokus ke perusahaan yang sudah teruji, maka dana kita sendiri juga aman. Dan tiap tahun akan bertumbuh. 

Jangan sampai kesalahan terjadi di awal. Karena sekali salah, akan susah untuk diperbaiki. Baik dari kebiasaan maupun mengejar profit. Contoh, kita mau cepat kaya, makanya mengejar saham yang bisa memberikan hasil cepat. Tapi karena biasanya di awal kita kurang ilmu, maka kita akan terjebak lose. Setelah lose, kita akan kalap membeli saham lain hanya untuk menutupi lose. Karena faktor emosi sudah bermain, hampir dipastikan kita tidak akan selamat mencapai tujuan kita berinvestasi. 

Ini sama seperti mengendarai mobil. Apakah bijak jika ketika hari pertama mulai mengendarai mobil, kita langsung memakai mobil balap Formula 1 hanya demi mencapai tujuan? Rasanya kita akan berakhir di rumah sakit alih-alih mencapai garis finish. 

Dan investasi itu sendiri membosankan. Kita cuma melakukan analisa, memahami bagaimana perusahaan dan saham ini bergerak ke depannya, membeli dan menunggu hingga analisa kita terbukti benar. Mau memakai cheerleader atau ancaman bom, saham tetap akan bergerak sesuai kondisi pasar. Kita hanya perlu menunggu semuanya terjadi. 

Kalau kita merasa semangat sampai melompat-lompat hanya karena pergerakan saham, patut ditanyakan, kita sedang berada di bursa saham atau di kasino. Dalam investasi, emosi tidak pernah berperan penting. Karena semuanya murni hitungan bisnis. Tapi menariknya, hanya ketika terjadinya perubahan emosi karena fear dan greed, maka kesempatan bisa muncul. Apakah kesempatan membeli atau menjual. 

Tugas kita hanyalah mengerjakan PR. Menganalisa apakah saham ini sudah murah atau mahal. Apa hal positif dan negatif ke depannya yang mungkin merubah rencana kita. 

Apakah kita melibatkan emosi ketika mengerjakan PR? Silakan dijawab masing-masing.

Sabtu, 30 Juli 2016

John Murphy - Teknikal Analisis

10 Aturan dalam Teknikal Analisis ala John Murphy

Untuk anda para trader yang menfokuskan diri pada teknikal analisis untuk megambil keputusan transaksi,dipastikan mengenal sosok John Murphy. Untuk anda yang belum mengenalnya, John Murphy adalah penulis, kolumnis serta pembicara tentang analisa teknikal. Sepuluh Aturan dalam teknikal trading – adalah kumpulan rekomendasi yang paling sering diberikan oleh John Murphy kepada orang-orang yang baru dalam dunia teknikal analisis. Susunan aturan ini didasarkan pada pertanyaan dan komentar yang diterimanya selama bertahun-tahun setelah berbicara kepada berbagai jenis peserta. Jika anda bingung bagaimana cara menggunakan teknikal analisis dalam praktek anda, saran ini mungkin dapat membantu anda.

Kemana pasar akan bergerak? Seberapa jauh harga naik atau turun akan terus berlangsung? dan kapan dia akan berbalik arah? Inilah pondasi dasar yang menjadi perhatian utama oleh para analis teknikal. Di balik grafik dan rumus matematika (indicator) yang digunakan analis, mengidentifikasi trend adalah hal yang paling utama dalam teknikal analisis sampai saat ini.

10 hukum dasar teknikal trading ini dirangkum dan dikembangkan oleh john Murphy berdasarkan pengalamannya selama 30 tahun selama menjadi analis maupun pembicara. Aturan ini dirancang untuk membantu para pemula memahami secara garis besar (inti) dari teknikal analisis dan merampingkan metodologi trading untuk para analis yang lebih berpengalaman.

John Murphy lebih mengutamakan arah pergerakan harga ataupun trend ketimbang mencari tahu alasan kenapa trend itu terjadi. Jadi untuk anda yang menerapkan teknikal analisis untuk bertarung dalam market, pola pikir dan sudut pandang John Murphy akan sangat membantu anda.

trend_range

1. Memetakan Trend
Pelajarilah Chart Jangka Panjang. Mulailah menganalisa chart dengan Timeframe Monthly dan Weekly yang mencakup data beberapa tahun. Peta Market skala besar (Timeframe besar) lebih mudah digunakan untuk menentukan perpektif pasar jangka panjang. Ini berguna untuk menemukan tanda-tanda trend pergerakan harga saat ini. jika trend jangka panjang sudah anda temukan, selanjutnya lihatlah arah pergerakan harga pada timeframe yang lebih pendek, yaitu daily chart. Perspektif chart jangka pendek biasanya dapat menipu anda (false signal). Anda sebaiknya menggunakan trend jangka menengah maupun jangka panjang sebagai acuan utama. Walaupun anda melakukan trading jangka pendek, atau bahkan sangat pendek, Akan Lebih anda membuka posisi sesuai arah trend jangka menengah maupun jangka panjang

2. Temukan arah trend dan ikutilah trend tersebut.
Tentukan arah trend dan ikutilah arah trend. trend pasar terdiri dalam berbagai ukuran – jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Pertama-tama tentukanlah pilihan anda untuk melakukan trading (long,medium, atau short) dan gunakanlah grafik (timeframe) yang sesuai dengan pilihan anda. Selanjutnya anda hanya perlu memastikan diri anda bertransaksi searah dengan trend. ambilah posisi buy jika trend up, dan sell saat trend down. Jika anda memilih untuk trading pada trend menengah, gunakanlah chart daily dan chart weekly. Jika anda memilih menjadi intraday trader, gunakanlah minimal chart daily dan chart dengan timeframe di bawahnya. Akan tetapi anda lebih baik menentukan trend jangka panjang dan mengambil posisi pada timeframe yang lebih kecil.

support-resistance-role-reversal-in-uptrend

3. Temukan Level Harga Tertinggi dan Terendah. (support dan Resistance)

Carilah level support dan resistance. Tempat terbaik untuk mengambil posisi buy adalah saat harga berada dekat dengan level support terakhir. Dan begitu juga sebaliknya, tempat terbaik untuk mengambil posisi sell adalah saat harga berada dekat dengan level resistance terakhir. Jika level resistance telah ditembus oleh harga, maka selanjtunya support terakhir yang digunakan adalah level resistance tersebut. Begitu juga berlaku saat level support tertembus oleh harga. Maka level support itu menjadi level resistance terakhir yang digunakan di masa depan. Dengan kata lain. High (level resistance) yang lama telah menjadi new low (level support).

retracement
4. Seberapa jauh harga akan bergerak dan berbalik
Ukurlah persentasi retracement atau koreksi. Retracement atau koreksi di dalam pasar yang sedang naik atau turun biasanya ditinjau dari trend pasar sebelumnya. Anda dapat mengukur koreksi dalam trend yang ada dalam presentasi sederhana. Retracement 50% (dari trend) adalah angka yang paling umum. Namun John Murphy menjelaskan bahwa sebuah Retracement minimum biasanya adalah sepertiga dari trend sebelumnya, dan retracement maksimum biasanya adalah dua pertiga. Dalam angka Fibonacci, Murphy menyarankan angak 39% dan 61.8% layak untuk ditunggu.

Linechart_Trendlines

5. Tariklah garis pada level penting
Menggambar Trendline adalah salah satu alat charting paling sederhana dan paling efektif. Yang anda butuhkan hanyalah dua titik support, maupun resistance dalam chart. Pada trend up garis ditarik pada dua titik low price berturut-turut yang sedang menaik / meninggi. Sebaliknya pada trend down. Garis ditarik pada dua titik high price yang menurun / semakin rendah. Harga akan sering menguji level-level garis tersebut jika sedang melanjutkan trend. dan jika garis ini ditembus oleh harga, itu merupakan tanda-tanda perubahan trend. sebuah garis trend yang valid harus disentuh setidaknya tiga kali. Semakin lama garis trend itu valid dan diuji, maka garis itu semakin penting.

6A

6. Ikuti garis moving average (harga rata-rata)
Moving average adalah garis yang terdiri dari hasil perhitungan harga rata-rata dalam chart anda. Moving average menyediakan tanda-tanda untuk melakukan buy dan sell secara objektif. Indikator ini memberikan informasi kepada anda jika trend masih bergerak rally sekaligus membantu anda mengetahui tanda-tanda konfirmasi saat trend berbalik arah. mungkin moving average tidak memberikan sinyal kepada anda secara cepat, namun dua moving average adalah cara paling populer untuk mendapatkan sinyal perdagangan. Beberapa trader mungkin menggunakan kombinasi 4 dan 9 MA. 9 dan 18 serta 5 dan 20 dalam chart daily. Sinyal diberikan saat MA yang lebih pendek melintasi MA yang lebih panjang. Ini bekerja baik dalam pasar yang sedang trend.

9191-Overbought-&-Oversold-Conditions-for-MCD

7. Pelajarilah tanda-tanda pembalikan arah.
Gunakanlah Oscillator untuk membantu mengidentifikasi apakah pasar sudah overbought atau oversold. Jika sebelumnya MA memberikan konfirmasi tentang pembalikan atau kelanjutan trend, oscillator sering membantu anda secara khusus untuk mengetahui pasar akan melanjutkan trend atau akan berbalik arah. Oscillator paling populer adalah RSI dan Stochastic Oscilator. Dua indikator ini terdiri dari data 0 sampai 100. Dengan RSI, saat garis melebihi angka 70 memberikan informasi overbought, dan dibawah nilai 30 berarti oversold. Nilai overbought dan oversold pada stochastic adalah 80 dan 20. Pada umumnya para trader menggunakan jangka waktu 14 hari ataupun 14 minggu. Dan pada stochastic, mereka menggunakan 9 hari ataupun 14 hari. Selain titik jenuh, oscillator juga menyediakan divergensi yang memperingatkan arah tujuan pasar. Oscillator sangat bekerja baik pada pasar sideway. Sinyal pada chart mingguan dapat digunakan pada sinyal harian. Sinyal harian dapat memberikan filter untuk chart intraday h4 maupun h1.

MACD

8. Mengetahui tanda-tanda perubahan trend

Perdagangan indikator MACD. Moving Average Convergence Divergence (MACD) indikator (yang dikembangkan oleh Gerald Appel) menggabungkan sistem moving average yang crossover dengan / elemen oversold overbought dari oscillator. sinyal buy ditunjukkan ketika garis Slow MA (MA 12) menyilang ke atas atas garis Fast MA (MA 26) dan kedua berada di bawah nol. sinyal sell terjadi ketika garis Slow MA menyilang ke bawah garis Fast MA dari atas garis nol. Diprioritaskan sinyal dmingguan daripada sinyal harian. Histogram memiliki plot yang sedikit berbeda dari sinyal garis ma. Divergensi histogram dapat memberikan sinyal yang lebih awal, namun tetap dikonfirmasi oleh MA. perubahan trend juga dapat dilihat dengan divergensi histogram MACD dengan pergerakan harga.

xao_dms_adx

9. Trend atau Bukan Trend

Gunakan indikator ADX. The Average Directional Movement Index (ADX) adalah indicator yang digunakan untuk menentukan apakah pasar berada dalam fase trend atau fase sideway. Untuk mengukur tingkat kecenderungan atau kekuatan trend pasar. Saat garis ADX naik berarti menunjukkan adanya penguatan trend. Sebuah garis ADX yang turun menunjukkan adanya pelemahan trend. Dengan memplot arah garis ADX, trader dapat menentukan trading style dan memilih seperangkat indikator yang paling cocok untuk keadaan pasar saat ini.

canvol-2-fdxexam

10. Mengetahui sinyal konfimasi
Janganlah abaikan volume. Volume adalah indiKator yang sangat penting untuk mengkonfirmasi transaksi. Hal yang terpenting adalah memastikan volume sinkron dengan arah trend yang berlaku. Semakin besar volume berarti semakin kuat trend yang sedang terjadi. Penurunan volume menandakan bahwa trend tersebut hampir selesai atau pelemahan trend sedang terjadi. (sayangnya volume dalam instrument Forex sangat terbatas kevalidan datanya. Volume sangat berperan dalam pasar saham)

Dan tambahan yang sangat penting sebagai angka kesebelas (diambil dari nasehat John Murphy sendiri)

“11.”
KEEP ON IT. Teknikal analisis adalah skill yang berkembang dari pengalaman dan belajar. Tetaplah menjadi murid dan terus belajar.

Minggu, 24 Juli 2016

Trader sukses


3 Skill yang Membedakan Trader Sukses dengan Trader Gagal

Dalam kamus bahasa Indonesia, istilah Trader memiliki arti pedagang. Jadi dengan kata lain jika kita menyebut diri kita trader saham berarti kita adalah seorang pedagang saham, yang membedakan kita dari pedagang sayur, pedagang beras, pedagang handphone sampai pedagang mobil hanyalah barang dagangannya saja.

Pada  awalnya kita mungkin merasa berdagang saham berbeda dengan berdagang barang lainnya, namun setelah lama digeluti umumnya kita akan menyadari bahwa ada begitu banyak kesamaan antara menjadi trader saham dengan menjadi pedagang-pedagang lainnya

Karena adanya begitu banyak persamaan, maka umumnya kunci-kunci sukses untuk menjadi pedagang saham kurang lebih sama dengan menjadi pedagang biasa . Dalam artikel ini kami akan membahas mengenai beberapa persamaan tersebut dan bagaimana menggunakan prinsip-prinsip kesuksesan dalam berdagang untuk mempercepat kesuksesan kita dalam trading saham.

Beberapa Prinsip dalam berdagang :

Membeli barang di harga tertentu, dan menjualnya di harga yang lebih tinggi
Sebagai pedagang kita tidak perlu terlalu peduli akan harga beli barang dagangan kita, selama kita cukup yakin kalau barang dagangan yang dibeli bisa laku di jual di harga yang lebih tinggi, maka itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk menjadi alasan kita untuk membeli barang tertentu.

Pedagang bukanlah ekonom atau analis, yang pekerjaannya memprediksi harga 'seharusnya' suatu barang, dan sibuk beropini bahwa harga suatu barang saat ini kemahalan atau kemurahan. Pedagang hanya membeli untuk dijual lagi, selama proses itu bisa berjalan lancar, maka pedagang seharusnya sudah cukup bahagia.

Namun kemampuan menjual barang di harga lebih tinggi tidak cukup untuk menjadikan kita pedagang yang sukses. Karena hampir semua pedagang berhasil melakukan hal tersebut, baik mereka yang sukses maupun pedagang-pedagang kaki lima yang sepanjang hidupnya melakukan hal tersebut, namun tidak pernah berhasil mengembangkan usahanya.

Beberapa hal yang membedakan pedagang sukses dengan pedagang yang di situ-situ saja adalah :

KEMAMPUAN MEMPREDIKSI BARANG YANG SEDANG LAKU, DAN YANG AKAN LAKU DI MASA YANG AKAN DATANG

Salah satu skill yang dimiliki pleh pedagang sukses adalah kemampuan mengetahui barang apa yang sedang laku saat ini, atau yang akan laku di masa yang akan datang. Kemampuan melihat  kondisi aktual dan mengindentifikasi  trend yang sedang berlangsung saat ini, atau kecenderungan perubahan trend yang akan berlansung di masa yang akan datang.

Seorang pedagang elektronik umumnya akan memenuhi gudangnya dengan Televisi Flat Screen menjelang pelaksanaan turnamen sepak bola besar seperti Piala Eropa, karena mereka mengetahui dalam ajang sepak bola seperti Piala Eropa akan ada banyak orang yang ingin mengganti TV di rumahnya dengan TV keluaran terbaru.

Begitu juga dengan trader saham, kemampuan memprediksi sektor apa yang sedang 'laku' di market adalah salah satu skill yang dapat membantu kita dalam trading, karena di pasar saham selalu terjadi rotasi sektoral, bisa saja bulan ini saham-saham Property yang sedang 'laku' (harganya naik), namun bulan depan bisa saja berubah ke saham-saham komoditas, sementara harga-harga saham property bergerak turun.

KEMAMPUAN MENGELOLA INVENTORY

Pengelolan inventory dari barang dagangan yang kita miliki juga merupakan faktor sangat penting untuk mencapai kesuksesan dalam trading. Kemampuan ini umumnya yang membedakan pedagang sukses dan pedagang yang biasa saja.

Trader sukses adalah trader yang ahli dalam mengelola modal yang dimilikinya, jika mereka melihat ada satu barang dagangan yang menarik untuk dibeli mereka tahu seberapa banyak uang yang harus dialokasikan dalam membeli dagangan tersebut.

Mereka juga tahu kapan harus memiliki banyak jenis barang dagangan, kapan harus memfokuskan seluruh dana yang dimilikinya untuk membeli satu jenis barang dagangan saja. Bukan hanya itu seorang trader sukses mengetahui kapan waktunya mereka sebaiknya 'keluar dari market' dan memegang cash saja sambil menunggu datangnya kesempatan, di sisi lain jika datang suatu kesempatan yang besar dan langka, mereka juga tidak ragu-ragu untuk meminjam uang ke pihak lain untuk memaksimalkan hasil dari peluang yang ada.

Terakhir mereka juga memahami pentingnya 'membuang' barang-barang yang sudah tidak berpotensi memberikan keuntungan dan hanya menghabiskan tempat di gudang, untuk barang-barang tersebut mereka tidak ragu untuk menjual di harga diskon, supaya modalnya bisa digunakan untuk barang yang lebih laku dan berpotensi memberikan keuntungan di masa yang akan datang.

KESIMPULAN

Menjadi trader saham dan pedagang memiliki sangat banyak persamaan, jadi tidak ada salahnya kita menggunakan prinsip-prinsip di atas dalam trading kita. Ironisnya banyak pedagang yang sukses berdagang, namun mengalami kesulitan ketika menjadi Trader Saham karena tidak menggunakan prinsip yang mereka gunakan untuk sukses berdagang dalam proses tradingnya sehari-hari

(Line Creative Trader)

Jumat, 22 Juli 2016

Jumlah saham di portofolio

Berapa Jumlah Saham Yang Ideal Di Portofolio?

Tanya :
Bpk X : Min, berapa jumlah saham yg ideal untuk dimiliki?
Saya punya 30 jenis saham.

Jawab :
Dari Buku Fit Focus Finish.
Bab 16. Berapa jumlah kepemilikan reksadana saham yang ideal?

Kalau di saham, kira2 pertanyaannya adalah, berapa jumlah kepemilikan saham yang ideal?

Ini berhubungan dengan risk manajemen. Punya 1 saham saja, kalau salah 1, maka habislah porto kita. Punya 2 saham, salah 1, maka impas. Dstnya. Pertanyaannya, sampai berapa sahamkah risk manajemen ini akan maksimal?

Data yang digunakan adalah LQ45 dr 2008 s/d 2013. 

Risiko dari memiliki
1 saham : 90%
2 saham : 65%
3 saham : 60%
4 saham : 55%
5 saham : 50%
6 saham : 45%
7 saham : 42.5%
8 saham : 40%
9 saham : 39%
10 saham : 38%
11 saham : 37%
12 saham : 36%
20 saham : 30%
25 saham : 27.5%
30 saham : 25%

Terlihat bahwa ketika memiliki 7-8 saham, pengurangan risiko sudah melambat. 

Dari buku luar yang membahas investasi juga hampir sama. Rata-rata menyarankan 7-15 saham. 

Tapi lihat juga modal kita. Kalau hanya punya 10 juta, tidak logis membeli 15 saham utk manajemen risiko.

Long Keng Hong  : "Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham maksimal 4%. Tidak banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya juga merotasinya. Kalau ketemu satu perusahaan bagus, maka saya cari mana di portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu juga".

Dari buku 42 Aturan Investasi yang Nyaman :

Aturan #23 Berhati-hati akan diversifikasi berlebihan.

Memiliki terlalu banyak saham di portofolio anda tidak membantu mengurangi resiko dan dapat menyebabkan kesulitan.

- Diversifikasi adalah alat penting untuk mengurangi resiko portofolo. Tapi ada batasannya, dan penggunaan berlebihan akan berakibat buruk.

- Mari kita lihat diversifikasi dari sisi pengetahuan. Karena diversifikasi adalah manajemen resiko, dan resiko bisa digambarkan melalui model matematika. 

- Standar deviasi adalah ukuran batas yang diharapkan dari sebuah nilai rata-rata. Standar deviasi S&P 500 untuk 100 tahun adalah 19% dan rata-rata hasil adalah 10%.

- Jadi di setiap tahun berjalan, ada kemungkinan 66% hasil S&P berada di range rata2 plus minus standar deviasinya, yaitu antara -9% s/d 29%.

- Sekarang mari kita lihat standar deviasi portofolio. Asumsikan rata-rata hasil invest adalah 10%. Cek buku You can be as Stock Market Genius karangan Joel Greenblatt untuk metode perhitungannya.

- Jika ada 2 saham di portofolio, maka SD adalah 37% dan hasil invest anda di kisaran -27% s/d 47%.

- Dengan 6 saham, SD turun menjadi 26%, dan hasil di antara -16% s/d 36%.

- Untuk 10 saham, hasil di antara -13% s/d 33%. Untuk 20 saham, menjadi -11% s/d 31%.

- Menarik melihat ini. Hanya berinvestasi di 10-20 saham saja, sudah tidak jauh berbeda dengan berinvestasi di index itu sendiri. Karena itu Dow yang hanya berisi 30 saham tidak berbeda jauh hasilnya dengan S&P 500 (500 saham) dan index Wilshire 5000 (5000 saham). 

- Range hasil juga lumayan lebar, dari terendah ke tertinggi, selisih 40%, jadi tidak ada gunanya memegang lebih banyak saham lagi.

- Ada 2 salah pengertian tentang diversifikasi. Yang pertama, anda tidak perlu ratusan saham untuk diversifikasi. Yang kedua, menambah saham lebih dari 20 saham, tidak berpengaruh banyak ke hasil investasi anda.

- Hal lain adalah, diversifikasi membantu anda mengurangi resiko "non market", yaitu resiko pada saham-saham tertentu. "Market risk" sendiri, yaitu resiko pasar investasi, sama saja bahkan jika anda memegang 5000 saham di portofolio.

- Pelajaran yang bisa diambil, berinvestasi di 7-15 saham adalah cukup. Menambah lebih banyak menimbulkan beberapa masalah. 

- Masalah pertama, semakin banyak yang diambil, semakin susah menemukan perusahaan terbaik yang layak diinvestasikan.

- Masalah kedua, semakin susah untuk memantau portofolio.

- Dan masalah ketiga, bahkan ada satu saham yang untung besar, hanya akan berefek sedikit ke portofolio anda.

- Ini adalah masalah standar bagi industri reksadana yang harus berinvestasi ke ratusan perusahaan karena ukuran dana kelolaan mereka (aturan #7). 

- Masalah over diversifikasi sering disebut "deworsification", dan anda tidak perlu mengikuti aturan reksadana sehingga bisa menghindari "deworsification".

Jadi, berapa jumlah saham di portofolio anda?

Akhirnya, semua itu tergantung jumlah modal dan diversifikasi resiko.(@saham-indonesia)


Daewoo's Channel
Tlgrm.me/DaewooChannel

Senin, 11 Juli 2016

Petani Saham

Dalam aktifitas saham di BEI saya suka menganggap diri saya seorang PETANI.

Prinsip saya dlm bertani: 

1. Petani harus menanam. Kl tdk menanam maka tdk ada tuaian. Petani saham harus membeli saham agar bs memperoleh profit.

2. Perhatikan cuaca yg tepat utk menanam. Kebijakan ekonomi, politik, dan hukum pemerintah serta perkembangan ekonomi global dan lokal sangat signifikan mempengaruhi pertumbuhan saham. 

3. Pemilihan bibit tanaman: berkualitas baik dan sesuai dg cuaca/musim tanam. Belilah saham dg fundamental yg baik dan ditanam sesuai dg musimnya. Jgn asal beli tp kenali saham itu dg baik. Tool sangat menolong kita utk memilih benih.

4. Sabar menunggu saat panen.. Msg2 tanaman butuh wkt utk mghasilkan.. Sabar menunggu saham memberikan profit. Jgn buru2 dpt profit. Jgn suka cut loss. Beri wkt pd saham utk bertumbuh. ORANG SABAR DISAYANG BANDAR. Kita ga mungkin mengalahkan bandar, tp kl sabar bandar baik sama kita.

5. Teruslah belajar bgm bertani yg baik. BELAJAR SAHAM TIDAK PERNAH TAMAT. Petani saham harus rendah hati utk belajar pd siapa saja. Ikutlah training darvasian. Kl sekali belum ok, ikut terus smp ok.. Namanya belajar ya hrs keluar biaya. TK aja bayar, apalg "sekolah saham" 😉